33 C
Semarang
Minggu, 12 Juli 2020

Biaya Pemeliharaan Mahal, Tapi Bisa Jadi Sumber Edukasi

Memelihara Ikan Predator Antara Hobi dan Larangan

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Meski Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2014 mengatur larangan pemasukan jenis ikan berbahaya dari luar negeri ke dalam wilayah Indonesia yang jumlahnya ada 152 jenis, tak membuat pecinta ikan hias menghentikan hobinya. Melalui izin Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), pemilik ikan predator bisa tetap memelihara dan membudayakan ikan.

RADARSEMARANG.COM – MEMELIHARA ikan bukan perkara mudah. Selain perlu ketelatenan, juga harus rela mengeluarkan uang banyak. Seperti halnya yang dilakukan oleh Didik, pria yang bertempat tinggal di daerah Gajahmungkur Semarang ini harus merogoh kocek Rp 50 ribu setiap harinya untuk menyediakan pakan ikan predator jenis arapaima miliknya.

“Setiap hari beli ikan lele anakan yang kecil-kecil seukuran 20 sentimeter satu bungkus plastik Rp 50 ribu. Kalau isinya ya sampai 100 ekor (lele) untuk makanan ikan Arapaima,” ungkap Didik, Sabtu (14/7) kemarin.

Ikan Arapaima milik Didik dipelihara di dalam kolam besar berukuran panjang 2,5 meter dengan lebar 1 meter di teras depan rumahnya. Ikan berwarna hitam tersebut berenang bersama ikan hias jenis koi dengan ukuran bervariasi, kisaran antara 20 – 40 sentimeteran.

“Ikan Arapaima hanya 1 ekor dengan panjang 1 meter. Belinya sudah 3 tahun lalu, milik teman saya di Purbalingga. Kalau Arapaima yang warnanya merah memang mahal sekitar Rp 10 juta, tapi kalau yang hitam murah paling Rp 8 juta,” bebernya.

Selain memelihara ikan Arapaima, ia juga memelihara banyak ikan, mulai dari ikan hias jenis sepat hingga ikan predator lainnya jenis Aligator Gar, Red Tail Catfish, Tiger Fish hingga Piranha. Semua itu, ditaruh di dalam aquarium.

“Ikan Piranha ada 40 ekor, ukuran ikan rata-rata 30 sentimeter. Dulu punya ikan Arwana sepanjang 40 sentimeter, tapi saya goreng karena buntutnya prutul (putus),” kata pria yang hobi memasak ini.

Sedangkan untuk kebutuhan makanan ikan predator tersebut, Didik mengakui memberi makanan seadanya. “Kalau ikan Piranha, kadang saya kasih makan ikan laut, kadang seadanya ya tak kasih kelelawar. Tidak sampai 1 menit ya ludes dibuat rebutan,” ujarnya.

Didik mengakui, ikan Piranha merupakan ikan berbahaya, sangat beringas ketika temannya banyak. Menurutnya, ikan tersebut dinamakan predator karena memangsa hewan apa saja dan memikiki gigi taring yang runcing dan tajam.

“Ikan Piranha kalau diatas 12 ekor, sangat berbahaya. Mereka mainnya keroyokan. Tapi kalau tidak ada yang provokasi ya tidak menggigit, diam saja,” katanya.

Mengkoleksi ikan sudah dilakukan Didik semenjak remaja. Bahkan sejak tahun 2014, sudah memelihara berbagai jenis ikan hias yang ditaruh di aquarium. “Ya karena hobi memelihara saja, tidak saya jual. Kalau seandainya dijual yang ikan-ikan predator tidak ada harganya, beda dengan ikan yang unik-unik. Paling mahal Arapaima, Koi, dan Arwana. Ikan Arapaima maksimal 4-5 meter, harganya bisa sampai ratusan juta rupiah,” bebernya.

Didik mengakui, telah mendengar adanya larangan pemerintah memelihara ikan predator, termasuk Arapaima. Namun demikian, Didik menilai, ikan Arapaima bukanlah ikan predator seperti yang digembor-gemborkan banyak orang.

“Belum ada ceritanya ikan Arapaima makan manusia, apalagi banyak di Youtube orang memegang ikan sebesar tidak apa-apa. Ya karena mungkin bentuknyabesar, menggambarkanya jadi seram,” ujarnya.

Didik juga menjelaskan, ikan Arapaima tersebut tidak membahayakan lantaran tidak terlihat memangsa apa saja yang ada di kolamnya. Bahkan, pemeliharaannya dicampur dengan ikan Koi.

“Anak saya yang masih kecil malah jebur kolam mainan sama ikan Arapaima, dengan digendong-gendong. Lihat sendiri, itu kan campur sama ikan Koi, kalau memang dia predator pasti ikan Koi di dalam kolam itu habis. Kalau saya lihat, itu ikan yang tolol, cuek, dia kalau lapar ya diam di pinggiran,” tuturnya.

Menurutnya, masih banyak ikan predator lain yang buas selain Piranha. Didik menyebutkan, ikan paling predator atau buas adalah jenis Tomang. Ikan tersebut menyerang manusia. “Ikan Tomang ini asli Indonesia paling berbahaya, menyerang manusia. Piranha juga predator. Kalau Arapaima memang makannya banyak, tapi tidak buas memakan sembarangan. Hari ini sudah makan 60 ekor ikan, kalau makan suaranya kencang,” jelasnya.

