Membangun Generasi Tahu Diri Lewat Kegiatan Orientasi

spot_img

RADARSEMARANG.COM – Membentuk karakter siswa dapat dilakukan dengan beragam strategi. Kegiatan orientasi atau pengenalan menjadi langkah awal dalam masa penyesuaian siswa baru. Dalam masa orientasi siswa dikenalkan dengan berbagai situasi dan kondisi yang baru dijumpai, dengan harapan mereka memperoleh pemahaman terkait keberadaannya di lingkungan yang baru.

Pada umumnya sekolah akan memperkenalkan berbagai macam ekstrakurikuler yang dapat dipilih sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki, kegiatan pembelajaran yang akan diterima, termasuk pula pengenalan lingkungan dan sosial yang mendukung kegiatan pembelajaran nantinya. Pengenalan lingkungan bisa dikemas dengan berbagai kegiatan seperti field trip ataupun kunjungan industri untuk memberikan wawasan tambahan.

Selain orientasi atau pengenalan yang bersifat memandang ‘dunia luar’, orientasi diri juga sangat diperlukan bagi siswa. Para siswa perlu diajak untuk lebih mengenali dirinya sendiri sehingga mereka memperoleh pemahaman diri yang baik. Hal ini meliputi apa saja potensi dan daya dukung yang dimilliki serta hal-hal yang mungkin menjadi penghambat dalam pencapaian harapannya.

Selain menjadi alasan pemilihan peminatan, mengenali bakat dan minat dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler. Kecocokan antara hobi, bakat dan minat dengan bidang yang dipilih dapat menjadi pengantar dalam meraih kesuksesan. Ketika seseorang meraih suatu keberhasilan sesuai dengan harapan yang dicita-citakan menambah keyakinan dan kepercayaan dirinya.

Baca juga:   Belajar Daring Menyenangkan dan Bermakna

Daya dukung dari keluarga berpengaruh terhadap pengembangan diri selanjutnya, baik secara moral maupun finansial. Motivasi yang intens dari orang tua dapat menambah antusias siswa dalam menjalani berbagai proses berikutnya. Dukungan dari segi ekonomi memudahkan akses dalam penyaluran minat dan hobi. Hal inilah yang perlu penekanan untuk dipahami oleh siswa sebagai anak.

Pemahaman bahwa kondisi ekonomi orang tua tidak selalu sama dengan orang lain, juga ada kalanya tidak selalu dalam kondisi baik. Perlu dipahamkan juga ke anak untuk menahan diri dari setiap keinginan yang mungkin muncul. Juga perlu dilatihkan perlunya bersabar untuk memperoleh apa yang diinginkan. Dengan demikian anak memiliki pemahaman yang baik sehingga tidak selalu memaksakan kemauannya pada orang tua.

Sungguh memprihatinkan bila dijumpai siswa yang enggan dan akhirnya tidak mau ke sekolah karena permintaannya tidak dituruti orang tua. Mereka memaksakan kemauannya tanpa memperhatikan kondisi keuangan orangtuanya, entah untuk membeli kendaraan, gadget, atau sekadar untuk hang out bersama teman-temannya. Ini menandakan bahwa mereka tidak mengenali diri dan lingkungannya.

Dari segi ekonomi, akan lebih indah jika mereka memiliki pemahaman diri yang baik. Memahami kondisi dan keberadaannya saat ini. Misalnya, seorang siswa dari kalangan ekonomi yang berkecukupan dan sekarang bergabung dengan teman-teman yang tidak semuanya dari kalangan mampu, namun dia dapat menahan diri dari kepongahan. Demikian pula dengan siswa dari ekonomi menengah ke bawah, tidak menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan yang membuatnya merasa wajar dan benar jika ketinggalan secara akademik maupun prestasi lainnya.

Baca juga:   Model PBL untuk Mengaktifkan Siswa pada Pembelajaran Barisan dan Deret

Kegiatan orientasi ini menjadi momentum yang baik bagi guru BK untuk memulai pemberian layanan pada siswa dalam meningkatkan pemahaman para siswa. Layanan dasar dengan fungsi pemahaman baik secara kelompok atau klasikal. Layanan dasar bimbingan diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada semua siswa (for all) melalui kegiatan-kegiatan secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka membantu perkembangan dirinya secara optimal. Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu siswa agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Tujuan layanan dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu siswa agar memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama). Berbekal pemahaman tersebut diharapkan mereka dapat mengarahkan dirinya secara mandiri untuk terus berkembang dan mencapai aktualisasi diri yang diharapkan. (tj3/2)

Guru BK SMK Negeri 7 Semarang

Author

Populer

Lainnya