32 C
Semarang
Sabtu, 19 Juni 2021

Demi Gunung Merapi, Rela Tak Kumpul dengan Istri

Mengenal Lebih Dekat Penjaga Pos Pengamatan Gunung Merapi Triyono

RADARSEMARANG.COM – Menjadi petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) tidak mudah. Ia harus rela meninggalkan istri, putra-putri dan keluarga demi menjalankan tugasnya. Hal itulah yang dilakoni Triyono, 52, sang penjaga Pos PGM Ngepos Srumbung. Seperti apa kisahnya?

AHSAN FAUZI, Mungkid

Melototi alat-alat seperti seismograf, layar kamera pengawas (CCTV), pengukur kecepatan angin dan perangkat lainnya di Pos PGM Ngepos Srumbung merupakan pekerjaan sehari-hari Triyono. Ia harus terus mengamati setiap detik pergerakan-pergerakan yang muncul dari alat monitor di ruang kerjanya. “Harus dipantau 24 jam nonstop, setiap hari harus membuat laporan tentang kondisi Gunung Merapi. Tiap malam tidak tidur adalah hal biasa,” ujar Triyono.

Triyono menuturkan, kerja sebagai petugas pos pengamatan memang tak mengenal waktu, terlebih kalau intensitas erupsi menunjukkan peningkatan. Seperti belakangan ini sejak 11 Mei 2018 lalu, nyaris ia tidak punya waktu istirahat. Setiap waktu harus monitor alat, meladeni tamu berdatangan, seperti petugas BPBD, TNI, Polri, kepala daerah, camat, lurah, wartawan dan lainnya. “Pokoknya, kalau pas genting, telepon tiada hentinya, SMS-WA terus berdatangan. Semuanya menanyakan kondisi terkini Gunung Merapi,” ungkapnya.

Pria yang dipercaya menjadi Penanggung Jawab Pos PGM Ngepos Srumbung per 2 Mei 2018 itu membeberkan, jika kondisi normal, ia bisa istirahat atau pulang rumah. Ada jadwal piket. Dulu, tiap dua hari dua malam ia masuk, kemudian libur juga dua hari dua malam. Tiap piket, ada 2 petugas di pos. Kini dengan jadwal baru seiring peningkatan status Gunung Merapi di tahap waspada, waktu piket berubah menjadi dua hari dua malam masuk dan satu hari libur. Petugas jaga juga ditambah menjadi 3 orang.

“Pada intinya, pos jangan lengah dari petugas. Namun, jika kondisi darurat, semua petugas harus stan by di pos alias tidak boleh pulang.”

Bapak tiga anak ini mengakui, menjadi petugas pengamatan Gunung Merapi harus rela meninggalkan keluarga. Ia juga sadar betul bahwa nyawa jadi taruhan saat bekerja. “Biasa mas, berhari-hari tidak pulang, tidak kumpul anak istri. Mereka juga sudah memahami tugas saya, terus mendukung tugas saya,” akunya.

Sebagai manusia biasa, rasa takut dan waswas pasti muncul ketika Merapi meletus. Ia tak henti berdoa agar selamat dalam menjalankan tugas. “Waswas tidak hanya muncul dari saya saja, perasaan khawatir juga datang dari keluarga, tapi saya berusaha meyakinkan kepada mereka bahwa di tempat kerja aman-aman saja,” terangnya.

Pria asal Dusun Ngrandu Desa Sumberarum Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman ini sudah melakoni pekerjaan jadi pengawas sejak 1991 silam. Ia belajar tentang kegunungapian setelah mendapat pendidikan dan pelatihan dari kantornya di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta. “Saya masuk menjadi Capeg (Calon Pegawai) pada tahun 1991. Awal masuk ditugaskan di PGM Selo Boyolali 7 tahun, dari 1991-1998,” urainya.

Setelah dari PGM Selo, ia ditugaskan ke PGM Jrakah selama 5 tahun dari tahun 1998-2003, PGM Babadan (2003-2008), PGM Kaliurang (2008-2012), PGM Babadan (2012-2014), PGM Ngepos Srumbung (2014-2016), kembali ke PGM Babadan (2016-2018) dan sekarang di PGM Ngepos Srumbung. Selain di beberapa pos tersebut, ia juga bertugas di kantor induk BPPTKG Yogyakarta. “Semua PGM sudah pernah saya singgahi. Selama puluhan tahun bertugas, saya merasakan ada pengalaman paling dahsyat, yakni erupsi tahun 2010,” aku suami dari Sudarmiyati ini.

Saat erupsi 2010ua bertugas di PGM Kaliurang Yogyakarta. Ia menjadi saksi bagaimana gunung api bergejolak dari skala kecil sampai meletus besar. “Paling berkesan tahun 2010, proses (erupsi) paling lama sampai berbulan-bulan, dari skala kecil ke besar,” kenangnya. (*/ton)

Latest news

Related news