32 C
Semarang
Selasa, 22 Juni 2021

Berbekal Pengalaman Jurnalis, Bertekad Bela Kaum Marginal

Hermansyah Bakri SH, dari Jurnalis Tekuni Profesi Advokat

Segudang perkara berhasil ditangani Hermansyah Bakri, sejak disumpah menjadi advokat pada 2014 lalu, melalui organisasi Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) pimpinan Prof Dr Todung Mulya Lubis SH LLM.

RADARSEMARANG.COM, DIO-sapaan akrab Hermansyah Bakri- mengawali karir sebagai jurnalis sejak tahun 1998. Kali pertama bergabung dengan koran Intijaya Jakarta, hingga dipercaya sebagai General Manager (GM) Rakyat Jateng (Jawa Pos Group) tahun 2014 silam. Namun sejak saat itu, ia memutuskan menanggalkan dunia jurnalis dan fokus sebagai advokat. “Saya memutuskan jadi advokat, karena melihat kaum marjinal tidak memperoleh keadilan selayaknya. Ini yang membuat saya tergerak,” tutur bapak dua anak saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya, Perumnas Krapyak, Jalan Julungwangi II, Nomor 258 A, Krapyak, Semarang Barat, Senin (11/6) kemarin.

Pertama kali terjun di dunia advokat, Dio menangani kasus perebutan lahan di Kendal. Pengalaman tersebut semakin menguatkan pilihannya sebagai advokat, hingga menangani kasus pengusuran permukiman warga Kebonharjo, Semarang. “Suka duka saat menjadi jurnalis, menjadi bekal bagi saya dalam menjalani profesi advokat,” kata Humas IKADIN Jateng dan Wakil Direktur LBH Ikadin Jateng ini.

Apalagi pengalamannya sebagai jurnalis orde baru, berbeda dengan jurnalis zaman now. Pada masanya, jurnalis zaman Presiden Soeharto harus berhadapan dengan pemerintahan otoriter. Kisah paling dia ingat adalah saat mendampingi petani tambak di daerah Mangkang yang terkena abrasi oleh perusahaan yang dekat dengan penguasa orde baru. Kala itu, petani tambak tak mendapatkan ganti untung sama sekali. Atas problem itu, para petani tambak hanya bisa meratapi nasibnya.

Hal itu berdampak baginya yang pernah diancam dibunuh. Bahkan salah satu rekannya Mohtar Sukidi, jenazahnya belum ditemukan hingga sekarang. “Waktu itu saya sampai lari dari kota ke kota. Merasa pada titik aman, setelah memasuki era reformasi, saya baru berani menunjukkan diri. Waktu itu, mengadu tidak ada gunanya, karena hasilnya pasti nonsen. Keluarga mengira saya sudah meninggal, karena tidak ada kabar. Begitu reformasi bergulir, saya baru berani pulang ke rumah,” kenangnya.

Wakil Ketua Bidang Internal Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Kota Semarang ini mengaku pernah membongkar jaringan perjudian di Semarang melalui pemberitaan. Atas berita itu, ia sampai dicari-cari preman, akhirnya ia bersembunyi di daerah Purwodadi, hingga aman.

Diakuinya, saat itu penghidupan sebagai jurnalis atau wartawan memang susah. Selain gaji yang minim, penghasilan lain sangat jarang. Namun nurani untuk menyuarakan kebenaran memang tertanam kuat.

“Saya pernah jalan kaki, menuntun sepeda motor dari Boja ke Semarang karena kehabisan bensin saat meliput. Kala itu, dompet hilang, posisi hujan, yang ada cuma helm. Sampai mau tukar helm dengan bensin, tapi tidak diperbolehkan oleh SPBU. Jadinya nuntun sepeda motor,” kenangnya.

Pria kelahiran Pemalang, 2 Desember 1978 ini mengaku hidup sebagai wartawan, benar-benar minus penghasilan. Namun ia sendiri senang, karena hobi menulis untuk menyuarakan kebenaran kaum marjinal. Hal itu berimbas, hingga sekarang, begitu menjadi advokat.

“Saya bertekad mendampingi permasalahan hukum yang dialami masyarakat di manapun berada hingga mendapatkan keadilan. Apalagi saat ini masih banyak warga yang belum mendapatkan akses pendampingan hukum yang layak, khususnya warga tak mampu,” ujar suami salah satu pegawai Kejaksaan Agung (Kejagung) ini.

Sejumlah perkara yang berhasil ditangani di antaranya, sengketa lahan di Kendal dan Pati, penggusuran rumah warga Kebonharjo, penggelapan pajak, korupsi, penipuan modus Pegawai Negeri Sipil (PNS), pelecehan oknum Satpol PP Semarang, penggelapan oknum Pemkot Semarang, narkoba, kasus cukai palsu, kasus penjualan aset perusahaan tanpa prosedur, gugatan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), prodeo, perceraian dan lainnya.

“Total kasus yang sudah saya tangani sebanyak 103 perkara sejak 2014 hingga sekarang. Baik perkara prodeo maupun profit. Bagi saya mengabdi untuk membela kebenaran harus terus dijalankan sampai hayat menjemput,” tandasnya. (joko.susanto/ida.nor.layla)

Latest news

Related news