33 C
Semarang
Jumat, 10 Juli 2020

Mahasiswa Mark-up Pendapatan Ortu

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM, SOLO – Tidak sedikit mahasiswa baru yang diterima lewat jalur seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) Universitas Sebelas Maret (UNS) merasa gengsi memberikan data valid terkait penghasilan orang tua (ortu)-nya. Itu karena pendapatan ortu dinilai kecil.

Mereka kemudian mengakali dengan menggelembungkan penghasilan orang tua saat mengisi data formulir uang kuliah tunggal (UKT). Padahal, nominal UKT disesuaikan dengan pendapatan orang tua. Ketika memiliki penghasilan besar, maka nominal UKT juga tinggi.

Dampaknya, sekitar 400 mahasiswa baru meminta keringanan atau sanggahan terhadap besaran UKT Uang Kuliah Tunggal (UKT). Dari jumlah tersebut, sekitar 75 persen di antaranya dikabulkan pihak UNS dengan menyesuaikan nominal UKT dengan penghasilan orang tua.

“Yang kami kabulkan itu sekitar 75 persen dan sisanya kami tolak. Nah, yang 25 persen yang kami tolak itu bahkan ada yang penghasilan orang tuanya Rp 20 juta per bulan tapi masih mengajukan keberatan,” kata Ketua seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) UNS Sutarno kemarin (21/7).

Apa alasan mahasiswa baru mengajukan sanggahan UKT? Sutarno mengatakan, data penghasilan orang tua yang dicantumkan anak tidak tepat, sehingga banyak orang tua mengubah data pada formulir UKT.

Mahasiswa baru tersebut menggelembungkan penghasilan orang tua, lanjut Sutarno, karena merasa malu mencamtumkan pendapatan asli orang tuanya karena dinilai rendah.

“Yang paling sering terjadi itu pas ngisi data penghasilan orang tua si anak ini malu, kemudian diisi Rp 10 juta misalnya, ketika keluar besaran UKT yang harus dibayarkan, baru mereka keberatan karena ternyata penghasilan orang tuanya hanya Rp 3 juta misalnya,” terang Sutarno.

Sementara itu, di antara mahasiswa baru yang dikabulkan permohonan sanggahan UKT-nya, ada yang benar-benar orang tidak mampu. “Yang orang tuanya hanya berpenghasilan antara Rp 1,1 juta sampai Rp 1,5 juta per bulan juga ada, maka kami pasti kabulkan penyesuaian UKTnya,” bebernya.

Pihak kampus mengusahakan agar mahasiswa yang orang tuanya berpenghasilan rendah agar bisa mendapatkan beasiswa. “Kalau masih bisa ke Bidik Misi, ya kami arahkan ke situ, atau ke beasiswa lain yang ada di UNS ini,” ujarnya. (aya/wa)

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Periksa Gratis

PERIKSA GRATIS: Ibu Atiqoh beserta putrinya usai pemeriksaan Pap Smear di laboratorium Cito, Kota Semarang, kemarin(21/4). Di Peringatan Hari Kartini Klinik Laboratoium Cito mengadakan pemeriksaan gratis Pap Smear untuk 1500 Perempuan...

Tunggakan PKB Empat Kecamatan Capai 16 Milliar

UNGARAN–Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) di empat kecamatan di Kabupaten Semarang, terbilang sangat tinggi. Mulai 1 Januari 2017 hingga 31 Agustus 2017 se-Kabupaten Semarang,...

Mind Mapping, Model Pembelajaran yang Menyenangkan

BAHASA Jawa bisa menjadi bahasa asing di daerahnya sendiri. Anak-anak sekarang lebih suka menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris dalam berbicara. Mereka kurang familiar...

Balapan Liar Dibubarkan

TEMANGGUNG--Puluhan pembalap liar di Jalan Raya Kranggan – Pringsurat kabur tunggang langgang begitu melihat kedatangan petugas dari Polsek Kranggan akhir pekan lalu. Aktivitas balap...

53.141 KK Terima Bantuan Beras

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Sebanyak 531.410 Kg beras untuk 53.141 Kepala Keluarga (KK) mulai dibagiakn di Kabupaten Batang. Hal tersebut dintandai dengan peluncuran secara resmi...

Jokowi: Uang KIP Jangan untuk Beli Pulsa

MAGELANG - Sebanyak 1.083 siswa SD, SMP, SMA dan SMK di wilayah Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo dan Boyolali mendapat Kartu Indonesia...