Targetkan SD Terapkan K13 Secara Menyeluruh

258
BUDAYA MEMBACA : Salah satu penerapan kurikulum K13 di SD 1 Garung Wonosobo, untuk menumbuhkan membaca, anak-anak dibiasakan membaca bersama 15 menit sebelum masuk kelas. (ISTIMEWA)
BUDAYA MEMBACA : Salah satu penerapan kurikulum K13 di SD 1 Garung Wonosobo, untuk menumbuhkan membaca, anak-anak dibiasakan membaca bersama 15 menit sebelum masuk kelas. (ISTIMEWA)
Musofa (ISTIMEWA)
Musofa (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO – Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo terus bekerja keras agar semua sekolah tingkat dasar di Wonosobo menerapkan kebijakan Kurikulum 2013 atau biasa disingkat K13. Targetnya, tahun ini semua sekolah, terutama SD, sudah menerapkan K13.

Menurut Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo Musofa, penerapan perubahan kurikulum menuju K13 dilakukan secara bertahap. Karena membutuhkan persiapan tenaga pendidikan yang matang maupun sarana dan prasatana yang diberikan. “Tahun ini, targetnya Penyelesaian Satuan Pendidikan 2013 karena kami melihat beberapa sekolah belum melaksanakan K13,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kedu, kemarin (19/7).

Musofa menyebutkan, saat ini, semua sekolah tingkat pertama alias SMP sudah berhasil menerapkan K13. Sedangkan untuk pendidikan SD belum semuanya. Untuk itu, secara bertahap tahun ini semua SD bisa menerapkan K13.

Dikatakan dia, penerapan kurikulum 2013 menargetkan mutu pendidikan meningkat dengan pendekatan pengajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek. Sebagai contoh, guru dalam mengajar tidak hanya ceramah, namun juga mengajak siswa berdiskusi memecahkan suatu masalah sebagai objek ilmu.

“Jadi guru tidak hanya ceramah kemudian anak mendengarkan, namun anak diajak berdiskusi aktif agar kemampuan berpikirnya tumbuh, karena harus menumbuhkan karakter dan budaya literasi siswa,” katanya.

Kendala dalam penerapan K13 saat ini, kata Musofa, masih terdapat beberapa sekolah yang memiliki sedikit sarana referensi buku bacaan. Sehingga pemenuhan penumbuhan kesadaran literasi belum bisa maksimal. “Kami akan dorong program ini, sehingga kesadaran membaca anak tumbuh. Maka orang tua wali harus terlibat dalam partisipasi penambahan literasi,” katanya.

Peran serta orang tua wali sangat berpengaruh dalam peningkatan kurikulum ini. Dia memberikan salah satu contoh sekolah yang sudah menerapkan budaya literasi. Setiap pagi sebelum masuk sekolah, selama 15 menit, siswa diajak untuk membaca buku yang disukai. Setelah itu, salah satu siswa secara bergantian menceritakan isi buku yang dibaca. “Metode ini mendorong anak untuk berani mengungkapkan pendapat,” katanya.

Bahkan budaya literasi ini tidak harus di kelas, siswa bisa membaca di halaman sekolah. Dampaknya anak menyukai membaca. Salah satu contoh di SD 1 Kecamatan Garung, peran orang tua juga optimal, karena ikut memikirkan kebutuhan literasi di sekolah. “Buku yang dibaca tidak harus buku pelajaran, namun buku yang memberikan pemahaman terhadap kehidupan siswa,” katanya.

Membaca tidak melulu membaca teks buku, namun juga membaca grafis serta membaca lingkungan. Sehingga guru dituntut kreatif merumuskan studi kasus yang bisa menjadi bahan diskusi siswa, bisa tentang lingkungan atau tentang kehidupan sosial. “Jadi guru bisa menyiapkan materai sebagai bahan diskusi siswa. Siswa belajar memecahkan masalah,” katanya.

Penerapan K 13 ini berdampak baik terhadap siswa. Dia mencontohkan, sebelum ini ada salah satu sekolah menerapkan K13, kemudian mau kembali ke kurikulum lama. Namun setelah kembali, malah diprotes siswa. “Siswa minta dikembalikan ke K13 karena menurut mereka suasa pendidikan lebih menyenangkan,” jelasnya. (cr1/ali/adv)