Model Pembelajaran TEFA Implementasi Revitalisasi SMK

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

RADARSEMARANG.COM – Demand oriented suatu konsep yang lebih mendasari pembelajaran berbasis teaching factory (TEFA), membekali para peserta didik dengan karakter kewirausahaan (technopreneurship) dan melibatkan dunia usaha atau industri sebagai mitra utama. Hal ini akan terwujud melalui pola Teaching Factory. Kerjasama (partnership) yang dibangun secara sistematis dan berdasarkan pada win-win solution menjadikan teaching factory sebagai penghubung antara dunia pendidikan dengan dunia usaha/industri yang akan mendorong terjadinya transfer teknologi guna meningkatkan kualitas guru dan softskill bagi peserta didik.

Bentuk pembelajaran berbasis teaching factory, dimana teori belajar di sekolah digabung dengan pendekatan berbasis produksi ada sinkronisasi tuntutan dan standar pendidikan kejuruan dengan industri. Zainal Nur Arifin (2014), menuliskan ada tiga model teaching factory yang dikenal di sistem pendidikan kejuruan Indonesia:

Model 1

SMK menyediakan ruang untuk mitra industri membangun teaching factory dalam institusi lokal teaching factory justru replika pabrik mini sebenarnya. Peserta didik kejuruan belajar merakit dan menghasilkan barang untuk mitra industri, dengan SMK atau lembaga kejuruan yang bertanggung jawab atas pengelolaan teaching factory.

Model 2

SMK atau lembaga kejuruan membangun sebuah teaching factory bersama dengan mitra industri, dengan Teaching factory yang terletak di dalam atau di luar lokasi sekolah.

Model 3

Teaching factory mengambil bentuk kelas kerjasama khusus antara mitra industri dan sebuah SMK atau lembaga pendidikan kejuruan. Dengan demikian, peserta didik berlatih keterampilan mereka di dua tempat yaitu di laboratorium yang dimiliki oleh SMK atau lembaga kejuruan, dan di pabrik-pabrik sebenarnya yang dimiliki oleh mitra industri.

Model teaching factory yang pertama paling sering diterapkan bagi pendidikan di SMK. Jadi teaching factory ini sebagai model pembelajaran bagi peserta didik yang berbasis industri dalam rangka pembuatan suatu produk yang nantinya akan dikembalikan lagi pada industri mitra atau bisa juga dijual dan didistribusikan melalui unit produksi jurusan.

Penyelenggaraan pembelajaran teaching factory perlu diselenggarakan karena merupakan suatu konsep pembelajaran pada tingkat yang sesungguhnya.  teaching factory perlu diselenggarakan di sekolah antara lain dengan pertimbangan: a) Meningkatkan kompetensi guru dan peserta didik, b) Mendorong terciptanya budaya mutu di sekolah, c) Menciptakan budaya industri di sekolah, d) Wahana kreativitas dan inovasi peserta didik dan guru, sarana pengembangan entrepreneurship di sekolah, e) Tempat magang dan penampungan lulusan yang belum mendapat pekerjaan di dunia industri atau dunia usaha.

Peningkatan  kompetensi peserta didik dalam mata pelajaran produktif dapat terwujud melalui proses pembelajaran teaching factory. Siklus model ini memiliki enam langkah sebagai berikut:

  1. Menerima pemberi order
  2. Menganalisis order
  3. Menyatakan kesiapan mengerjakan order
  4. Mengerjakan order
  5. Melakukan quality control
  6. Menyerahkan order

Elemen-elemen penting harus mendasari dan medukung proses pembelajaran berbasis Teaching factory. Sebagaimana dikemukakan oleh GIZ, Elemen Teaching factory meliputi jadwal blok, RPP, Jobsheet, Produk, dan Lulusan SMK. Dengan kata lain  bahwa teaching factory dapat dilaksanakan dengan model pembelajaran sistem blok yang didiukung dengan RPP dan jobsheet. Adanya RPP dan jobsheet ini sebagai dasar untuk membuat produk sesuai permintaan dari mitra industri. Proses pembelajaran dalam Teaching Factory berada pada proses pembuatan produk ini. Keberhasilan untuk menghasilkan tamatan yang kompeten adalah pada kemampuan menghasilkan produk yang sesuai dengan permintaan industri. (*)

Disarikan dari 10 Langkah Revitalisasi SMK)

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -