33 C
Semarang
Senin, 25 Mei 2020

Monopoli Taksi Bandara Dikeluhkan

Must Read

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Monopoli taksi Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang kembali dikeluhkan warga. Sebab, warga tak bisa bebas saat akan naik taksi di area bandara. Persoalan ini kembali mencuat setelah seorang penumpang pesawat mengeluhkan kejadian tidak mengenakkan yang dialaminya saat menumpang taksi argometer warna biru di Bandara Ahmad Yani Semarang. Di laman Facebook miliknya, pengguna jasa bandara ini menceritakan dirinya diintimidasi ketika menggunakan moda transportasi lanjutan (taksi non bandara) untuk keluar bandara.

Dalam postingan berjudul “Premanisme di Bandara Ahmad Yani Semarang” itu, penumpang bernama Nathalie menyebut dirinya dipaksa turun dari taksi yang ditumpangi oleh oknum taksi bandara. Ia diberhentikan dan dibentak dengan alasan ada peraturan yang melarang penggunaan taksi lain selain taksi bandara.

Airport Duty Manajer Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, Rosa Marina, mengakui adanya kejadian ini. Dijelaskan, kasus itu terjadi Minggu (15/7) siang.  Saat itu, pihaknya langsung memberikan penjelasan kepada Nathalie mengenai fasilitas transportasi yang digunakan di bandara.

”Pengguna menginginkan Blue bird, ya mohon maaf dari bandara memang belum menyediakan taksi argo. Pilihannya hanya dua itu. Ibunya bersikeras pengin naik itu. Kami menjelaskan kalau di bandara yang resmi ya ini,” jelasnya.

Pihaknya kemudian mengakomodasi keinginan yang bersangkutan dan mengawal hingga pengguna layanan bandara ini merasa aman keluar dari bandara.

Rosa menjelaskan, saat ini layanan transportasi di bandara memang masih terbatas. Ia menyarankan, untuk sementara ini alternatif transportasi yang bisa digunakan adalah transportasi dengan tiket yang loketnya ada di dalam terminal.

”Pokoknya setiap naik taksi dipastikan melalui loket resmi,” ujarnya untuk menjamin tidak terjadi kejadian serupa mengingat kejadian ini bukanlah kali pertama.

Sementara ini taksi online, ujarnya, hanya bisa untuk drop saja, karena belum ada kerja sama resmi dengan pihak bandara. Saat ini, bandara sedang dalam pengkajian untuk penambahan armada. ”Kami menampung semua masukan dari masyarakat. Semua masih dalam kajian,” katanya.

Pakar transportasi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, menyoroti keberadaan taksi khusus yang memonopoli layanan penumpang Bandara Ahmad Yani. Menurutnya, jenis taksi seperti itu tidak boleh lagi beroperasi di terminal penumpang sekelas Bandara Ahmad Yani. Ia bahkan menilai, hal ini merupakan kesalahan fatal fungsi kontrol manajemen bandara, karena pada dasarnya konsumen memiliki hak memilih yang dilindungi oleh hukum. Juga penyedia jasa yang wajib melayani sesuai ketentuan hukum.

”Pihak manajemen atau pengelola bandara tidak seharusnya membiarkan praktik monopoli itu karena sangat merugikan konsumen,” ujar Djoko.

Hingga saat ini di Bandara Ahmad Yani masih digunakan taksi berdasar zona dengan besaran tarif yang tidak sesuai aturan. Seharusnya, ia tekankan, pengelola bandara juga menyediakan layanan taksi yang berargometer. ”Selain tarifnya yang mahal, pengunjung bandara tidak mempunyai pilihan transportasi lainnya. Sehingga mau tidak mau pengunjung dipaksa harus menggunakan transportasi yang ada,” ujarnya.

Kondisi ini, dikatakan olehnya, melanggar UU Nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, UU Nomor 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen dan UU tentang Persaingan Usaha dan Anti Monopoli. Menurutnya, pengusaha taksi lama harus memasang argometer layaknya taksi argometer yang sudah beroperasi selama ini. Selain itu, semua usaha taksi argometer di Semarang harus diberi kesempatan sama untuk melayani penumpang Bandara. ”Tidak hanya mengantarkan, tetapi juga menjemput penumpang dari bandara,” tukasnya.

”Bandara baru harus dengan layanan baru yang menyenangkan konsumen. Bukan sekadar megah dan mewah bangunannya saja, tetapi harus disertai pelayanan prima demi kenyamanan penumpang,” tegasnya.

Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Kota Semarang, Ngargono, menyatakan kondisi ini telah melanggar UU No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan UU No 5 tahun 1999 tentang Persaingan Usaha dan Larangan Monopoli. Pihaknya meminta agar pemerintah dan penegak hukum memberikan tindakan tegas kepada pelanggar ini.

”Praktik intimidasi kepada konsumen taksi ini harus berakhir. Jangan mentang-mentang sedang berkuasa terus memperlakukan konsumen seenaknya sendiri. Sekali lagi, prakatik monopoli taksi Bandara Ahmad Yani Semarang tidak boleh lagi terjadi,” tegasnya.

Terpisah, Pemeritah Provinsi Jateng tidak tinggal diam dengan kejadian di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang terkait adanya monopoli taksi. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menginstruksikan dinas terkait untuk membantu penyelesaiaan pengelolaan transportasi ini. ”Karena sebenarnya kasus taksi bandara ini sudah lama ya. Sejak sebelum pindah ke tempat yang baru ini,” jelas Ganjar kepada koran ini.

Karena itu, ia juga meminta GM Angkasa Pura untuk turun tangan. Sehingga tidak akan ada lagi yang namanya monopoli taksi di Bandara Ahmad Yani Semarang. ”Selanjutnya, kalau memang harus kerja sama, aturlah dengan baik pola kerjasamanya,” ujarnya. (sga/aro)

Latest News

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat musiknya mulai terasah, juga kegemarannya...

Dari Cidro sampai Ojo Mudik: Mengenang Hidup dan Karir Didi Kempot (1)

Dengan segala popularitasnya, Didi Kempot tak pernah repot dengan riders tiap kali manggung. Meninggalkan satu lagu lagi bertema virus korona. ANTONIUS CHRISTIAN, Solo-DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa...

Utang Besar

Kalau diterjemahkan, nama perusahaan ini berarti 'sejahtera'. Di Singapura ia didaftarkan dengan nama Hin Leong Trading Ltd --bahasa daerah Hokkian, tempat lahir pendiri perusahaan...

More Articles Like This