Beranda Features Jaga Cita Rasa, Pengasapan dengan Bara Api selama 12 Jam

Jaga Cita Rasa, Pengasapan dengan Bara Api selama 12 Jam

Mengunjungi ‘Kampung Mangut’ Tanggul Sari Mangunharjo Semarang

Others

Kampung Tanggul Sari, Kelurahan Mangunharjo, Tugu, Semarang sudah dinobatkan sebagai Kampung Mangut. Kampung ini merupakan salah satu sentra terbesar produksi ikan asap di Kota Atlas.

MIFTAHUL A’LA

RADARSEMARANG.COM – AROMA khas ikan panggang langsung tercium begitu masuk Kampung Tanggul Sari, Mangunharjo, Tugu. Setiap menyusuri gang, rumah dengan cerobong mengeluarkan asap. Ya, cukup beralasan, jika orang menyebutnya sebagai kampung mangut. Sebab, kampung ini menjadi sentra penghasil mangut terkenal di Kota Atlas.

Puluhan tahun warga Kampung Tanggul Sari menekuni pengasapan mangut. Bahkan, sudah diwarisi secara turun-temurun dan tanpa menghilangkan cita rasa khas Kampung Tanggul Sari.

“Ini sudah puluhan tahun. Saya generasi ketiga yang tetap melestarikan usaha pengasapan mangut di sini,” kata Sri Wahyuni, 46, salah satu warga Kampung Tanggul Sari yang memiliki usaha pembuatan ikan mangut.

Diakui, dibanding beberapa tahun lalu, jumlah pengusaha ikan mangut di kampung ini cenderung turun. Tidak sedikit, warga yang sudah tidak memproduksi ikan khas Semarang ini. “Apalagi setelah yang mempelopori meninggal, banyak generasi penerus yang memilih pekerjaan lainnya,” ucapnya.

Meski hanya tersisa beberapa pengusaha ikan asap, tapi untuk penyerapan produk ikan asap dari waktu ke waktu selalu meningkat. Sri Wahyuni mengaku dalam satu hari bisa memproduksi 150 kg -300 kg.

Menurut Sri Wahyuni, permintaan ikan mangut di pasaran semakin tinggi, bahkan terkadang ia tak bisa memenuhi permintaan tersebut. “Kalau permintaan ramai harus kerja keras. Karena memang cukup lama untuk menghasilkan mangut yang berkualitas,” ujarnya.

Dijelaskan, untuk memasak ikan mangut, membutuhkan waktu hampir 12 jam. Pengasapan harus dilakukan dengan cermat agar cita rasa ikan mangut enak dan bisa bertahan lama. Caranya, bara api harus tetap dijaga menyala dan berasap tanpa keluar kobaran api.

“Pengasapan selama 12 jam harus dengan bara, tak boleh keluar api. Kalau ada kobaran api, bisa merusak tekstur mangut,” tambah pengusaha ikan mangut lainnya, Subronto, 45.

Ia mengakui, untuk menjaga agar tetap lestasi sebagai kampung mangut tidaklah mudah. Terlebih saat ini persaingan pasar semakin ketat, ditambah lagi dengan bahan baku yang tidak mudah. Selain itu, sejumlah generasi penerus di kampung ini juga sudah mulai banyak yang melirik pekerjaan lainnya.

Ya tantangannya itu, jika anak muda di sini sudah enggan meneruskan usaha warisan orangtuanya,” ucapnya.

Dikatakan, untuk menghasilkan ikan mangut yang berkualitas, warga Tanggul Sari harus mendatangkan bahan baku dari luar kota. Seperti Blitar, Bojonegoro, bahkan sampai Kalimantan. “Itu untuk menjaga pasokan ikan aman. Tidak hanya itu, ikan juga harus fresh atau segar agar mangut yang dihasilkan berkualitas dan bisa bersaing di pasaran,” katanya

Untuk harga ikan mangut cukup mahal tergantung dengan kualitas dan cita rasanya. Harga normal per kg mencapai Rp 50 ribu-Rp 60 ribu. Namun saat Lebaran atau hari besar lainnya, bisa tembus hingga Rp 80 ribu-Rp 100 ribu per kg.

“Ini merupakan usaha warisan leluhur, dan saya akan terus menjaga usaha pengasapan ikan mangut ini. Kami berharap pemerintah bisa hadir memberikan bantuan agar produksi semakin besar dan harga semakin bagus,” harapnya. (*/aro)

Stay Connected

12,295FansSuka
35PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest News

Tesla Halmahera

Related News