33 C
Semarang
Senin, 13 Juli 2020

21 Pasangan Diarak Bendi Sebelum Ijab

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sebanyak 21 pasangan mengikuti nikah masal di lapangan olahraga Kejati Jateng, Selasa (17/7). Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan  menyambut Hari Bhakti Adhyaksa (HBA) ke-58 dan Hari Ulang Tahun (HUT) XVIII Ikatan Adhyaksa Dharmakarini.

Sebelum melakukan ijab qabul, 21 pasangan diarak dengan menggunakan bendi (kereta kuda). Arak-arakan diawali dari kantor Kejati Jateng, mengelilingi Lapangan Simpang Lima dan kembali ke lapangan kantor kejati. Sedangkan ijab qabul dilakukan secara serentak dipandu oleh 21 penghulu dari Kota Semarang.

Kepala Kejati Jateng, Sadiman, mengatakan, kegiatan nikah masal tersebut diadakan secara gratis sebagai bentuk bhakti kepada masyarakat. Menurutnya, kejaksaan juga bagian dari sahabat rakyat. Untuk itu, semua kebutuhan nikah sepenuhnya disiapkan oleh Kejati Jateng.

Ia memastikan, kegiatan tersebut akan rutin digelar setiap tahun. Ia menilai, kegiatan ini sebagai bukti negara hadir untuk membantu masyarakat, khususnya warga tidak mampu.

“Kalau bisa ke depan, yang kemarin sudah ikut sunatan masal, kalau usianya sudah mencukupi, bisa ikut nikah masal juga,”ucap Sadiman sambil tersenyum di hadapan para mempelai.

Salah satu pengantin, Gunaryo, 50, mengaku, terharu dengan pernikahan tersebut. Sebab, ia sudah mengimpikan sejak 9 tahun lalu, namun baru terealisasi kemarin. Selama ini, ia dan istrinya, Tri Ekowati, statusnya hanya nikah siri.

Gunaryo mengaku mendapat informasi digelarnya nikah masal itu  dari Ketua RT-nya di Jangli, Semarang. “Begitu dapat info Pak RT, saya langsung ikut, karena semua biaya pernikahan ditanggung oleh kejaksaan. Saya sangat berterimakasih kepada Kejati Jateng, karena kami akhirnya bisa menikah secara resmi. Maklum, selama ini saya belum memiliki biaya,” kata Gunaryo penuh haru.

Pasangan pengantin lainnya, Abdullah dan Nur Juwariyah, mengaku acara nikah masal tersebut sebagai saksi kekuatan cintanya bersemi kembali. Sebab, keduanya sempat bercerai pada 2016. Namun sepakat menikah lagi demi keuntuhan rumah tangga dan kepentingan kelima anak dan lima cucunya.

“Kami menikah 1983, lalu cerai 2016. Kini kami rujuk lagi. Kami dapat info, ada nikah masal justru dari anak-anak,” ujarnya bahagia.

Peserta nikah masal Dani Supriyanti tergolong masih muda. Usinya baru 18 tahun. Ia antusias mengikuti acara nikah masal ini, karena bisa menghemat pengeluaran. “Setelah dapat kabar ada nikah masal, seminggu yang lalu langsung daftar,” ujar warga Tegalsari ini.

Pasangan Arif Aini, 50, dan Sri Hartati, 40, mengaku nikah masal mempermudah proses pernikahan mereka. “Enak ya, mudah prosesnya. Lebih hemat. Alhamdulillah dari awal sampai akhir lancar-lancar aja,” ucap pengantin baru ini.

Selain tanpa dipungut biaya, setiap pasangan juga mendapatkan bingkisan dari kejati  serta menerima uang santunan masing-masing Rp 650 per pasangan. (jks/mg10/mg11/aro)

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Pemohon Kartu Kuning 100 Orang Perhari

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Pemohon kartu kuning (AK1) di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Dinakerin) membeludak. Setelah kelulusan sekolah lalu hingga kini, tiap hari,...

Telusuri Sindikat Narkoba Di Kepolisian

SEMARANG – Kepala Polda Jateng Irjen Pol Condro Kirono meminta kasus tiga polisi yang terbukti positif mengonsumsi narkoba diproses secara tuntas. Bahkan, pihaknya juga memerintahkan...

Ganjar Tidak Kesulitan ‘Nyekrup’ dengan Gus Yasin

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Petahana Ganjar Pranowo optimistis tidak akan kesulitan membangun chemistry dengan wakilnya, Taj Yasin atau Gus Yasin. Pasalnya, putra kyai kondang asal...

Bersihkan Pesisir Pantai

Sejumlah relawan dari komunitas pecinta alam, Pramuka dan ormas membersihkan kawasan pesisir pantai Tambaklorok, Kota Semarang, Minggu (8/10). Gelaran bersih-bersih sampah serentak di nusantara...

Atap Ambrol, Siswa Terluka

MUNGKID—Dua siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Maarif di Dusun Rejosari II, Desa Tanjunganom, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, mengalami luka. Keduanya tertimpa eternit yang ambrol saat jam...

Jatuh dari Lantai 2 UGM

SLEMAN—Mahasiswa DIII Teknik Mesin UGM, Eko Nur As'adi, Sabtu (16/9) lalu, pukul 17.00, tewas akibat terjatuh dari lantai 2 salah satu gedung di Sekolah...