33 C
Semarang
Rabu, 27 Mei 2020

Selasa Pamitan, Kamis Ditemukan Tewas

Guru SMP Terang Bangsa Dibunuh

Another

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

RUBEN (REPRO: AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
RUBEN (REPRO: AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pembunuhan terhadap Debora Sriani Setiawati, 50, masih misterius. Aparat Reskrim Polrestabes Semarang masih mengusut tuntas pelaku pembunuhan wanita yang sehari-hari menjadi guru SMP Terang Bangsa Semarang ini. Dugaan kuat, pelaku adalah orang yang dekat dengan korban.

Putra bungsu korban, Henemia Bayu Sunarto Putra mengaku bertemu kali terakhir dengan ibunya Selasa (19/6) pagi lalu. Saat itu, ibunya berpamitan hendak menengok neneknya, Mak Heni, di Jalan Senjoyo II Nomor 37B Bugangan, Semarang Timur.

“Selasa itu kita baru sampai dari Bandung, paginya mamah pamitan. Dia (Debora, Red) bilang ‘Mamah pergi nengok nenek dulu, sekalian kasih makan’. Setelah itu saya tidur,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumah duka RS Panti Wilasa Citarum Semarang, Jumat (26/6).

Bayu yang kemarin mengenakan kemeja putih ini mengaku tidak memiliki pikiran apapun saat ibunya meninggalkan rumah. Sebab, merawat neneknya telah menjadi rutinitas, karena sang nenek sedang sakit. Menurut Bayu, Debi –sapaan akrab korban– memang sering mengunjungi ibunya untuk memandikan dan membawakan makanan.

Baca Juga: Polisi Buru Putra Sulung Korban

“Saya tidur itu sampai sore, setelah bangun kemudian saya pergi main sampai malam. Nah waktu saya pulang itu, mamah belum di rumah. Saya pikir paling mamah nginap di rumah nenek,” ujar mahasiswa Universitas Semarang (USM) itu.

Keesokan harinya, Rabu (20/6), Bayu mulai curiga lantaran sang ibu tak kunjung pulang. Namun demikian, Bayu tak berprasangka buruk. Dalam pikirannya, sang ibu sempat pulang kemudian kembali ke tempat neneknya. Pasalnya, Bayu mengaku pada hari tersebut dirinya tidak bangun pagi.

“(Rabu) Itu siang saya main lagi, sampai malam. saat saya pulang kok mamah nggak ada. Soalnya saya tahu, mamah itu kalau ada apa-apa pasti SMS atau telepon. Tapi saat saya telepon, saya malah dengar suara HP-nya di rumah. Mungkin tertinggal. Tapi tidak berani nyari karena kan privasi ya,” terang putra kedua korban ini.

Mengetahui hal itu, Bayu mengira jika ibunya sempat pulang ke rumah, namun keluar sebentar untuk mengecek neneknya atau membeli makanan. Baru pada Kamis (21/6) sekitar pukul 16.00, Bayu yang sedang bersama teman-temannya menerima telepon dari pamannya, Daud Andi Suryanto,  mengabarkan kalau ibunya meninggal dunia.

“Saya kaget, awalnya saya pikir itu bercanda. Karena tanggal 16 Juni lalu kan saya ulang tahun. Saya kira mau bikin kejutan. Sempat panik, terus saya jawab sing nggenah Koh Daud, Ya wis tak mrono,” tuturnya.

Tanpa berpamitan dengan teman-temannya, Bayu langsung pergi menuju ke rumah neneknya di Jalan Senjoyo II/37B. Bayu mengaku masih mengira pamannya bercanda dan ibunya akan memberi kejutan. Namun betapa terkejutnya dia, saat membuka pintu dan melihat tubuh kaku ibunya meringkuk dengan bercak darah kering di sekitarnya.

“Waktu saya buka pintu itu sudah tercium bau tidak sedap, dada saya makdeg. Pas saya lihat di lorong, ibu sudah terbujur kaku dan membengkak, sama banyak darah udah kering di sekitarnya,” tambahnya.

Setelah itu, ia bersama pamannya, Daud Andi Suryanto, yang tak lain adik kandung korban, melaporkan kejadian tersebut kepada petugas Polsek Semarang Timur dan Polrestabes Semarang. Tak berselang lama, petugas Inafis Polrestabes Semarang datang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Aparat polrestabes juga sempat menurunkan anjing dari Unit K9 untuk mencari jejak sebagai bukti tambahan.

Kasatreskrim Polrestabes Semarang AKBP Fahmi Arifriyanto saat dihubungi menjelaskan, saat ini pihaknya masih melakukan pengembangan dari bukti-bukti yang ada. Dugaan sementara, pelaku pembunuhan merupakan orang terdekat yang masih keluarga korban. “Saat ini, kami masih melakukan pengembangan dan pengejaran. Dari keterangan dan bukti yang ada mengarah pada orang terdekat korban,” katanya.

Pantauan di lokasi kejadian, Jumat (22/6) kemarin, tampak sepi. Warga sekitar Jalan Senjoyo II terlihat sesekali melintas dan melakukan aktivitas seperti biasa. Garis polisi masih melintang di pagar rumah ibu korban yang kondisinya cukup berantakan. Sedangkan di rumah duka RS Panti Wilasa Citarum, Bayu tampak ramah menyapa tamu yang hendak memberikan penghormatan terakhir pada jenazah ibunya. (tsa/aro)

Latest News

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi sering sungkan minta sangu kepada...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat musiknya mulai terasah, juga kegemarannya...

More Articles Like This

Must Read

Sekda Mengaku Diperintah, Bupati Kebumen Membantah

SEMARANG –Bupati Kebumen Muhammad Yahya Fuad membantah pernyataan Sekretaris Daerah (Sekda) Kebumen (nonaktif) Adi Pando­yo saat diperiksa sebagai saksi atas perkara dugaan suap di...

OPPO Luncurkan F5, Dipersenjatai dengan A.I. Beauty Recognition Technology dan Full Screen FHD+

SEMARANG-Akhirnya OPPO Indonesia resmi meluncurkan perangkat Selfie Expert terbarunya, yaitu OPPO F5. Smartphone yang dipersenjatai dengan A.I Beauty Recognition Technology yang ditanamkan pada kamera...

Korban Terakhir Tersangkut Alat Berat

TERPISAH, proses pencarian korban hilang banjir bandang di Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, kemarin, resmi dihentikan. Korban terakhir Masinem, 80, ditemukan pukul 09.15 pagi tadi. Korban...

Strategi Pembelajaran Membaca Menulis Permulaan

RADARSEMARANG.COM - ANAK usia SD masih perlu banyak belajar tentang membaca menulis permulaan (MMP). Agar lebih mudah dalam mengajarkan membaca menulis permulaan bisa menggunakan...

Jateng Bisa Jadi Daerah Percontohan Bencana

SEMARANG – Tidak adanya anggaran gaji dan kegiatan bagi 861 PNS peralihan di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dikhawatirkan membuat bencana lebih sering...

Pertigaan Samban Krodit

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Tidak adanya kantung parkir menjadi biang kemacetan di wilayah pertigaan Samban Kecamatan Bawen tepatnya disebelah kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Semarang. Kemacetan bertambah...