33 C
Semarang
Kamis, 6 Agustus 2020

Trend Baru: Bayar Bagasi Apa Lagi

Another

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan...

Oleh: Dahlan Iskan

Pelopornya: bandara Hongkong. Korbannya: bukan Anda. Sementara ini yang jadi korban adalah perusahaan penerbangan. Entahlah kalau airlines akan meneruskan beban baru ini kepada penumpang. Kelak.

Meneruskan atau tidak mestinya saya tidak perlu peduli. Manajemen bandara Hongkong bikin beban baru: untuk bagasi. Satu bagasi sekali pun. Tiap bagasi harus dipungut biaya. Ongkos membawanya dari perut pesawat. Ke tempat pengambilan bagasi. Atau dari tempat check-in ke perut pesawat.

Mulai berlaku: tanggal 6 Juli 2018.

Biaya: tiap bagasi HKD 1,32. Atau sekitar Rp 3.000.

Itu memang uang receh. Dan bandara Hongkong rupanya ingin juga mengincar uang receh.

‘Otak uang’ memang beda dengan otak-otak. Kelihatannya Rp 3 ribu rupiah. Tapi lihat perkaliannya: tiap hari ada 80.000 bagasi yang turun di Hongkong. Setahun harus dikalikan 75 juta penumpang. Asumsinya: tiap penumpang membawa satu bagasi.
Hasil perkalian itu: setiap tahun bandara Hongkong bisa dapat tambahan pemasukan sekitar Rp 200 miliar. Tujuh tahun: Rp 1,4 triliun.

Pelajaran baiknya: jangan abaikan uang receh.

Lihatlah: berapa kali Anda terima foto atau video atau ucapan good morning di HP Anda. Biaya kirimnya mungkin hanya Rp 1 rupiah. Tapi coba kalikan. Ratusan miliar rupiah setahun.

Memang bandara Hongkong tidak berurusan dengan penumpang. Bandara memungut itu ke perusahaan penerbangan. Tentu, yang terakhir itu pada protes. Tapi tetap saja tidak akan berani tidak terbang ke Hongkong.

Bandara Hongkong sebenarnya sudah kaya. Bahkan menjadi bandara paling laba di dunia. Lihat angka ini: tahun lalu labanya hampir USD 1,5 miliar. Tepatnya: USD 1,46 miliar. Atau hampir Rp 20 triliun.

Pelajaran terbaik kedua: orang itu kian kaya kian rakus. Kian ingin lebih kaya.
Tujuannya: agar menjadi yang terkaya.
Itu pandangan negatifnya.
Sudut positifnya: agar bisa memberikan pelayanan lebih baik.

Seperti kasus bandara Hongkong ini. Berkat pelayanannya yang hebat jumlah penumpangnya naik terus. Tahun ini akan mencapai 75 juta orang. Kian banyak saja pesawat yang ingin mendarat di Hongkong.

Akibatnya: landasannya kurang. Padahal sudah punya dua landasan. Harus membangun landasan ketiga. Biayanya: HKD 140 miliar. Atau hampir Rp 400 triliun.

Begitu mahal?

Tentu. Bandara Hongkong itu dibangun di pulau kecil. Tanahnya sudah habis. Harus bikin daratan baru. Di laut yang cukup dalam.

Kalau Anda lagi mendarat di Hongkong (dari arah barat), tengoklah ke kiri. Anda tentu melihat: kegiatan proyek di laut itu. Itulah proyek pembuatan landasan ketiga.

Peluang besar: harga pasir membumbung tinggi. Anda bisa jualan pasir ke Hongkong.

Setidaknya bagasi Anda telah ikut mewujudkan landasan ketiga itu.

Tapi saya, tidak akan seperti Anda. tidak ikut menyumbang.

Mengapa?

Saya jarang membawa bagasi.(dis)

Latest News

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

Arang Galang

Inilah jalan berliku itu. Tapi yang penting hasilnya: anak muda ini berhasil menjadi pengusaha. Bahkan jadi eksporter. Memang masih sangat kecil. Tapi arah bisnisnya...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Larung Gunungan Nasi di Waduk Jatibarang

SEMARANG - Sejumlah hasil bumi dilarung oleh warga yang tergabung dalam Kelompok Darma Wisata (Pokdarwis) Suka Makmur dalam acara Nyadran Waduk Jatibarang, Kelurahan Kandri,...

PKL Kiai Singkil Tolak Relokasi

DEMAK-Ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pedagang Kaki Lima Kabupaten Demak melakukan aksi unjuk rasa, Selasa (21/11). Mereka mengawali dengan...

Siswa Dibiasakan Mengamalkan Alquran

TEMANGGUNG- Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Kartika Kranggan kembali mengadakan wisuda takhfidz bagi para siswanya. Wisuda takhfidz angkatan IX ini digelar di Aula Kantor...

Perempuan Bertank Top Dibuang Paksa dari Mobil

DEMAK - Nasib malang dialami perempuan bernama Eka, 24. Warga Desa Trengguli, Wonosalam, Demak, ini  ”dibuang” keluar dari dalam mobil Avanza hingga tersungkur dan...

Tarawih Perdana, Diguyur Hujan Deras

SEMARANG - Tarawih hari pertama di Kota Semarang tadi malam, sempat diguyur hujan deras. Meski demikian, tak menyurutkan semangat umat Islam untuk datang ke...

Hotel Sapi

Cowboy hilang karena sapi. Sapi hilang karena kereta api. Cowboy dan sapi ketemu lagi: di dekat rel kereta api. Tidak jauh dari Dodge City....