Menanamkan Pendidikan Akidah Islam pada Anak Zaman Now

spot_img

RADARSEMARANG.COM – BUKAN hal yang mudah untuk menjaga, melestarikan, dan mempertahankan atau bahkan meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadapa Allah SWT. Sebagai orangtua memangku tanggung jawab yang mutlak terhadap keimanan dan keyakinan anak-anaknya. Maka kita sebagai salah satu dari unsur pendidikan ikut bertanggung jawab atas benar atau tidaknya keyakinan yang diambil oleh generasi penerus kita. Dengan demikian mungkin dengan tulisan ini bisa membantu para pembaca dalam menanamkan  pemahaman tentang akidah Islam pada siswa

Sebagai orangtua, kita tidak boleh merasa cukup dengan hanya menyekolahkan anak. Sebab, akidah ini tidak bisa diwakilkan kepada sekolah.  Sebagaai  seorang muslim, tentu tidak ada panduan yang lebih diutamakan dalam mengambil keputusan selain Alquran. Hal ini penting, mengingat Alquran adalah satu-satunya kitab suci yang absolut benar. Mengikutinya secara totalitas berarti menyiapkan diri dan keluarga dalam kebahagiaan. Dan, menolaknya, berarti menjerumuskan dir dan keluarga dalam kesengsaraan.

Karena itu, mau bagaimanapun dunia ini diwarnai oleh hasil karya cipta manusia, seorang muslim tidak akan pernah bergeser dari menjalani hidup sesuai dengan tuntunan Islam, yakni Alquran dan Sunnah. Termasuk dalam hal menentukan prioritas dalam mendidik anak.

Dalam masalah pendidikan, Islam meletakkan pendidikan akidah di atas segala-galanya. Dan, itulah yang Allah tekankan dengan menggambarkan betapa getolnya Nabi Ya’kub dalam masalah ini. Sampai ketika anak-anaknya pun dewasa, pertanyaan beliau adalah masalah akidah.  “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” (QS. Al-Baqarah [2]: 133).

Dalam tafsirnya, Ibn Katsir menjelaskan bahwa kewajiban orangtua adalah memberi wasiat kepada anak-anaknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah semata. Hal ini memberikan petunjuk penting bahwa kewajiban utama orangtua terhadap anak-anaknya adalah tertanamnya akidah dalam sanubarinya, sehingga tidak ada yang disembah melainkan Allah Ta’ala semata. Lantas, bagaimana cara kita menanamkan pendidikan akidah pada anak di zaman now?

Pertama, dekatkan mereka dengan kisah-kisah atau cerita yang meng-Esakan Allah Ta’ala. Terkait hal ini para orangtua sebenarnya tidak perlu bingung atau kehabisan bahan dalam mengulas masalah cerita atau kisah. Karena Alquran sendiri memiliki banyak kisah inspiratif yang semuanya menanamkan nilai ketauhidan.

Baca juga:   Supervisi Klinis Tingkatkan Kinerja Guru

Akan tetapi, hal ini tergantung pada sejauh mana kita sebagai orangtua memahami kisah atau cerita yang ada di dalam Alquran. Jika kita sebagai orangtua ternyata tidak memahami, maka meningkatkan intensitas atau frekuensi membaca Alquran sembari memahami maknanya menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Kalaupun dengan cara membaca ternyata masih belum bisa. Kita bisa menyiasatinya dengan membeli buku-buku kisah dalam Alquran. Jadi, orangtua jangan pernah membelikan anak-anaknya buku cerita, novel atau kisah apapun yang tidak mengandung nilai akidah. Lebih-lebih yang mengandung unsur mitos dan pluralisme-liberalisme.

