Banyak Pedagang Hengkang

438
BELUM OPTIMAL : Pasar Srondol Kulon saat ini belum optimal. Banyak pedagang yang hengkang karena kondisi pasar yang sepi pembeli. (Mg11/Jawa Pos Radar Semarang)
BELUM OPTIMAL : Pasar Srondol Kulon saat ini belum optimal. Banyak pedagang yang hengkang karena kondisi pasar yang sepi pembeli. (Mg11/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Enam bulan setelah diresmikan pada 8 Januari 2018 lalu, Pasar Srondol Kulon masih belum beroperasi optimal. Pasar yang difungsikan sebagai pusat kuliner dan produk unggulan Kota Semarang itu masih sepi aktivitas.

Bahkan banyak pedagang meninggalkan kios karena mengeluh sepi pembeli. Awalnya ada sekitar 50 pedagang, namun kini hanya tersisa 12 pedagang. Berdasar pantauan Koran ini, 10 berdagang di lapang, satu di kios dan satu di klaster.

Salah satu penjual soto di Pasar Srondol, Ira mengatakan, pendapatannya menurun setelah dipindah dari Pasar Srondol lama ke Pasar Srondol baru.

“Pendapatan saya menurun drastis, dulu orang motoran lewat mampir sebentar untuk beli karena lokasi warung emplek-emplek di pinggir jalan. Tapi sekarang lokasi warung di dalam, jadi sedikit yang tahu, tahunya saya sudah tutup. Pasar ini sepi karena pembeli merasa barang-barang yang dijual nggak komplit.” ujanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Penghuni kios lain, Sriyono, 55, mengaku meski pelanggan sudah kembali, namun belum ada peningkatan. Sementara pengeluaran tetap banyak. Ia berharap retribusi pasar tidak naik terus. “Sekarang sudah mulai ramai lagi, meskipun tidak ada peningkatan. Tapi kalau retribusinya naik terus, ya kita berat,” ungkap pria yang harus mengeluarkan Rp 5 juta per tahun untuk sewa kios itu.

Para pedagang berharap Pemkot Semarang ikut mempromosikan Pasar Srondol baru, sehingga masyarakat tahu dan mau berbelanja. Termasuk kios-kios yang ada juga harus dioptimalkan.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang Danur Rispriyanto meminta pemkot dalam hal ini Dinas Perdagangan meningkatkan peran dalam mengoptimalkan pasar-pasar di Kota Semarang.

“Jangan sampai gencar melakukan revitalisasi, tapi tidak bisa berfungsi optimal ketika sudah jadi. Pembangunan yang telah menghabiskan anggaran banyak menjadi sia-sia. Jangan sampai ini terjadi,” kata Legislator dari Fraksi Demokrat itu.

Danur mengatakan, Pasar Srondol Kulon dibangun memang untuk memfasilitasi para pelaku usaha kuliner maupun UMKM di wilayah atas. Namun niatan membangun pasar tidak dibarengi sistem promosi yang baik. Pemerintah harus bisa membackup supaya pedagang maupun calon pembeli tahu kalau di sana ada sebuah pasar kuliner. Harus diimbangi dengan bantuan promosi. “Paling tidak ada petunjuk arah kalau di sana ada pusat kuliner atau UMKM.  Seperti di Pekunden, di sana ada gerbang bertuliskan Kuliner Pekunden,” ujarnya.

Selain itu, untuk mengisi kios yang kosong Dinas Perdagangan bisa menawarkan kepada masyarakat dengan kriteria dan ketentuan yang ditetapkan. Membuat event di lokasi pasar. Dinas Perdagangan juga diminta bersinergi dengan dinas lain, seperti Dinas Koperasi dan Dinas Perindustrian, untuk mengoptimalkan Pasar Srondol Kulon.

“Ini salah satu cara pemerintah menunjukkan kepeduliannya terhadap pedagang, Sehingga pedagang terbantu dalam hal promosi dan pasar akan lebih optimal,” tandasnya. (mg11, mg14/zal)

Silakan beri komentar.