33 C
Semarang
Senin, 13 Juli 2020

Jagalah Ikan Tak Sebatas Hobi

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Ikan Tiger Cat Fish berdampingan dengan ikan Gurami
Ikan Tiger Cat Fish berdampingan dengan ikan Gurami

RADARSEMARANG.COM – PERATURAN Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 41 tahun 2014 tentang pelarangan pelepasan ikan berbahaya dan invasif ke sungai yang membahayakan ekosistem laut ini menimbulkan pro dan kontra. Menyusul adanya penemuan ikan Arapaima di Sungai Brantas.

Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti pun secara tegas mengimbau pemilik untuk menyerahkan ikan-ikan yang masuk dalam daftar ikan berbahaya ke pihak terkait. Namun sejumlah pemilik tak begitu saja menyerahkan, bahkan beberapa di antaranya ingin tetap memelihara ikan tersebut.

Jawa Pos Radar Semarang menghubungi dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (FPIK-Undip) di bidang Aquaculture, Dr Vivi Endar Herawati SPi MPi. Vivi, sapaan akrabnya, membenarkan bahwa Arapaima merupakan ikan predator.

Menurutnya, pelepasan ikan tersebut di sungai atau perairan umum lainnya, akan melepas ekosistem. Pasalnya, ikan tersebut akan nantinya memangsa ikan-ikan berukuran lebih kecil yang ada di habitat tersebut.

“Jadi ikan-ikan kecil yang seharusnya bisa berkembang, bisa melakukan pemijahan dan lain-lain, jadi mati. Jadi siklus hidupnya sudah terpotong. Merusak ekosistemnya disitu,” beber Vivi, Sabtu (14/7).

Di sisi lain, pembudidayaan ikan tersebut dikatakan oleh Vivi juga masih jarang. Menurutnya, ikan jenis tersebut untuk indukannya masih bergantung pada alam. “Jadi belum ada yang membudidayakan sampai ukuran indukan yang paling besar. Karena masih bergantung pada alam,” inbuhnya.

Menurut Vivi, ikan-ikan tersebut yang masih ada di alam sebenarnya dapat dipelajari lebih mendalam oleh para akademisi. Kebanyakan, para pemilik ikan jenis predator seperti Arapaima tidak menyimpannya dari ukuran kecil. Umumnya pemelihara membeli ikan tersebut sudah dalam ukuran besar.

“Itu kalau kami tampung, kan bisa dipelajari seperti apa genetiknya, bagaimana budidayanya, behaviornya, hingga siklus dan jenis pakannya. Kendala penelitian karena memang indukannya masih bergantung pada alam,” terangnya.

Vivi juga menjelaskan bahwa jenis ikan tersebut termasuk langka dan jumlahnya tidak banyak. Bahkan iklan tersebut dilindungi, untuk dipelajari oleh peneliti yang ada di KKP serta para akademisi di universitas.

Hal ini juga berlaku untuk penjual maupun yang memelihara. Menurut Vivi, kepemilikan ikan jenis predator seharusnya memiliki izin atau sertifikasi khusus, lantaran ikan tersebut langka dan dilindungi. “Ini kan sama seperti yang baru-baru ini, kepiting yang telur itu sudah dilarang. Karena akan merusak ekosistem ketika dikonsumsi. Kalau kita tidak menghambatnya dari sekarang, maka lama-lama akan habis,” ujarnya.

Vivi mengatakan, langkah tegas KKP tentu memiliki tujuan. Salah satunya untuk menjaga ekosistem tetap ada. Inipun berlaku untuk pelarangan ikan-ikan jenis predator. Karena bagaimanapun, ikan tersebut masuk dalam kategori langka.

Menanggapi adanya pemilik yang enggan menyerahkan ikan tersebut pada pihak terkait, Vivi sebagai akademisi menyarankan kepada para pemilik untuk mengajukan izin. Selain itu, para pemilik tidak sekedar memiliki tujuan memelihara saja. “Jadi jangan hanya alasan senang dan hobi, tetapi benar-benar menjaganya. Syukur-syukur bisa membuat ikan tersebut memijah, sehingga bisa sama-sama saling mempelajari. Jadi jangan semata-mata kepuasan pribadi,” jelasnya.

Penelitian dan riset mengenai ikan Arapaima, sambung Vivi, mulai dari pembenihan, pembesaran hingga genetiknya saat ini belum banyak jurnalnya. Bahkan, publikasi dari jurnal luar negeri pun menurut Vivi masih sangat jarang. “Karena ikan tersebut indukannya yang besar membutuhkan penampungan yang besar dan alat yang hi-tech,” paparnya.

Vivi menyebutkan, adanya oknum yang melepaskan ikan Arapaima ke sungai tersebut bisa jadi karena takut ketahuan dan takut terkena sanksi. Perlu diketahui, jika ada oknum yang melepaskan ikan tersebut terancam dengan minimal 6 tahun penjara. “KKP ini sudah tegas dan disiplin dengan mengingatkan adanya Permen 41 itu. Tinggal bagaimana kita menyikapinya,” pungkas Vivi. (tsa/ida)

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Dewan Minta Pemkab Evaluasi Pengelolaan Pasar

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN - Kalangan DPRD Kabupaten Semarang meminta Pemkab Semarang mengevaluasi pengelolaan pasar. Pasalnya, pada 2017 PAD dari sektor pasar tidak mencapai target. Ketua Komisi...

Bisnis Online Sebagai Media Belajar Wirausaha

RADARSEMARANG.COM - PENDIDIKAN siswa di SMK, tidak bisa lagi hanya menyiapkan tenaga kerja siap pakai di dunia usaha dan industri. Para siswa yang telah...

Generasi Sharing Mudahkan Hoax Menyebar

MAGELANG – Saat ini telah muncul generasi sharing, generasi yang sangat senang membagikan konten berita baik maupun berita tidak baik. Kemudahan sharing merupakan keuntungan...

 Tindak Tegas Jukir Nakal

RADARSEMARANG.COM, BATANG - Ratusan juru parkir (Jukir) perwakilan yang beroperasi di wilayah Kabupaten Batang mendapatkan pembinaan  ketertiban lalu lintas dan Sapu Bersih Pungutan Liar...

PDIP Tegaskan Tak Ada Mahar Politik

SEMARANG - Terhitung ada 6 bakal calon gubenrur (bacagub) dan 19 bakal calon wakil gubernur (bacawagub) yang resmi masuk ke DPD PDIP Jateng. Mereka...

Tingkatkan Kompetensi Guru Nahdlatul Ulama

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG -  Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) Jawa Tengah terus tingkatkan kompetensi guru NU baik negeri maupun swasta. Semakin kompeten,...