Mengapa demikian? Orangtua mesti sadar bahwa anak-anak kita saat ini adalah target dari upaya sekulerisme peradaban Barat. Untuk itu, sejak dini, anak-anak kita sudah harus memiliki kekuatan akidah sesuai dengan daya nalar dan psikologis mereka. Karena itu, tahapan dalam menguatkan akidah anak harus benar-benar kita utamakan. KH Zainuddin MZ berpesan dalam salah satu pencerahannya, “Didik mereka dengan jiwa tauhid yang mengkristal di dalam batinnya, meresap sampai ke tulang sumsumnya, yang tidak akan sampaipun nyawa berpisah dari badannya, akidah itu tidak akan terpisah dari hatinya. Bahkan dia sanggup dengan tegar berkata, ‘Lebih baik saya melarat karena mempertahankan iman dari pada hidup mewah dengan menjual akidah.”

Kedua, ajak anak mengaktualisasikan akidah dalam kehidupan sehari-hari. Setelah langkah di atas, selanjutnya tugas kita sebagai orangtua adalah mengajak mereka untuk mengaktualisasikan akidah dalam kehidupan sehari-hari. Apabila anak kita belum baligh, maka aktualisasi akidah ini bisa dilakukan dengan mengajak anak ikut mendirikan salat. Sesekali kita kenalkan dengan masjid, majelis taklim, dan sebisa mungkin ajak mereka untuk senantiasa mendengar bacaan Alquran dari lisan kedua orangtuanya. Apakah tidak boleh dengan murottal melalui alat elektronik? Jika tujuan kita adalah mengajak, maka keteladanan jauh lebih efektif.

Baca juga:   Matematika Bukan Sekadar Hitungan

Ketika anak kita sudah baligh maka orangtua harus tegas dalam masalah akidah ini. Jika anak sudah berusia 10 tahun dan enggan mendirikan salat, maka memberi hukuman dengan memukul sekalipun, itu dibolehkan. Apabila anak kita perempuan, maka mewajibkan mereka berjilbab menjadi satu keniscayaan. Dan, itu adalah bagian dari aktualiasi akidah.

Dengan demikian, sejatinya tugas orangtua dalam masalah akidah ini benar-benar tidak mudah. Sebab selain mengajak, orangtua juga harus senantiasa melakukan kontrol akidah anak-anaknya. Terlebih pengaruh budaya saat ini, seringkali menggelincirkan kaum remaja pada praktik kehidupan yang mendangkalkan akidah.

Ketiga, mendorong anak-anak untuk serius dalam menuntut ilmu dengan berguru pada orang yang kita anggap bisa membantu membentuk frame berpikir Islami pada anak. Orangtua tidak boleh merasa cukup dengan hanya menyekolahkan anak. Sebab, akidah ini tidak bisa diwakilkan kepada sekolah atau universitas. Untuk itu, orang tua mesti memiliki kesung guhan luar biasa dalam hal ini.

Dengan cara apa? Di antaranya, dengan mencarikan guru yang bisa menyelamatkan dan menguatkan akidah mereka.

Dorong anak-anak kita untuk bersilaturrahim, berkunjung ke pengasuh pesantren agar belajar, diskusi atau sharing masalah akidah. Dorong mereka untuk mendatangi majelis-majelis ilmu yang diisi oleh guru, ustadz, ulama atau pun figur publik muslim yang terbukti sangat baik dalam menguatkan akidah anak.

Mengapa kita sebagai orangtua merasa ringan mengeluarkan biaya untuk kursus ini, kursus itu, sementara untuk akidah yang super penting, bahkan untuk masalah surga dan neraka kita sendiri, kita sebagai orang tua justru tidak mempedulikannya.

Semoga uraian sederhana ini, membantu para orangtua untuk kembali pada orientasi pendidikan Islam yang sesungguhnya. Karena hidup ini bukan semata dunia, tetapi juga akhirat. Maka jangan abaikan masalah yang sangat menentukan dan diperhatikan super serius oleh para Nabi dan Rasul. Wallahu a’lam. (kpig1/aro)

Guru MTs A hmad Yani Wonotunggal

Author

Populer

Lainnya