24 C
Semarang
Rabu, 21 April 2021

Berawal dari Hobi, Kini Hasilnya Diekspor ke Luar Negeri

Ari Sudibyo-Eni Astri, Pasutri yang Membudidayakan Anggrek di Pekarangan Rumah

spot_img
spot_img

RADARSEMARANG.COM – Berawal dari hobi, kini jadi ladang rezeki. Setidaknya itu yang dirasakan pasangan suami istri, Ari Sudibyo dan Eni Astri. Keduanya sukses membudidayakan tanaman anggrek di pekarangan rumahnya. Seperti apa?

TRISNAWATI DYAH-HUMAIDA FATWATI

SEGAR dan menyejukkan. Begitulah kesan pertama saat memasuki rumah Ari Sudibyo dan Eni Astri. Sebab, di pekarangan rumahnya di bilangan Jalan Jolotundo I, Sambirejo, Gayamsari, Semarang banyak dipenuhi tanaman anggrek. Tak sedikit koleksi tanaman anggrek di rumah ini sudah memunculkan bunga warna-warni yang memikat.

Eni Astri mengaku, mulai membudidayakan tanaman anggrek sejak  1998. Kebetulan dirinya hobi dan cinta dengan jenis tanaman ini. Saat awal menanam anggrek, ibu dua anak ini memanfaatkan pekarangan belakang rumahnya yang sempit di daerah Candi, Semarang. Ada beberapa jenis anggrek yang dibudayakan Eni kala itu. Di antaranya, dendrobium, oncidium,  dan vanda.

Budidaya anggrek itu terus dikembangkan setelah menempati rumah di Jalan Jolotundo I yang memiliki pekarangan lebih luas. Eni juga membudidayakan jenis anggrek langka, seperti Grammatophyllum. Tanaman langka ini memiliki bentuk batang pohon berwarna hijau, tangkai bunga muncul dari pangkal rumpun dan memanjang hingga lebih dari 1 meter. Khusus tanaman anggrek langka ini, Eni tidak menjualnya. “Biasanya yang laku di pasaran jenis dendrobium, bulan, oncidium, dan vanda,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Di kebun anggreknya itu, Eni juga membangun laboratorium khusus untuk tempat pembudidayaan. Di sini ada yang bertanggungjawab mengurusi laboratorium, yakni Ari Sudibyo, suaminya. Di laboratorium itu, Eni juga kerap  membuka kelas pelatihan budidaya anggrek secara gratis. Selain itu, ia juga sering membuka kelas pelatihan di luar bekerjasama dengan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) dan Dinas Pertanian.

“Semua komunitas dan semua kalangan bisa belajar ke sini. Siswa SMA juga sering belajar kesini. Kadang kalau ada pelajaran yang terkait kultur jaringan tanaman, siswanya diajak belajar di sini ikut pelatihan bareng. Kebetulan di sini juga banyak anak magang dari beberapa universitas di Semarang dan sekitarnya. Biasanya dari jurusan pertanian dan biologi,” bebernya.

Selain itu, lanjut dia, pihak Disnaker juga sering membawa siswa drop out dari SMP/MTs atau SMA untuk dikenalkan budidaya anggrek. Termasuk mereka yang sudah berusia tidak produktif.

“Banyak yang pernah mengikuti pelatihan, sekarang sudah berhasil dan dapat membudidayakan dengan benar. Dulu pernah sih anggrek yang mereka budidaya nggak laku, terus larinya ke sini. Tapi sekarang mereka sudah bisa berkembang sendiri dan pada berhasil,” katanya bangga.

Sejak 2001 hingga 2010, Eni Astri dan suaminya juga kerap mengadakan pameran tanaman anggrek di Kota Semarang. Keduanya juga salah satu pelopor pameran anggrek di Kota Atlas. Namun sejak 2010, pameran mulai diikuti sedikit peserta. Sehingga sampai saat ini sudah tidak digelar lagi.

Meski begitu, tidak lantas menyurutkan semangat Eni dan suaminya dalam budidaya anggrek. Justru kini namanya semakin dikenal masyarakat luas sebagai pembudidaya anggrek. Setidaknya setiap minggu, alumnus Sastra Undip Semarang ini selalu mengirim anggrek hingga ke luar Pulau Jawa.

Selain dikenal di Indonesia, rupanya hasil persilangan anggrek yang dibudidayakannya juga dikenal hingga ke penjuru dunia. Ia menyebutkan, apabila anggrek koleksinya sudah diekspor hingga ke Afrika, Amerika, California, Thailand, Singapura dan Jepang. Meskipun demikian, ia mengaku tidak tahu-menahu soal pengiriman anggrek hingga ke luar negeri tersebut. Sebab, ia merasa tidak pernah melayani pengiriman pesanan anggrek hingga ke luar negeri karena kesulitan dalam perizinan.

“Saya kirimnya ke Jakarta. Nanti tahu-tahu ada konsumen yang bilang di laman Facebook sudah ada yang memberitahu kalau anggreknya telah sampai ke luar negeri. Padahal saya tidak pernah mengirimnya,” katanya.

Meski background pendidikannya bukan pertanian atau biologi, bukan menjadi kendala Eni dalam membudidayakan anggrek. Menurutnya, asal ada niat dan kecintaan tanpa embel-embel berbisnis, pasti akan kelihatan hasilnya. Ia mengaku cukup bangga karena bisa menularkan ilmunya dalam membudidayakan anggrek kepada masyarakat.

“Kalau mau main anggrek ya harus seneng dulu. Harus hobi dulu. Toh lama-lama juga hasilnya akan jadi bisnis. Tapi, kalau dari awal niatnya sudah untuk bisnis, biasanya malah gak jadi. Soalnya dari awal sudah perhitungan. Kalau sudah perhitungan, sudah pasti bakal mikir laba. Tapi kalau dari seneng dulu, maka yang kita tanam pasti akan kita dapat,” ujarnya bijak.  (*/aro)

spot_img

Latest news

Related news