33 C
Semarang
Minggu, 20 September 2020

Dibentuk Vas Bunga, Teko, hingga Tempat Tisu

Toni Yoga Pamungkas, Sulap Paralon Bekas Jadi Aneka Kerajinan

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Kreativitas bisa mendatangkan penghasilan. Setidaknya itu yang dilakukan Toni Yoga Pamungkas. Ia menyulap paralon atau pipa PVC bekas menjadi  aneka kerajinan tangan bernilai jual tinggi. Seperti vas bunga, hiasan dinding, pigura, celengan, dan sebagainya.

JOKO SUSANTO

RADARSEMARANG.COM – SERING kita menemukan pipa paralon bekas berserakan di tempat sampah. Bagi Toni Yogo Pamungkas, sayang kalau limbah itu dibuang. Ia kumpulkan lalu dibawa pulang ke tempat workshop­-nya  di Kampung Kliwonan RT 2 RW 3 Gunungpati, Semarang.

Berbekal keahliannya melukis, Toni mampu menyulap paralon bekas itu makin cantik dan unik. Paralon yang sudah dilukis itu dibentuk menjadi vas bunga, hiasan dinding, pigura, celengan dan beragam kerajinan untuk mempercantik rumah. Ia juga menyulapnya menjadi miniatur taman mini dengan pancuran yang kini sangat diminati. Selain itu, paralon bekas itu  bisa dibuat menjadi cangkir, teko, tempat tisu dan berbagai pajangan lainnya.

”Limbah paralon biasa saya cari sendiri. Kadang dari tukang rosok. Tapi, kalau ada pesanan cukup banyak,  ya terpaksa beli pipa baru,” kata Toni Yoga Pamungkas alias Toni Tomblok kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (21/6)

Dalam sehari, Toni mampu membuat 5-6 set produk yang tidak terlalu rumit, dan kurang lebih 3 produk untuk yang masuk kategori sulit.  Ia mengatakan, dibutuhkan sekitar 1,5 meter hingga 2 meter paralon bekas untuk membuat satu set kreasi, seperti cangkir dan teko. Untuk yang lebih simpel seperti lampu meja misalnya, tidak sampai 1 meter paralon.

“Saya kerjakan semuanya sendiri. Tanpa pola, hanya mengikuti kata hati dalam pembuatannya,”ujar pria lelahiran Semarang, 18 November 1980 ini.

Duda tiga anak yang biasa melukis kanvas ini mengaku, untuk membuat kerajinan dari pipa paralon tersebut butuh teknik khusus pembakaran dengan alat seperti proses las yang tidak mudah dikerjakan. Namun setelah mengetahui tekniknya, proses pembuatannya sebenarnya tidak terlalu rumit.

Dijelaskan, kali pertama membuat kerajinan ini, pipa paralon ukuran 4 inchi dibakar dengan flar bersuhu 60-75 derajat celcius. Pembakaran tersebut untuk memecah permukaan pipa hingga memunculkan motif atau tekstur. Bersamaan dengan pembakaran, pembentukan pipa sekaligus dilakukan dengan hati-hati agar tidak pecah.

Toni menjelaskan, untuk membentuk paralon menjadi celengan atau tempat tisu, diawali paralon yang sudah dicuci dipanaskan bagian permukaan dengan blower. Paralon yang digunakan harus tebal. Untuk pralon yang tipis, tidak bisa dipanaskan, tetapi ditembak menggunakan airbrush.  Pemanasan ini juga bertujuan membuat paralon menjadi lempengan datar. Setelah peralon datar, lalu ditindih menggunakan keramik sekitar 10 menit supaya paralon benar-benar rata. Kemudian paralon yang sudah lempeng dipotong sesuai ukuran, dan ditempelkan ke paralon yang masih berbentuk lingkaran dengan lem paralon.

“Jika sudah jadi, peralon diamplas hingga halus. Tinggal dibentuk sesuai dengan keinginan. Untuk ornamen lain juga bisa dibuat dari pipa yang kecil,” ujarnya.

Terkait konsumen hingga saat ini, diakuinya, masih sebatas Kota Semarang dan sekitarnya. Namun ia berharap akan semakin banyak lagi masyarakat yang menyukai hasil kreasi paralon bekasnya tersebut. Bahkan ia juga mulai berkreasi menyisipkan tokoh-tokoh pewayangan dalam kreasi paralonnya dengan media cat minyak atau akrilik.

“Kerajinan berbentuk taman dan pancuran ini sekarang banyak diminati, karena bisa mempercantik rumah dan tidak memakan tempat terlalu besar,” ungkap Toni yang mengaku sudah mulai merintis kerajinan tersebut sejak 2015.

Jika dibandingkan interior yang dijual di mal besar, harga karya Toni memang tergolong murah. Meski demikian, karya uniknya ini tak kalah menarik untuk dipajang di dalam rumah. “Harganya tergantung bentuk dan ukuran serta kerajinanya dibentuk, biasanya dari Rp 30 ribu hingga Rp 1juta,”ujarnya. (*/aro)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Periksa Enam Saksi, Tuggu Hasil Otopsi

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Polrestabes Semarang telah memeriksa enam orang saksi atas tewasnya Kurniawan, 29, wrga asal Karang Tengah, Demak, yang ditemukan di sebuah bangunan...

Kiai MPC Inginkan Rochmad Fauzi

TEMANGGUNG—Ketua DPC PPP Kabupaten Temanggung, Rochmad Fauzi, telah mengambil dan mengembalikan formulir bakal calon wakil bupati (Bacawabup) penjaringan di partainya.  Meski membidik posisi calon...

Cegah HIV/AIDS, Anggota TNI Jalani Tes Darah

DEMAK-Sebanyak 116 personel Kodim 0716 Demak, menjalani tes darah. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa yang bersangkutan tidak terjangkit HIV/AIDS. Kasdim 0716 Demak Mayor Arm Dede...

Empat Tokoh Akan Maju Jalur Independen

SEMARANG – Meski nuansa Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018 masih terasa adem ayem, ternyata sudah ada empat orang di Jateng yang diperkirakan akan maju...

Diminta Tegas Tutup Penambangan Ilegal

SEMARANG - Penambangan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) yang berada di Sukolilo, Jawa Tengah  begitu masif. Padahal secara undang-undang, kawasan tersebut tidak boleh dieksploitasi...

Produk UMKM Kaum Difabel

SEJUMLAH anggota Komunitas Difabel Semarang (Kondang) membuat aksesori dari bahan rajut dan daur ulang di Stan Expo Banjir Kanal Barat Festival 2017, Kamis (18/5)....