33 C
Semarang
Sabtu, 4 Juli 2020

Kuda Messi Keledai Emosi

Another

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya...

Oleh: Dahlan Iskan

Messi itu ibarat kuda sekaligus keledai. Kuda bagi klubnya: Barcelona. Keledai bagi negaranya: Argentina.

Itu bukan pendapat saya. Itu ejekan dari media sosial. Setelah tim piala dunia Argentina ‘dikalahkan’ Islandia dengan skor 1-1. Apalagi saat mendapat hadiah penalti

Messi gagal bikin gol: tendangannya terlalu lemah. Seperti tidak ada semangat.

Lebih-lebih setelah Argentina ditaklukkan beneran oleh Croasia 0-3. Dan Messi belum bikin satu pun gol.

Kritik lain lebih masuk akal: Messi itu kurang Argentina. Emosinya bukan emosi Argentina. Tangisnya bukan cry for Argentina.

Sejak umur 13 tahun Messi sudah pindah ke Barcelona: sejak anak genius ini terkena penyakit defisit hormon. Ia mendapat pengobatan di Barcelona. Atas biaya klub kaya itu. Sejak itu hidupnya praktis di Barcelona. Argentina memberinya tempat lahir. Dan penyakit. Barcelona memberinya hidup. Dan kehidupan.

Teori yang agak ngawur itu dikuatkan oleh peristiwa dua tahun lalu. Saat Argentina masuk final Copa America yang dimajukan. Melawan Chili. Argentina kalah dari tetangganya itu: Messi juga gagal di tendangan penalti.

Copa America itu dilaksanakan di Amerika Serikat. Ditepatkan dengan HUT ke-100 Copa America. Saya lagi di sana saat itu. Tiga bulan. Melihat drama itu di cafe yang gemuruh di Kansas City, Missouri. Disway belum lahir saat itu.

Sejak itulah Chili dibenci di seluruh Amerika Latin. Bukan hanya di Argentina. Sikap Chili begitu merendahkan Argentina. Setelah drama itu. Membuat Chili menjadi musuh bersama di seluruh Amerika Latin. Hingga gagal maju ke piala dunia saat ini: oleh sepakbola gajah.

Saat itu Peru bermain mata dengan Colombia. Permainan itu disebut ‘Pakta Lima’. Lima adalah ibukota Peru. Mereka sepakat untuk tidak saling menyerang. Sambil menunggu hasil pertandingan lain. Para pemain saling mendekat dan berbisik. Pemain lawan juga membisikkan sesuatu ke rivalnya. Bola nyaris selalu berada di daerah pertahanan masing-masing. Saling umpan. Tanpa ada pemain lawan yang merebut bola. Hasilnya: 1-1. Chili tersungkur. Dan tersingkir. (Lihat video).

Maka janganlah lecehkan Messi. Ingatlah ini: tanpa tiga gol Messi di babak penyisihan Argentina sudah senasib dengan Chili.

Bahwa di Barcelona ia seperti the Black Stallion mungkin karena ini: iklim team secara keseluruhan memang mendukungnya. Barcelona adalah team perjuangan. Emosinya emosi perjuangan. Seperti ehm Persebaya sekarang ini.

Barcelona adalah alat perjuangan: membawa missi pro kemerdekaan Cataluna. Dari kerajaan Spanyol. Yang kalau merdeka ibukotanya di Barcelona. Lihatlah kalau Barcelona lagi bertanding. Home. Begitu banyak berkibar bendera Cataluna. Tidak ada satu pun bendera Spanyol.

Karena itu Barcelona harus selalu menang lawan klub Espanol: sebuah klub di Barcelona yang didirikan untuk pro-integrasi.

Dan jangan lupa: Barcelona juga harus menang setiap melawan Real Madrid. Klub dari ibukota Spanyol itu.

Penuh dengan emosi. Sepakbola tanpa emosi… apalah apalah apalah artinya.

Tidak percaya? Cobalah nonton pertandingan piala dunia sekarang ini. Cobalah jangan memihak salah satunya. Di mana asyiknya?

Menonton sepakbola itu harus memihak. Asyik…. bisa seperti jaran goyang.

Misalnya saat Mesir lawan Saudi Arabia. Sama sekali tidak menarik. Sama-sama Arabnya. Sama-sama sudah tersingkirnya. Tapi tetap saja saya akan memihak Mesir. Karena ada Mo Salahnya.

