Bima Bungkus sebagai Media Tontonan dan Tuntunan

spot_img

RADARSEMARANG.COM – MASA remaja adalah masa yang paling menyenangkan, begitu banyak orang mengatakan. Masa ini adalah masa peralihan dari anak-anak menuju masa dewasa. Jiwa mereka pada kondisi labil, mudah terpengaruh situasi dan kondisi. Mereka dihadapkan pada perubahan-perubahan baru yang acapkali membuat bimbang, baper, emosi melonjak dsb. Terjadi krisis pencarian identitas diri sehingga bila tidak memiliki tameng yang tangguh, akan terjerumus dalam berbagai persoalan.

Persoalan yang sering timbul pada masa remaja dalah ketidakmampuan dalam memanajemen waktu mereka. Di satu sisi ingin mendapatkan pengakuan keberadaannya, tetapi di sisi lain mereka tidak mampu menunjukkan eksistensinya. Banyak remaja tidak bisa membagi waktu antara belajar dengan bermain, sehingga tertinggal pelajaran.

Ketidakpedulian orang tua juga menjadi penyebabnya. Gadget menjadi teman setia selama 24 jam sehari, demam selfie menjadi hobi. Kegemaran berselancar di dunia maya akhirnya dapat menjerumuskan ke perilaku seks menyimpang, tawuran antar pelajar bahkan kecanduan obat terlarang. Inilah akhirnya yang membawa krisis moral pada remaja yang tentunya berakibat krisis keimanan.

Kisah Bima Bungkus

Bima Bungkus adalah satu satu lakon cerita wayang. Kisah ini menceritakan negara Astina yang sedang gundah karena Dewi Kunthi melahirkan anak yang berwujud bungkus. Hal tersebut membuat gempar kerajaan, kemudian beraneka ragam senjata digunakan untuk memecah bayi bungkus tersebut tetapi tak ada hasil sama sekali.

Baca juga:   Metode Repetition Tingkatkan Kemampuan Menulis Siswa

Akhirnya atas petunjuk Begawan Abiyasa, bayi bungkus tersebut dihadapkan pada gajah Sena, putra Begawan yang berwujud gajah. Dan ketika itu masuklah Batara Uma ke dalam bungkus, yang kemudian merias dengan pakaian khas kain bang bintulu, kuku pancanaka dan gelang candrakirana. Tak berselang lama Gajah Sena kemudian menyeruduk dan menginjak-injak bayi bungkus. Pecahlah dan lahirlah Bima, putra kedua dari Dewi Kunthi. Kelahiran Bima menjadi kekuatan Pandawa.

Pitutur Luhur Bima Bungkus

Pesan simbolik yang dapat kita tanamkan bagi anak didik kita melalui kisah ini adalah bahwa apabila ingin mendapatkan inti pengetahuan sejati terkadang harus menempuh ujian fisik dan mental sangat berat, perlu ketajaman pikiran dan pemahaman permasalahan secara mendalam. Ini tersirat pada saat Bima akan lahir ke dunia mengalami banyak rintangan. Ini mengajarkan kepada anak didik kita bahwa untuk menggapai cita-cita diperlukan perjuangan dan pengorbanan, pengendalian diri dari segala nafsu yang menggoda.

Selanjutnya sebelum pecah bungkusnya, Bima telah dimasuki oleh Batara Uma ke dalam tubuhnya dengan memberikan pakaian dan senjata. Ini diartikan sebagai wujud doa orang tua kepada anaknya ketika dalam kandungan. Doa orang tua sangat penting bagi tumbuhnya akhlak dan budi pekerti anak. Dengan doa inilah anak hidup kuat, bisa meninggalkan perilaku buruk, mampu berkarya bagi diri sendiri, keluarga maupun negara. Ini merupakan manunggaling kawula-Gusti, menyatunya manusia dengan penciptanya, Sang Hyang Tunggal.

Baca juga:   Menghitung Bilangan Bulat Asyik dengan Media Karet Gelang

Wayang memang bisa menjadi salah satu media penanaman budi pekerti dalam pembelajaran Bahasa Jawa. Sekolah sebagai lembaga tempat menimba beragam ilmu pengetahuan tentu banyak berperan dalam membentuk perilaku siswa. Salah satunya adalah nilai-nilai karakter dalam budaya Jawa. Banyak amanat dari cerita wayang yang bisa dipetik, karena selain mengandung tuntunan (suri tauladan), wayang juga bisa menjadi tontonan atau hiburan. (tj3/2)

Guru SMK Negeri 3 Purworejo

Author

Populer

Lainnya