Pihaknya menyayangkan adanya aturan ataupun larangan memelihara ikan Arapaima lantaran dianggap ikan predator. Pihaknya berharap ada kajian ulang dalam menerapkan peraturan larangan tersebut. “Justru harus kasihan dengan ikan impor ini. Ikan ini aslinya dari Air Amazone Brazil. Disana banyak yang diburu penduduk, dagingnya gede, kulitnya dibuat cinderamata karena sangat keras,” katanya.

Didik menambahkan, sesuai rencana akan menambah koleksi-koleksi ikan. Bahkan ia akan memberikan keterangan di aquarium sebagai pelengkap. Harapannya, supaya orang bisa mengetahui jenis ikan yang terpampang di rumahnya tersebut.

“Rencana akan saya tempeli keterangan. Intinya ingin memberikan edukasi. Kalau ada orang yang berkunjung ke rumah saya, jadi tahu, ini namanya ikan ini, termasuk anak saya,” imbuhnya.

Sedangkan Pengelola Ikan Arowana Super Red Midas, Khoirul Anam, mengaku melakukan budidaya ikan Arwana sejak tahun 2011. Di Kota Semarang terdapat tempat budidaya ikan arwana, tepatnya di Ikan Arowana Super Red Midas. Namun saat ini hanya ada 8 ikan yang dipelihara, 5 di antaranya berusia 3-4 tahun dan 3 lainnya berusia 4 bulan. Harga ikan ini cukup fantastis, ada yang sampai Rp 300 juta. “Sekarang harga ikan Arwana besar sekitar Rp 25 juta, kalau yang kecil hanya Rp 4,5 juta. Disini pernah menjual sampai Rp 300 juta,” jelas Khoirul Anam.

Menurutnya, pemilik Ikan Arowana Super Red Midas adalah Beni Suryadi. Semula hanya mengoleksi ikan hias. Setelah kerap memenangkan lomba di berbagai kalangan, muncul keinginan untuk membudayakan ikan Arwana. Sejauh ini, Beni hanya memelihara ikan Arwana berjenis super red. Alasannya, meski dipelihara di tempat yang sama, namun harga jualnya beda.

“Dulu pernah memelihara Arwana jenis silver dan gold. Makanannya sama, seperti jenis super red. Akan tetapi harganya tetap mahal super red. Makanya, sekarang tinggal mengoleksi jenis super red saja. Selain harga jualnya tinggi, kolektor lebih suka dengan super red, karena kalau besar lebih indah warnanya,” tandas Khoirul.

Sementara itu, Mandala, 51, sebagai kolektor ikan Arwana menyetujui pelarangan memelihara ikan jenis predator satu ini. “Saya setuju ada peraturan yang melarang masyarakat mengambil bebas jenis ikan Arwana dari alam. Tapi kalau dipelihara malah dilarang, saya kurang setuju. Sebab, pemelihara juga ikut melestarikan ikan agar tidak punah. Apalagi ada izin jelas,” tegasnya.

Perizinan harus selalu dilakukan, seperti yang dilakukan Beni. Ia rutin mengurus izin jika ada ikan baru yang datang. Sementara itu, Khoirul mengimbau kepada kolektor ikan Arwana untuk memeriksa izin pemeliharaan dengan teliti. “Terpenting harus ada chips. Soalnya, kalau beli ikan Arwana tanpa ada surat izin dan chips-nya, kalau ada sidak dari pemerintah bakalan diambil ikannya. Itu sama saja dianggap ilegal,” tandas Khoirul Anam. (mha/mg14/mg7/ida)

Berita sebelumyaZohri Sebentar Lagi
Berita berikutnyaJagalah Ikan Tak Sebatas Hobi

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Warga Berebut Sembako Murah

RADARSEMARANG.COM, KENDAL - Ribuan warga menggeruduk pasar murah atau bazar sembako yang digelar Pemkab Kendal di Alun-alun Kendal. Mereka rela menunggu lama hingga berdesak-desakan...

Depresi, 12 Jam di Tepi Sungai

TEMANGGUNG—Yakup, 60, warga Desa Plumbon Kecamatan Selopampang Kabupaten Temanggung membuat geger warga Desa Plumbon, Minggu (12/11). Ia yang diduga depresi, berniat bunuh diri dengan...

Tujuh Kelurahan Butuh Perhatian Ekstra

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Sebanyak tujuh dari 23 kelurahan yang ada di Kota Salatiga harus mendapatkan perhatian ekstra. Pasalnya, ketujuh kelurahan itu tingkat kemiskinan paling...

Dorong Pertumbuhan Harga Properti

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Meningkatnya rata-rata harga jual apartemen dan harga sewa kamar hotel mendorong peningkatan harga hunian. Hal tersebut terlihat dari hasil survey Bank...

AIPI Diharapkan Hapus Kesenjangan Teori dan Praktik

RADARSEMARANG.COM, KUDUS – Bupati Kudus Dr H Musthofa berharap ke depan Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Semarang dapat menjadi sebuah rumah besar yang dapat...

4 Pegawai Tak Ikut Tes Urine Tanpa Keterangan

SEMARANG – Sebanyak 144 orang pegawai maupun karyawan di lingkungan Pengadilan Negeri (PN) Semarang mulai unsur hakim ad hock, tindak pidana korupsi, hubungan industri,...