28 C
Semarang
Sabtu, 12 Juni 2021

Menciptakan Budaya Kerja Industri di SMK

RADARSEMARANG.COM – SESUNGGUHNYA pendidikan merupakan pembudayaan (encultural), suatu proses untuk mentasbihkan seseorang mampu hidup dalam suatu budaya tertentu. Konsekuensi dari pernyataan ini, maka praktik pendidikan harus sesuai dengan tuntutan budaya kerja industri sebagai bagian dari budaya masyarakat. Kebutuhan akan implementasi program budaya kerja sesuai standar industri dianggap penting dan genting untuk segera dilaksanakan di sekolah dalam rangka menyiapkan lulusan yang siap menghadapi ketatnya persaingan dunia kerja di era global saat ini.

Program budaya kerja industri bertujuan mengimplementasikan standar sikap kerja tidak hanya sebatas mengerti jelas, tetapi juga memahami maksud-maksud yang terkandung di setiap sikap kerja antara lain; keselamatan & keamanan, kualitas, kuantitas, biaya dan manusia. Sasaran budaya kerja industri di SMK adalah siswa, tenaga pendidik, tenaga non kependidikan, lingkungan kerja, dan lingkungan belajar.

Jurusan akuntansi yang sampai saat ini masih menjadi jurusan favorit di SMK Program Bisnis Manajemen, tidak dapat terlepas dari  hubungan kerjasama dengan dunia usaha/ dunia industri (DU/DI). Keterikatan dari sisi input/masukan, tentang materi dan bahan ajar yang sesuai tuntutan DU/DI, dari sisi proses pelaksanaan pembelajaran teori dan praktek serta praktek kerja industri, dan dari sisi output dalam rangka memasarkan tamatan yang cakap dan kompeten (hard skill dan soft skill) untuk dapat diterima dunia kerja.

Konsep program budaya kerja di jurusan akuntansi SMK meliputi pengembangan soft skill dan hard skill. Pengembangan soft skill diwujudkan dalam pengembangan budaya industri di sekolah dimulai dari peningkatan wawasan melalui seminar atau workshop akuntansi, kemudian diikuti penerapan sikap dalam kegiatan sehari – hari baik dalam komunikasi / tata pergaulan maupun dalam kegiatan praktik di laboratorium akuntansi. Melalui cara ini budaya kerja diharapkan akan terinternalisasi sampai pada tataran afektif dan psikomotorik peserta didik.

Sedangkan pengembangan hard skill diwujudkan dalam peningkatan keterampilan dalam menciptakan produk sesuai kompetensi kejuruannya, di mana produk-produk yang dihasilkan selalu diupayakan memenuhi standar industri.

Sasaran dari program budaya kerja ini adalah perubahan sikap kerja yang berdasarkan standar kerja di industri, yakni 1)Work Habit (Kebiasaan kerja), 2) Basic Mentality (Dasar Mental), 3) 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) yaitu proses perubahan sikap dengan menerapkan penataan dan kebersihan tempat kerja, 4) KYT (K=Kikin=Bahaya, Y=Yoshi=Duga, Training=Latihan) yaitu tindakan keselamatan dalam bekerja, 5) APD (A=Alat, P=Pelindung; D=Diri) yaitu alat keamanan dalam bekerja, 6) JI ( Job Instruction ), SOP (Standart Operational Prosedure) yaitu standar/ pedoman pokok dalam bekerja yang merupakan aturan secara tertulis untuk menjalankan pekerjaan, 7) QCC (Qualiti Control Circle) atau GKM (Gugus Kendali Mutu) yaitu sistem pengawasan dan evaluasi dalam kerja, 8) One Sheet Report yaitu kertas kerja sebagai acuan kerja, 9) Horenso (Hokoku=Melapor, Renraku=Menghubungi, Sodan=Meminta Nasehat), yaitu prosedur kerja dalam setiap pekerjaan yang diberikan atasan, 10) KAIZEN (KAI= Perubahan, ZEN=Baik), yaitu harapan/ tujuan kerja, 11) Presentation Skill (pelaporan dalam pekerjaan) yaitu penyajian laporan keuangan sebagai produk akuntansi.

Program Budaya Industri diperlukan karena adanya tuntutan dunia industri terhadap mutu lulusan SMK yang kompeten baik dari aspek hard skill maupun soft sklill sehingga situasi industri sudah terpola/ membudaya di lingkungan sekolah. Program budaya industri terbukti mampu menjawab kebutuhan akan perlunya suatu program yang menjembatani kesenjangan antar budaya kerja di industri dengan budaya kerja di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terhadap standar kerja yang dibutuhkan oleh industri. (igi2/aro)

Guru Akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga

Latest news

Garuda Ayolah

Related news