33 C
Semarang
Rabu, 12 Agustus 2020

Mana Bisa Ada Trump dan Ing-wen

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Oleh: Dahlan Iskan

Aneh. Tiba-tiba dingin. Tidak ada lagi perang kata dan opini. Menyesalkah? Bahwa perang dagang antara Amerika dengan Tiongkok ini hanya akan merugikan keduanya? Dan merugikan negara lain?

Sudah seminggu ini media di Tiongkok seperti disiram alkohol. Tidak ada lagi judul-judul yang menjelekkan Amerika. Tidak ada opini yang mengejek Donald Trump. Tidak ada karikatur yang menyindir presiden Amerika itu.

Padahal biasanya tidak begitu.

Ternyata ketahuan: pemerintah Tiongkok melarang media di sana berbuat begitu.

Di Tiongkok, media adalah corong pemerintah. Atau terompet partai.

Artinya: cooling downnya media di Tiongkok mencerminkan sikap pemerintahnya.

Di pihak Amerika juga senada. Presiden Trump seperti sedang kriyep-kriyep. Rupanya ia juga menghendaki hal yang sama. Ia tidak lagi mengeluarkan kata-kata kasar. Yang ditujukan ke Tiongkok.

Bahkan pemerintahnya mulai mengeluarkan keterangan menyejukkan: kemungkinan akan ada pengecualian. Terhadap barang-barang tertentu dari Tiongkok. Yang dikenakan bea masuk tinggi: 25 persen.

Bahkan perusahaan telkom Tiongkok, ZTE, sudah dibolehkan jalan lagi. Boleh mengimpor semikonduktor dari Amerika lagi. Meski dengan dalih malu-malu: untuk sementara.

Adakah semua itu pertanda-pertanda? Perang dagang segera berakhir? Tapi bagaimana mengakhirinya? Kan sudah terlanjur seru?

Bagi Tiongkok itu mudah: tinggal komando. Sistem pemerinrahannya top down.
Bagi Amerika mudah-mudah-sulit. Atau sulit-sulit-mudah.
Sulitnya: medianya tidak bisa dikontrol. Dan legislatifnya terbelah.

Mudahnya: Trump sudah biasa tempe-kedelai.

Dampak baiknya langsung terasa. Bursa saham Shanghai mulai berhenti meluncur turun. Mata uang Yuan sudah ragu-ragu untuk terus melemah.

Tesla sudah terlanjur menaikkan harga mobilnya: 20 persen. Untuk pasar Tiongkok. Yang sebenarnya sudah mulai laris. Naiknya bea masuk membuat Tesla menyiapkan jari: untuk digigit.

Suasana baru yang tiba-tiba dingin ini masih seperti malaria. Belum sepenuhnya bisa dipegang. Suasananya masih detente: ‘perang dalam dingin’.

Tapi lumayan. Daripada membayangkan eskalasi: dari perang dagang ke perang senjata. Dengan pemicu: Taiwan.

Amerika sempat melakukan –menurut istilah Tiongkok– provokasi: tiga kapal perangnya sengaja melintasi selat sensitif. Antara Tiongkok dan Taiwan.

Bagi Tiongkok, Taiwan itu harga mati: salah satu propinsinya. Tapi Amerika seperti sengaja memainkan kartu Taiwan ini.

Mumpung presiden Taiwan saat ini, Tsai Ing-wen, ingin merdeka sepenuhnya –diam-diam.

Presiden Taiwan yang lalu sangat pro-gabung-Tiongkok.
Tapi presiden yang sekarang  punya ideologi sendiri. Dia memang keturunan Haiwan –suku asli Taiwan.

Dari jalur neneknya, Tsai Ing-wen memang suku Haiwan. Sedang dari darah kakeknya adalah suku Hakka.

Baru kali inilah ada presiden wanita di Taiwan. Bujangan. Umur 54 tahun. Anak bungsu dari 11 bersaudara-tiri: ayahnya punya empat istri.

Pendidikannya hukum: S1 di Stanford Amerika. Doktor hukumnya di London School of Economics.

Suku Haiwan kini minoritas di Taiwan: tinggal 17 persen. Sisanya pendatang dari Tiongkok daratan. Terutama para pelarian. Saat Partai Nasionalis Komintang pimpinan Chiang Kai Shek  kalah. Dalam sebuah perang sipil. Melawan Partai Komunisnya Mao Zedong. Di tahun 1949.

Kapal perang Amerika itu sungguh sempat mengkhawatirkan. Siapa tahu Tiongkok tidak lulus ujian kesabaran.

Dulu orang Tionghoa sedunia begitu yakin: tidak akan ada perang di selat itu. Terlalu banyak orang Taiwan yang berbisnis di Tiongkok: lima juta orang.

Perusahaan Taiwan di daratan: 50.000 zhuo. (Di Tiongkok satuan perusahaan bukan ‘buah’ tapi ‘zhuo’)

Tidak disangka bahwa kelak, di tahun 2017, Amerika punya presiden bernama Donald Trump. Dan Taiwan punya presiden wanita bernama Tsai Ing-wen.

Dua nama yang tidak bisa disinonimkan dengan kestabilan dunia. (dis)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Masyarakat Diminta Aktif Awasi DD

UNGARAN – Masyarakat Kabupaten Semarang diminta untuk ikut mengawasi penggunaan Dana Desa (DD). Berkaca dari kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi...

Mahasiswa Upgris Kunjungi Radar Semarang

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Sebanyak 45 mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas PGRI Semarang (Upgris) berkunjung ke kantor redaksi Jawa Pos Radar Semarang,...

14.560 Orang Belum Rekam KTP-el

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG – Perekaman kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el) yang dilakukan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Temanggung sangat membantu suksesnya gelaran Pemilihan...

Jalan Wilayah Perbatasan Kini Mulus

SEMARANG- Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang kini tengah fokus meningkatkan infrastruktur wilayah pinggiran atau penyanggah. Seperti di wilayah Kudu Waringinjajar, Kecamatan Genuk, yang...

Tak Ingin Ada Black Campaign

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Panitia Pengawas (Panwas) memang meloloskan tiga pelaku kasus selebaran gelap yang menyerang Calon Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo di Pasar Karoban, Kecamatan...

Kampung Literasi Desa Bandungrejo Jadi Magnet Pembaca

DEMAK- Kampung literasi di Desa Bandungrejo, Kecamatan Mranggen, menjadi contoh pengembangan minat baca masyarakat. Kampung literasi yang diresmikan Bupati Demak HM Natsir ini memiliki...