Membangun Komunikasi Cerdas dengan Siswa

spot_img

RADARSEMARANG.COM – BERAWAL dari permasalahan siswa yang kurang paham terhadap materi yang disampaikan guru. Mengapa mereka kurang paham? Apakah materinya terlalu sulit? Ataukah cara penyampaian guru yang kurang pas? Apalagi pelajaran seperti yang penulis ampu, yaitu ekonomi akuntansi yang menurut sebagian besar siswa termasuk kategori sulit. Sudah materinya sulit ditambah gurunya galak, killer, dan  jarang tersenyum akan membuat siswa semakin enggan untuk mengikuti pelajaran dan membuat siswa ill feel terhadap guru.

Dalam pembelajaran,  pengetahuan yang diajarkan sama pentingnya dengan cara memberikan pelajaran itu sendiri. Sebaik apapun ilmu pengetahuan yang akan diajarkan, jika cara menyampaikan pelajaran tidak menarik, maka semua akan sia-sia.

Cara menyampaikan pelajaran adalah cara guru berkomunikasi dengan siswanya. Keterampilan interpersonal dan komunikasi dalam mempresentasikan materi pelajaran di kelas sangat menentukan suksesnya proses pembelajaran. Seorang guru harus menyadari betapa pentingnya keterampilan komunikasi dalam proses pembelajaran seperti halnya menyadari bahwa siswa itu memiliki berbagai tingkat kekuatan dan kelemahan. Melalui keterampilan  komunikasi guru dapat memperkenalkan solusi kreatif dan efektif untuk masalah-masalah siswa.

Menjadi guru yang komunikatif dan kreatif itu tidak mudah. Butuh perjuangan, pengorbanan, penghayatan, dan keikhlasan hati. Selain itu juga dibutuhkan kiat-kiat khusus untuk membangun komunikasi cerdas. Berdasarkan pengalaman penulis, mata pelajaran yang sulit jika disampaikan dengan baik, sistematis, dan komunikatif akan mudah dipahami siswa.

Baca juga:   Meningkatkan Kompetensi Guru dalam Berbahasa Inggris

Beberapa kiat cerdas berkomunikasi yang bisa dilakukan oleh guru untuk membuat siswa merasa nyaman dalam mengikuti pelajaran. Kiat pertama, pada awal-awal pembelajaran guru membuat kontrak belajar (learning contrack) dengan siswa. Isi kontrak belajar sederhana, yakni harapan mereka terhadap materi pelajaran dan terhadap guru,  apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan guru, serta komitmen mereka selama mengikuti pelajaran. Tujuannya adalah untuk membangun jembatan ketulusan dengan siswa dan saling terbuka.

Kiat kedua, menggunakan bahasa motivasi. Bahasa motivasi bisa berupa respon positif. Respon guru terhadap perkembangan anak didiknya merupakan hal yang teramat penting. Guru harus bisa memberikan respon positif terhadap siswa dan hasil karya siswanya. Misalnya dengan menggunakan kata-kata pujian “kamu memang pandai”, “anak pintar”, “luar biasa’, “top markotop”, “bagus”, “sip”, “wow oke banget”, “keren”atau dengan kata-kata “kamu pasti bisa”.  Dengan respon positif akan tumbuh antusiasme dan ketertarikan siswa akan materi tersebut. Ini penting untuk menghapus rasa takut terhadap mata pelajaran tertentu yang dianggap sulit.

Kiat ketiga menggunakan bahasa tubuh (body language) yang efektif. Kepribadian seseorang bisa dilihat dari bahasa tubuhnya. Bahasa tubuh yang baik menunjukkan orang tersebut memiliki kecakapan, daya tarik, dan suasana hati yang positif. Bahasa tubuh dapat menunjukkan ekspresi diri. Bagi guru ini penting untuk menunjukkan ekspresinya kepada siswanya. Gerakan jari jempol di atas memberi kesan memuji sebaliknya jari jempol ke bawah terkesan merendahkan, sorot mata yang tajam menunjukkan ketidaksukaan, anggukan kepala tanda setuju, dan tepukan di bahu memberi kesan menguatkan. Dengan bahasa tubuh siswa dapat menilai kepribadian guru karena bahasa tubuhlah yang pertama diamati siswa.

Baca juga:   Pembelajaran Menyenangkan pada Materi Interaksi Manusia dan Ruang dengan Google Map

Kiat keempat menggunakan humor. Guru yang memiliki selera humor (sense of humor) yang baik dapat menghangatkan suasana sehingga kelas menjadi terasa lebih hidup. Selain itu humor bisa menjaga kesehatan fisik dan mental guru karena dapat menghilangkan stres. Guru yang humoris lebih disukai siswa karena mereka merasa senang dan rileks. Dalam kaitannya dengan pelajaran, guru yang komunikatif menggunakan humor untuk menjalin relasi sosial karena akan lebih mudah berkomunikasi dengan para siswa. Suatu kepuasan tersendiri bagi penulis apabila bisa membuat siswa tersenyum dan tertawa sehingga siswa tidak tegang dalam menerima pelajaran.

Membangun komunikasi cerdas bisa dilakukan dengan banyak cara yang pada akhirnya akan terbangun jaringan hubungan yang baik, saling menguntungkan dan menguatkan. Yang perlu digaris bawahi bahwa tidak ada satu pun metode pembelajaran yang efektif jika tidak ada komunikasi yang baik antara guru dan siswa. (kpig1/aro)

Guru MA NU 01 Limpung Batang

Author

Populer

Lainnya