Memang ia dapat hadiah rumah di dekat Mekkah. Oleh raja Saudi. Setelah Salah mencetak gol terbanyak di Inggris. Dan mendapat tropi pemain terbaik Inggris tahun ini.

Tapi saya tetap memihak Mesir: karena ia Liverpool.
Padahal mestinya saya itu memihak Chelsea. Di Chelsea-lah saya belajar mengelola supporter sepakbola.

Atribut Persebaya itu dulunya terinspirasi dari Chelsea. Tapi emosi saya tetap di Liverpool: sejak Liverpool dapat hadiah penalti. Penendangnya sengaja tidak mau memasukkan bola penalti itu. Tidak seharusnya Liverpool dapat penalti. Wasit lah yang salah lihat.

Tanpa teknologi VAR pun Liverpool sudah fair play. Pokoknya sepakbola itu penuh emosi. Teknologi VAR justru akan mengurangi derajat emosi itu.

Kenapa tidak menambah wasit saja? Menjadi dua? Seperti di basket?

Bayangkan: bagaimana penonton baru bisa meneriakkan ”gooool…” dua menit setelah bolanya masuk gawang. Di mana asyiknya?

Teriakan gooool yang tertunda itu ibarat main seks yang ejakulasinya tersendat.

Tanyakan saja pada Xherdan Shaqiri. Saat pemain Swiss ini mencetak gol kemenangan lawan Serbia. Sabtu dini hari lalu.

Selebrasi Shaqiri bikin heboh. Mungkin ia akan kena denda. Ia copot kausnya. Ia peragakan jempol dan jarinya. Melambangkan bendera Albania.

Shaqiri memang warga Swiss. Tapi darahnya Albania. Waktu kecil ia diajak orangtuanya mengungsi ke Swiss. Setelah suku Albania yang Islam ditindas habis di Serbia.

Akibat perang Balkan itu Albania dan Serbia memisahkan diri dari Yugoslavia.

Perang Balkan ternyata berlanjut di Piala Dunia. Shaqiri salah. Pemain klub Stok City ini membawa politik ke pertandingan sepakbola.

Saat ditanya mengapa mantan pemain Bayern Munchen dan Inter Milan ini melakukan itu jawabnya singkat: saya tadi emosi. Dendam turunan rupanya dibawa ke bawah sadarnya. (dis)

Latest News

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

Tambah Puyeng, Suami Nganggur

RADARSEMARANG.COM, LADY Sandi, 38, harus siap menanggung beban dua kali lebih besar setelah menjatuhkan talak suaminya. Bukan tanpa alasan, John Dori, 45, yang gagah...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Kebut Pengesahan Coach Vincenzo

RADARSEMARANG.COM - SETELAH Resmi dikontrak, kini manajemen tim PSIS Semarang terus mengebut proses pengesahan pelatih anyar mereka Vincenzo Alberto Annese agar bisa segera mendampingi...

Oleng, Kijang Tabrak Truk

MUNGKID—Kecelakaan terjadi di jalan raya Magelang-Purworejo, pada Selasa (19/9) malam, pukul 23.00. Kecelakaan antara mobil Toyota Kijang G 8940 PE dengan Truk Nisan H...

Daging Palsu Yang Memikat Nafsu

SEMUA menu berbahan dasar sayur. Itulah yang diusung pemilik rumah makan Karuna, yang berlokasi di Jalan Depok 47, Semarang itu. Sang pemilik ingin memfasilitasi...

Qasima Hibur Pegawai Pemkot Magelang

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Kehadiran grup musik Qasidah Irama Melayu Magelang (Qasima) menyegarkan suasana Halal Bihalal Pegawai Pemkot Magelang, Kamis (21/6). Mereka membawakan sekitar 12...

Permintaan Daging Tinggi

RADARSEMARANG.COM - Permintaan daging sapi meningkat hingga 10 kali lipat setelah lebaran dengan harga Rp 120 ribu/kg atau naik Rp 10.000 dari harga normal....

Wali Kota Raih Anugerah Dana Rakca

SEMARANG- Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, kembali mendapat penghargaan dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Penghargaan tersebut menjadi apresiasi karena beberapa tahun terakhir dinilai...