32 C
Semarang
Jumat, 25 Juni 2021

Menepis Kebosanan Belajar Sejarah dengan Bermain Peran

RADARSEMARANG.COM – SEJARAH tidak sekadar kejadian masa lampau, tetapi pemahaman masa lampau yang di dalamnya mengandung berbagai dinamika, mungkin berisi problematika pelajaran bagi manusia berikutnya (Moh Hatta). Hal itulah yang harus dipahamkan kepada peserta didik, khususnya tingkat SMP. Pembelajaran sejarah dengan tema perlawanan terhadap Kolonial Belanda, mulai perlawanan Mataram, Diponegoro, Maluku, Aceh, dan sebagainya, mutlak wajib disampaikan kepada peserta didik kelas 8 semester genap  pada jenjang SMP sesuai dengan kurikulum yang berlaku saat ini .

Tidak bisa dipungkiri, belajar sejarah memang dianggap membosankan. Itu karena sejak dahulu kita belajar sejarah dengan cara menghafal nama, tempat, dan tahun kejadian. Gambaran bahwa guru menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa masa lalu, peseta didik diminta mendengarkan, mencatat , dan kurang diberi kesempatan terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Sehingga kurang menarik dan kurang menantang dan menjenuhkan.  Hal ini juga  merupakan salah satu tantangan dalam pembelajaran sejarah yang merupakan salah satu bagian dari pelajaran IPS.  Akibatnya, daya serap materi cenderung rendah dan hasil belajar tidak optimal. Kemungkinan lain bersumber dari sarana dan prasarana sekolah antara lain kurangnya sumber dan bahan ajar, lokasi sekolah yang jauh dari situs-situs sejarah maupun museum sejarah, serta media pembelajaran yang masih kurang memadai. Selain itu dari sisi peserta didik diantaranya adalah peserta didik tidak mengetahui  manfaat mempelajari sejarah sehingga peserta didik kurang berminat.

Oleh karena itu, guna menaklukkan rasa jenuh, guru perlu melakukan upaya untuk mengubah paradigma bahwa belajar IPS sama dengan menghafal materi yang demikian padat. Guru sejarah harus berpikir kreatif, bagaimana mempersiapkan metode pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan. Belajar sejarah sambil bermain peran dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Selain bersifat memahami karakter pahlawan pejuang pada masanya juga bersifat menghibur, bermain peran juga lebih mudah memahami perjalanan sejarah bangsanya sendiri.  Pembelajaran yang menyenangkan membangkitkan motivasi dan antusiasisme peserta didik mengikuti pelajaran. Adapun langkah- langkah metode belajar sejarah dengan bermain peran, yakni: Pertama, diawali dengan penyampaian tema  yakni  “Perlawanan kesultanan terhadap Belanda.” Tujuan pembelajaran dan alokasi waktu 2 x tatap muka (4 x 40 menit).

Kedua, kelas dibagi dalam 4 kelompok dengan anggota 6 peserta. Ketiga, setiap kelompok, diberi tugas diskusi membuat naskah drama singkat sejarah perlawanan Belanda  dengan tema perlawanan kesultanan yang berbeda-beda dengan mengambil sumber dari buku paket, buku sejarah yang relefan, dan internet .

Keempat, peserta didik dalam kelompok diminta mempresentasikan di depan kelas dalam bentuk pertunjukan drama singkat, dengan tokoh-tokoh pahlawan yang diperankan peserta didik. Kelima, kelompok lain diminta memberi tanggapan atas pertunjukan drama singkat yang dipresentasikan dan menanyakan cerita drama singkat yang belum dipahami. Keenam, peserta didik bersama guru mengambil simpulan atas cerita pertunjukan drama singkat tentang perlawanan kesultanan terhadap Belanda.

Dengan diterapkannya pembelajaran sejarah dengan model pertunjukan drama singkat yang diperankan  peserta didik , peserta didik lebih antusias secara mandiri maupun berkelompok, karena model pembelajaran ini mempunyai karakter yang mudah dan menyenangkan, sesuai dengan perkembangan jiwa peserta didik yang umumnya senang diajak bermain peran. Peserta didik lebih mengetahui dan memahami karakter tokoh pahlawan. Ditambah dengan metode pembelajaran yang tidak monoton karena guru melibatkan peserta didik berperan aktif , diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, peserta didik akan lebih menyukai dan menikmati  pelajaran sejarah. (igi2/aro)

Guru SMP Negeri 3 Salatiga

Latest news

Related news