33 C
Semarang
Minggu, 20 September 2020

Nihi Sumba

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Saya ke Sumba lagi. Gara-gara perkawinan di Uluwatu, Bali, itu (lihat Disway edisi Minggu, 24 Juni 2018). Keesokan harinya saya tidak mendapat tiket ke Jakarta. Atau ke  Surabaya. Semua penerbangan penuh. Pada hari terakhir liburan panjang itu.

Di bandara Ngurah Rai –yang keren itu– saya tidak tahu harus bagaimana. Atau ke mana. Lalu ingat sesuatu. Yang pernah membuat saya malu: tidak bisa menjawab pertanyaan orang Amerika ini.

Padahal saya sudah begitu sering ke Sumba. ”Saya ini  jarang ke tempat rekreasi,” kilah saya.

“Setiap ke Sumba selalu ke pedesaannya. Untuk urusan sapi atau kaliandra atau penari langit atau solar cell.  Bukan ke pantainya,” kata saya lagi.

Pertanyaan yang membuat saya malu itu adalah: benarkah hotel villa Nihi Sumba itu terbaik di dunia?

Saya tidak bisa menjawab. Terbaik di dunia? Di Sumba? Yang miskin itu? Yang gersang itu? Yang di NTT itu?

Ohh… ternyata memang ada buku yang terbit tahun lalu. Tentang daftar hotel-hotel terbaik di dunia.

Di situ, di halaman tengah, terpampang Nihi Sumba. Satu halaman penuh. Isinya foto-foto dan artikel.

Disebutkanlah:  lembaga rating pariwisata Eropa, Travel+Leasure, memilih Nihi Sumba sebagai terbaik nomor 1 dunia. Untuk tahun 2016. Dan 2017. Dua tahun berturut-turut.

Uup… benarkah begitu?
”Saya harus ke sana,” kata saya dalam hati. Sekalian menemui teman-teman lama di Sumba. Untuk mendiskusikan lagi banyak hal di pulau ternak itu.

Saya pun mencari penerbangan ke Sumba. Ke kota yang mana pun ok: ke Tambulaka…yes. Di Sumba Barat Daya itu. Ke Waingapu  pun nema problema. Di Sumba Timur itu.

Yang saya cari ketemu. Tiga jam lagi ada Wing Air ke Tambulaka. Go! Yes.

Hari itu saya akan mendarat di Tambulaka lagi: bandara yang duluuuu… terkenal. Gara-gara pesawat Adam Air (alm) kehilangan arah. Tidak tahu harus terbang ke arah mana. Akhirnya mendarat di Tambulaka.

Belum lagi sampai di Sumba saya sudah bertemu banyak teman. Di ruang tunggu bandara Ngurah Rai itu.

Ada  wakil bupati Sumba Barat: Marten Ngoilu Toni. Lalu ada rombongan Abraham, anggota DPD dari NTT.

Ada anak muda bernama Bobby Lianto. Pemilik kebun coklat besar di Sumba Barat. Bersama ayahnya.

”Saya belum pernah berterima kasih pada pak Dahlan,” ujar Bobby.

Saya terpana. Berterima kasih untuk apa?

Ternyata ia punya real estate. Di Kupang. Sulit berkembang. Tidak ada listrik. Waktu itu. Untuk mendapatkannya harus beli trafo sendiri. Beli tiang sendiri. Beli meteran sendiri.

”Begitu pak Dahlan jadi dirut PLN langsung berubah. Kami bisa jualan rumah,” katanya.

Ayahnya diam saja. Memandang anaknya yang terus bercerita. ”Saya dulu pernah membenci ayah. Sampai saya lari ke Surabaya. Melanjutkan SMA di sana. Lalu masuk Universitas Petra Surabaya,” katanya.

Di saat Bobby remaja sang ayah lebih banyak tidak di rumah. Urus kebun coklat di Sumba. Setiap pulang hanya marah-marah. Sering sampai menempelengnya. ”Pokoknya saya benci sekali pada ayah,” katanya.

Setelah tujuh tahun terpisah Bobby kembali ke Kupang. Pendidikannya sudah tinggi. Sudah ditambah sekolah di Belgia.

Bobby sudah lebih dewasa. Ayahnya juga sudah lebih tua. Kebun coklatnya sudah jalan. Tidak harus lagi sering ke Sumba.

Tapi tiba di Kupang Bobby melihat ayahnya bertengkar dengan ibunya. Soal perusahaan yang merugi. Bobby membela ibunya. Sampai diitempeleng oleh ayahnya.

Kebencian pada sang ayah muncul lagi. Kali ini ia lawan ayahnya itu.

Lalu Bobby lari ke kamar: menangis. Sesenggukan. Di atas tempat tidurnya. ”Biar pun ayah salah tidak seharusnya saya tadi melawan ayah,” katanya dalam tangisnya.

Pintu kamarnya diketuk pelan. Ia mengira itu ibunya. Ketukan pintu ayahnya tidak begitu.  Ketukan kasar. Disertai langsung buka pintu: untuk menghajar anaknya itu.

Bobby mengintip ke pintu. Dari balik jejari tangannya. Ternyata yang muncul sang ayah. Kali ini dengan raut menyesal. Bukan wajah yang garang.

Sang ayah lantas memeluknya. Sambil minta maaf. Bobby kian menangis. Kali ini tangis haru.

Kok seorang ayah yang garang kini minta maaf pada anaknya. Langsung muncul kebanggaan Bobby pada ayahnya.

Hilanglah semua kebenciannya.

Ayahnya, yang ikut mendengarkan di depannya, tampak berlinang matanya. Ibunya juga. Ibunya, yang selalu berbahasa Mandarin dengan saya, ikut terharu.

Kisah itu sering jadi bahan kesaksiannya. Di forum-forum Full Gospel Business Fellowship International. Ayahnya ketua forum itu untuk NTT.

”Tiba di Sumba nanti pak Dahlan harus jadi tamu saya,” kata Bobby.

Ia mau terbang ke Kupang. Tapi aparatnya di Sumba Barat sudah ia hubungi semua.

Tentu saya tidak bisa jadi tamunya.

Saya akan ke Nihi Sumba dulu. Yang tarif hotelnya ehm: Rp 25 juta satu malam. (dis)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Motif Batik Digandrungi Anak Muda

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Lenggak-lenggok para model, menampilkan pesona inovasi batik dalam peragaan busana batik yang berlangsung di Taman Kasmaran, Jalan dr Sotomo, Semarang, Sabtu (7/4) kemarin....

Stok Sembako Masih Aman

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Bupati Demak HM Natsir bersama Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM serta Dinas Kesehatan kemarin melakukan sidak harga sembako di pasar tradisional....

Harga Rumah Naik 5 Persen

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pertengahan tahun ini harga rumah mengalami kenaikan hingga 5 persen dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan dipicu oleh meningkatnya harga tanah dan harga...

Kabar Baru dari Nielsen Menghapus Kegalauan

Pembaca Jawa Pos rebound. Kuartal I 2018 hampir menyentuh angka sejuta. Itu menguatkan posisi sebagai koran dengan pembaca terbanyak di Indonesia. Kabar itu sungguh menggembirakan...

Minat Baca Masih Rendah

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Anggota Komisi X DPR RI, Marlinda Irwanti menggencarkan gerakan Nasional gemar membaca di Kabupaten Pekalongan dengan membagikan ratusan buku bacaan gratis...