29 C
Semarang
Selasa, 20 April 2021

Tak Cukup untuk Beli Lahan Pengganti

spot_img
spot_img

RADARSEMARANG.COMSEMARANG-Lebaran telah berlangsung, jalanan tol sudah banyak dilalui masyarakat untuk mengurai kemacetan. Namun ternyata nasib malang masih menimpa 120 kepala keluarga (KK) yang menghuni 5 kecamatan dari 8 desa di Kabupaten Kendal, akibat proyek tol Semarang-Batang tersebut. Untuk memperkuat dukungan hukum, warga akan meminta bantuan ke Lembaga Penyuluhan dan Pembelaan Hukum (LPPH) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Semarang pimpinan Theodorus Yosep Parera.

“Kami mau minta dukungan hukum ke LPPH Peradi Semarang, kalau saya sendiri cukup kelelahan, total klien yang kami dampingi ada 120 KK, yang bertahan dan tersebar 5 kecamatan dan 8 desa, diantaranya Sumbersari, Kertomulyo, Nolokerto, Magelung, Ngawensari, Wungurejo,  Tejorejo, Rejosari,” kata kuasa hukum para warga, Eko Roesanto, saat bertemu di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Rabu (27/6).

Dikatakannya, di dalam appraisal penetapan lokasi tanah tidak sesuai dengan ukuran asli. Menurutnya, banyak data yang salah dalam inventarisasi BPN, seperti objek lahan nomor induk. Selain itu, banyak yang ukuran tak sesuai.

“Masalah lain, tanaman belum diganti rugi, baru usaha seperti penjahit, mebel, toko, ternak dan lainnya tidak masuk dalam objek ganti rugi,” sebutnya.

Padahal, lanjut Eko, nilai ganti yang sudah dititipkan kalau dibelikan lahan baru tidak cukup. Apalagi, para warga juga harus kembali menjadi petani, karena dari awal memang sudah petani. Dengan demikian, dampaknya warga kehilangan pekerjaan sebagai petani.

“Yang kami sesalkan, pas eksekusi lahan pertanian semuanya masih produktif,  tinggal nunggu panen,  anehnya tidak ada penggantian. Masalah lain, penggantian fasilitas umum (fasum) seperti sekolah dasar di Sumbersari belum ada penggantinya,”ungkapnya.

Terpisah, salah satu warga korban pengusuran proyek Tol Batang-Semarang tersebut, Saodah mengaku, telah mengadukan masalahnya ke DPRD Kendal, namun hingga saat ini belum mendapat kejelasan nasibnya, sehingga bingung akan tinggal dimana. Disamping itu, rumah untuk berteduh dan kebun milik mereka sudah rata dengan tanah.

“Kene wes ora nduwe omah pak, omahe diobrak-abrik, (kami sudah tidak punya rumah pak, rumah kami sudah hancur),” kata Saodah. (jks/zal)

spot_img

Latest news

Related news