32 C
Semarang
Selasa, 22 Juni 2021

Pendidikan Anti-Hoaks di Sekolah Dasar

RADARSEMARANG.COM – Berita dan artikel hoaks banyak tersebar seiring dengan berkembangnya teknologi ponsel pintar dan meningkatnya jumlah pengguna media sosial seperti WA, BBM, telegram, facebook, twiter, youtube dan lain sebagainya. Dampak negatif informasi hoaks telah menjadi masalah yang serius mulai dari lingkup keluarga, masyarakat luas, bahkan dalam lingkup nasional. Beberapa waktu yang lalu telah terungkap sebuah sindikat Saracen penyebar berita hoaks yang terorganisir. Mereka dibayar untuk menyebarkan berita hoaks oleh golongan-golongan tertentu yang berkepentingan.

Bahaya hoaks sudah menjadi masalah serius mulai dari lingkup keluarga, masyarakat luas, bahkan dalam lingkup nasional. Hal ini menuntut guru yang hidup di era digital ini untuk mengambil peranannya. Sebagai pendidik, guru memiliki tanggung jawab besar dalam mengarahkan anak didik agar lebih kritis, bahkan sejak di tingkat dasar.

Pengertian Hoaks

Dalam bahasa Inggris, dikenal kata hoax yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti lelucon, cerita bohong. Pada perkembangannya di Indonesia, istilah hoaks sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam ranah media sosial. Dalam KBBI V online kata hoaks dikategorikan sebagai ajektiva dan nomina. Sebagai ajektiva, kata hoaks berarti tidak benar; bohong.

Pengertian hoaks secara istilah menggambarkan kegiatan-kegiatan yang menipu masyarakat, misalnya ketika sebuah surat kabar dengan sengaja mencetak berita palsu, maka hal itu disebut hoaks. Selain itu, aktivitas lain yang termasuk hoaks yaitu aksi publisitas yang menyesatkan, ancaman bom palsu, penipuan ilmiah, penipuan bisnis, dan klaim politik palsu.

Membangun Pola Pikir Anti Hoaks pada Siswa SD

Pendidikan anti hoaks pada anak usia SD tentu berbeda dengan perlakuan pada anak usia SMP dan SMA. Menurut teori kognitif dari piaget (Santrock, 2010:48) bahwa peserta didik sekolah dasar pada umumnya berada pada tahap perkembangan kognitif operasional konkret (7-11 tahun). Pada tahap ini anak berpikir secara operasional dan penalaran logis menggantikan penalaran intuitif, meskipun masih bersifat konkret, artinya aktifitas mental yang difokuskan pada objek-objek dan peristiwa nyata.

Merujuk pada teori tersebut, untuk memberikan pengetahuan kepada anak SD mengenai hoaks perlu dihadirkan objek-objek dan peristiwa nyata, salah satunya melalui sebuah permainan pesan berantai. Cara melakukan permainan dan aturannya dapat dimodifikasi secara kreatif oleh guru.

Misalnya sebagai berikut, pesan dapat berupa tulisan kalimat, anak pertama membaca pesan tersebut kemudian disampaikan secara lisan kepada anak kedua, anak kedua menyampaikan pada anak ketiga dan seterusnya. Melalui permainan ini, guru dapat memberikan gambaran kepada anak, bagaimana pesan hoaks bisa terjadi secara tidak sengaja. Guru juga bisa menjelaskan pada anak-anak bahwa mereka harus mempunyai rasa tanggung jawab dan sikap jujur ketika menyampaikan pesan kepada orang lain.

Membangun pola pikir anti-hoaks sejak dini bukan hanya merupakan tanggung jawab guru SD. Masyarakat dan orang tua juga harus bersinergi untuk ikut serta mendidik anak-anak dalam hal melawan hoaks. Oleh karena itu, masyarakat dan orang tua juga harus bisa mengubah diri menjadi pribadi yang anti-hoaks dan paham literasi, agar bisa menjadi contoh bagi anak-anak. Jangan menjadi penyebar hoaks dan jangan ragu untuk menegur penyebar hoaks. Langkah kecil kita ini tentu sangat berarti untuk menyelamatkan Indonesia dari bahaya hoaks. (as3)

Guru SDN 1 Gagakan Kecamatan Sambong Blora

Latest news

Related news