33 C
Semarang
Rabu, 12 Agustus 2020

Tak Cukup untuk Beli Lahan Pengganti

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COMSEMARANG-Lebaran telah berlangsung, jalanan tol sudah banyak dilalui masyarakat untuk mengurai kemacetan. Namun ternyata nasib malang masih menimpa 120 kepala keluarga (KK) yang menghuni 5 kecamatan dari 8 desa di Kabupaten Kendal, akibat proyek tol Semarang-Batang tersebut. Untuk memperkuat dukungan hukum, warga akan meminta bantuan ke Lembaga Penyuluhan dan Pembelaan Hukum (LPPH) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Semarang pimpinan Theodorus Yosep Parera.

“Kami mau minta dukungan hukum ke LPPH Peradi Semarang, kalau saya sendiri cukup kelelahan, total klien yang kami dampingi ada 120 KK, yang bertahan dan tersebar 5 kecamatan dan 8 desa, diantaranya Sumbersari, Kertomulyo, Nolokerto, Magelung, Ngawensari, Wungurejo,  Tejorejo, Rejosari,” kata kuasa hukum para warga, Eko Roesanto, saat bertemu di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Rabu (27/6).

Dikatakannya, di dalam appraisal penetapan lokasi tanah tidak sesuai dengan ukuran asli. Menurutnya, banyak data yang salah dalam inventarisasi BPN, seperti objek lahan nomor induk. Selain itu, banyak yang ukuran tak sesuai.

“Masalah lain, tanaman belum diganti rugi, baru usaha seperti penjahit, mebel, toko, ternak dan lainnya tidak masuk dalam objek ganti rugi,” sebutnya.

Padahal, lanjut Eko, nilai ganti yang sudah dititipkan kalau dibelikan lahan baru tidak cukup. Apalagi, para warga juga harus kembali menjadi petani, karena dari awal memang sudah petani. Dengan demikian, dampaknya warga kehilangan pekerjaan sebagai petani.

“Yang kami sesalkan, pas eksekusi lahan pertanian semuanya masih produktif,  tinggal nunggu panen,  anehnya tidak ada penggantian. Masalah lain, penggantian fasilitas umum (fasum) seperti sekolah dasar di Sumbersari belum ada penggantinya,”ungkapnya.

Terpisah, salah satu warga korban pengusuran proyek Tol Batang-Semarang tersebut, Saodah mengaku, telah mengadukan masalahnya ke DPRD Kendal, namun hingga saat ini belum mendapat kejelasan nasibnya, sehingga bingung akan tinggal dimana. Disamping itu, rumah untuk berteduh dan kebun milik mereka sudah rata dengan tanah.

“Kene wes ora nduwe omah pak, omahe diobrak-abrik, (kami sudah tidak punya rumah pak, rumah kami sudah hancur),” kata Saodah. (jks/zal)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Semua SMA/SMK Siap Gelar UBK

WONOSOBO—Seluruh SMA/SMK di Wonosobo mengklaim siap melaksanakan Ujian Nasional berbasis Komputer atau Ujian Berbasis Komputer pada April mendatang. Pada 2016, program yang dinilai ampuh...

Pelaku Ekonomi Kreatif Kesulitan Akses Perbankan

SEMARANG – Pelaku ekonomi kreatif masih kesulitan mendapatkan akses permodalan dari perbankan. Pasalnya, bidang usaha mereka terbilang tidak tampak, tapi bisa dirasakan. “Ekonomi kreatif itu...

EKTP Molor, Wabup Arini Sidak Disdukcapil

RADARSEMARANG.COM, KAJEN - Pelayanan  di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Pekalongan, dinilai lamban oleh warga. Terutama dalam kepengurusan KTP elektronik (EKTP),...

Ikuti Tren Fashion, Promosi Gunakan Instagram

Siapa yang tidak kenal Toko Jangkrik? Nama toko yang menjual kain atau tesktil ini cukup legendaris di Semarang. Kini, toko yang terletak di kawasan...

Pj Bupati Jamin Tidak Lakukan Mutasi

BATANG-Penjabat (Pj) Bupati Batang, Siswo Laksono berjanji tidak akan ada mutasi staf selama ia menjabat Pj Bupati Batang. Walaupun kini, dirinya menjadi pimpinan tertinggi Pemerintah Kabupaten...

Ringankan Beban Orangtua

RADARSEMARANG.COM - ANNISA Nindya Hayati telah banyak mengukir prestasi di ajang lomba debat dan penulisan. Gadis 22 tahun yang akrab disapa Nessa ini pernah...