33 C
Semarang
Minggu, 12 Juli 2020

Festival Kali Kupang, Simbol Akulturasi Budaya Pesisir

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN –  Wilayah Krapyak di Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, merupakan kawasan pesisir utara pulau Jawa, yang pada masa lampau memiliki peran strategis karena dilintasi sungai yang menjadi jalur transportasi air ke Pekalongan. Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, digelar Festival Kali Kupang, yang menunjukkan akulturasi budaya di pesisir Pekalongan.

Di masa perdagangan nusantara, para pedagang dan pendatang masuk Pekalongan melalui Sungai Kupang atau Sungfai Loji yang membelah Kota Pekalongan. Di sepanjang jalur sungai inilah, dulu didatangi penduduk dari berbagai suku dari berbagai daerah.

“Sebelum menggelar acara ini, kita cari fakta sejarah, bahwa dulu memang banyak pendatang di pesisir Pekalongan. Ini kami simbolkan dengan 6 kapal yang kita arak,” jelas wakil Ketua Panitia Festival Kalikupang Zainal Muhibin, Rabu (20/6).

Keenam Kapal tersebut, antara lain dari daerah Sumbawa yang identik dengan pedagang dan penenun yang kini menjadi daerah Sumbawan. Kemudian daerah Bugis Makassar dengan ciri membuat kerajinan dan ada daerah Bugisan. Lalu dari daerah  Kaluang Kalimantan atau Kalong atau daerah Banjar kini jadi Kampung Banjarsari. Kemudian para nelayan dan pedagang dari Sampang Madura, kini jadi Kampung Sampangan, dan tuan rumah sendiri adalah Mataram Islam.

Pada festival yang didatangi ribuan penonton tersebut, kapal-kapal diarak dari Pelabuhan Pekalongan menuju area Fetival Krapak di Monumen Krapyak. Satu buah kapal sejenis kapal Jukung atau kapal kecil untuk menangkap ikan di pesisir laut atau sungai, diisi dua orang pasangan laki-laki dan perempuan mengenakan pakaian adat dari 6 daerah.

Setelah dilepas secara simbolis oleh wali kota beserta jajarannya, kapal diarak lagi menuju dari Landungsari. Di sepanjang perjalanan, menjadi tontonan warga.

Wali Kota Pekalongan H Salenay Mahfudz mengatakan, bahwa festival ini adalah edisi perdana. Tujuannya menjaga tradisi kuno warga Pekalongan. Serta bertujuan untuk menjaga keletarian Sungai Kupang atau Loji.

“Mari kita jaga bersama tradisi dan sungai ini, terutama generasi muda harus paham sejarah dan tradisi daerahnya,” jelas wali kota.

Selain Festival Kali Kupang masih banyak acara menarik lain. Rangkaian Festival Syawalan 2018 di Kota Pekalongan ada  Kirab Jlamprang Kultur pada Kamis (21/6), Jumat (22/6) Tradisi Pemotongan Lopis Raksasa dan dilanjutkan dengan Batik, Jazz Batik dan fashion show. (han/zal)

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Agamawan Kutuk Kekerasan di Myanmar

SALATIGA – Belasan aktivis Forum Agamawan Lintas Iman (Kita Famili) Kota Salatiga mengutuk keras aksi kekerasan berlatar belakang agama yang menimpa penduduk Rohingya di...

SMA/SMK Tunggu Pergub

SEMARANG - Pelimpahan kewenangan pengelolaan SMA/SMK dari kabupaten/kota ke provinsi, membuat  pihak sekolah terus memutar otak untuk meng-cover anggaran yang dikeluarkan untuk kebutuhan siswa,...

Melawan Hoax Melalui Pembelajaran Bahasa Inggris

RADARSEMARANG.COM - HOAX merupakan fenomena sosial yang sedang ‘naik daun’ di masyarakat. Hampir setiap detik muncul hoax yang merajalela di dunia maya. Parahnya banyak...

Isolasi dan Krisis Kemanusiaan

PEMELUK agama punya tanggung jawab merespon krisis kemanusiaan (humanitarian crisis). Krisis kemanusiaan  terjadi karena manusia mulai mengabaikan nilai-nilai luhur agama, tradisi, nilai universal. Ego...

IPS, Cara Mengenal dan Memahami Peserta Didik

RADARSEMARANG.COM - MENGENALI dan memahami peserta didik bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan seorang guru yang sekaligus sebagai pendidik, apalagi bagi guru SMP di...

Tambah Kuota dan Perhitungan Caleg Perempuan

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN - Ada yang berbeda dalam pemilihan anggota perwakilan rakyat tahun 2019 mendatang, untuk Kota Pekalongan. Selain ada penambahan kuota juga akan memperhitungkan...