32 C
Semarang
Selasa, 22 Juni 2021

PPK Terintegrasi dalam Kelas PKN

RADARSEMARANG.COM – GERAKAN pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Agenda Nawacita nomor 8,  yaitu penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental.

Penguatan pendidikan karakter pada anak-anak usia sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk memperkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik dengan memperkuat pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran mempersiapkan Generasi Emas 2045 dengan dibekali keterampilan abad 21: kualitas karakter, literasi dasar, dan kompetensi 4C (Critical thinking, Creativity, Communication, and Collaboration) yang bertaqwa, nasionalis, tangguh, mandiri, dan memiliki keunggulan bersaing secara global. Membekali siswa menghadapi kondisi degradasi moral, etika, dan budi pekerti.

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam Pengelolaan Kelas Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dapat dilaksanakan dengan  menempatkan para guru sebagai indvidu yang berwenang dan memiliki otonomi dalam proses pembelajaran untuk mengarahkan, membangun kultur pembelajaran, mengevaluasi dan mengajak seluruh komunitas kelas membuat komitemen bersama agar proses pembelajaran menjadi lebih efektid dan berhasil. Pendidik memiliki kewenangan dalam mempersiapkan (sebelum masuk kelas), mengajar dan setelah pengajaran, dengan empersipakan skenario pembelajaran yang berfokus pada nilai-nilai utama karakter. Manajemen kelas yang baik akan membantu peserta didik belajar dengan lebih baik dan dapat mengingkatkan prestasi belajar.

Dalam proses pengelolaan dan pengaturan kelas terdapat momen penguatan nilai-nilai pendidikan karakter. Contohnya, memulai pelaaran pendidik bisa mempersiapkan peserta didik untuk secara psikologis dan emosional memasuki materi pembelajaran, untuk menanamkan nilai kedisiplinan dan komitmen bersama, guru bersama peserta didik membuat komitmen kelas yang akan disepakati pada saat peserta didik belajar. Aturan ini dikomunikasikan, didialogkan dan disepakati bersamaa dengan peserta didik. Tujuan pengaturan kelas adala agar proses pembelajaran berjalan dengan baik dan membantu setiap individu berkembang masimal dalam belajar.

Pengelolaan kelas yang baik apat membentuk penguatan karakter. Beberapa contoh yang penulis lakukan di antaranya, pertama, peserta didik memasuki kelas kemudian  bersalaman dengan guru  (dapat menguatkan disiplin dan menghargai guru). Kedua, peserta didik membaca doa asmaul khusna sebelum pembelajaran dimulai (dapat menguatkan nilai relegius). Ketiga, peserta didik menjadi pendengar yang baik atau menyimak guru saat memberikan penjelasan di dalam kelas (dapat menguatkan nilai saling menghargai dan toleransi). Keempat, peserta didik mengangkat tangan/mengacungkan jari kepada guru sebelum mengajukan pertanyaan/tanggapan, setelah diizinkan oleh guru ia baru boleh berbicara (dapat menguatkan nilai saling menghargai dan percaya diri).

Kelima, memberikan sanksi yang mendidik kepada peserta didik sebagi konsekuensi dan bentuk tanggungjawab bila terjadi keterlambatan dalam mengerjakan atau mengumpulkan tugas (dapat menguatkan nilai disiplin, bertanggungjawab dan komitmen diri). Keenam, guru mendorong peserta didik melakukan tutor teman sebaya, siswa yang lebih pintar diajak untuk membantu teman-temannya yang kurang dalam belajar dan dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru (dapat menguatkan nilai gotong-royong, kepedulian sosial, percaya diri dan bertanggungjawab).

Sebenarnya pada pembelajaran dalam kelas ini kunci keberhasilan pelaksanaan PPK secara umum. Karena pada kegiatan ini guru banyak berperan bersama peserta didik secara bersama-sama mengimplementasikan karakter di dalam pembelajaran. Implementasi PPK dilakukan dengan tiga pendekatan utama, yaitu berbasis kelas, berbasis budaya sekolah, dan berbasis masyarakat. Ketiga pendekatan ini saling terkait dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendekatan ini dapat membantu satuan pendidikan dalam merancang dan mengimplementasikan program kegiatan PPK. Tanggungjawab implementasi PPK tidak hanya pada guru mapel PKN saja, namun menjadi tanggungjawab kita semua para pendidik, sang penerus cita-cita nawacita. (kpig1/aro)

Guru PKn MA NU 01 Limpung, Batang

Latest news

Related news