33 C
Semarang
Rabu, 21 Oktober 2020

Percuma, Jika Sedimentasi Drainase Masih Tinggi

Polder Bubakan dan Berok Atasi Banjir dan Rob

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

RADARSEMARANG.COM – Penanganan banjir dan rob di Kota Semarang cukup kompleks. Pemkot Semarang sendiri terus melakukan upaya untuk menuntaskan masalah klasik kota ini. Mulai dari normalisasi sungai, pembuatan kolam retensi, pembendungan sungai, hingga memperbanyak pembuatan polder. Di antaranya, pembangunan polder Bubakan dan Berok. Meski begitu, sejauh ini, persoalan banjir dan rob masih menjadi ancaman bagi sebagian warga di wilayah Semarang Timur.

Taman air mancur di bundaran Bubakan sudah hilang. Kini, taman yang dulu juga menjadi tempat ngadem warga itu sudah berubah.  Sekeliling bekas taman sudah ditutup menggunakan seng proyek. Di dalamnya, terdapat alat berat untuk pengerjaan proyek.

Sama halnya di Bubakan, di Kawasan Jembatan Berok, kabar pembangunan polder masih belum diterima warga secara pasti. Sejumlah warga sudah mendengar. Hanya saja,warga tahunya kawasan tersebut akan dibangun pintu air.

Di lapangan, lokasi proyek juga sudah ditutup menggunakan seng. Jaringan listrik sudah mulai diputus. Sejumlah bangunan juga sudah mulai dibongkar. Selain bangunan bekas kantor pertamanan yang kabarnya belum lama selesai direnovasi, sejumlah warung juga sudah mulai diratakan. Beberapa pemilik warung pulang ke daerah asalnya.

”Ada dua pedagang di sekitar proyek yang sudah dibongkar. Di sini rencananya juga kena, karena katanya sini akan dibangun taman,” ujar Sumikem, 58, pemilik warung makan di Kampung Sleko.

Pakar Pengairan Dr Ir Nelwan Dipl HE mengapresiasi langkah Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi membangun Polder Bubakan dan Berok. Nelwan mengaku beberapa tahun yang lalu telah lebih dulu mengusulkan pembangunan tersebut.

“Waktu itu kalau tidak salah Kepala Dinas PU masih Agus Riyanto, Jadi, memang saya merasa bahwa kedua polder itu perlu. Sebab di Bubakan setiap kali hujan sedikit saja airnya sudah menggenang,” ungkap profesor berusia 70 tahun itu.

Nelwan menjelaskan, kolam retensi yang saat ini telah dalam pembangunan itu adalah langkah baik dari Pemkot Semarang untuk mengurangi bencana rob yang menjadi langganan di Kota Semarang. “Dengan pembangunan ini, masyarakat sekitar situ juga pasti senang, tahun depan sudah tidak kebanjiran lagi. Kan begitu harapannya,” ujar Nelwan.

Nelwan menyayangkan, peninggian Jalan Agus Salim dengan betonisasi. Ia tidak ingin menyalahkan pihak-pihak tertentu, hanya saja dari pembangunan tersebut seolah memperlihatkan perencanaan yang kurang matang.

Wong daerah situ kan sering tergenang. Selain itu, Jalan Agus Salim malah ditinggikan. Ya, airnya kan mengalir ke daerah yang lebih rendah. Harusnya pemerintah itu fokus untuk pembangunan kolam retensi atau polder, pembuangannya ke kali semarang,” tegasnya. “Perencanaan ini kadangkala juga dihadapkan dengan permasalahan anggaran yang waktunya terbatas,” sambungnya.

Nelwan mengatakan, terkait penyelesaian masalah drainase di Kota Semarang saat ini harus mulai berpikir untuk meninggalkan proyek yang sudah ada atau yang lama. Bahkan, kata dia, akan lebih baik jika Pemkot Semarang fokus pada pembangunan yang baru. “Tapi dengan syarat teknologi yang memungkinkan untuk air itu mengalir. Jadi, tidak perlu mengubah yang lama, tapi buat yang baru namun efektif,” tegasnya.

Nelwan menyoroti beberapa hal yang menurutnya tidak perlu menjadi fokus pemerintah. Salah satunya adalah rencana pembangunan Simpang Lima underground. Menurutnya, Pemkot Semarang bisa saja membangun asal sudah memastikan bahwa seluruh toilet umum di Semarang sudah wangi.

“Ini yang paling riil, hal detail seperti ini tidak diperhatikan. Mau seperti apa nanti baunya underground itu. Saya pernah survei di Simpang lima, saluran pembuangannya itu dipenuhi kepala sampai kaki kambing. Jadi, kotor sekali,” beber Nelwan.

Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, mengatakan, pengelolaan drainase wilayah Semarang Utara, Tengah dan sebagian di wilayah Semarang Barat, belakangan ini cukup terlihat hasilnya. “Sejumlah pekerjaan pembuatan kolam retensi di Tanah Mas, Polder Tawang, termasuk pembangunan Polder Bubakan dan Berok untuk serapan air di kawasan Kota Lama dengan bantuan dari pemerintah pusat. Ini tentunya akan mendukung penanganan masalah banjir dan rob,” kata Supriyadi.

Hanya saja, kata dia, persoalan sedimentasi di setiap saluran sungai maupun drainase harus dilakukan pengerukan secara rutin. “Sejauh ini, sistem drainase yang sudah ada ini banyak terjadi sedimentasi dan minim pengerukan. Sehingga seringkali drainase tidak sesuai dengan fungsi awal. Kalau saya lihat, hampir rata-rata terjadi sedimentasi cukup parah. Apalagi penurunan permukaan tanah di wilayah Semarang bagian utara setiap tahun mencapai 10 cm hingga 15 cm,” bebernya.

Menurut dia, permasalahan sedimentasi ini menjadi masalah yang berbahaya dalam jangka panjang. Program pemerintah harus disesuaikan dengan kebutuhan yang terjadi di lapangan.  “Jangan sampai nanti ketika air pasang, masih terjadi genangan rob. Ketika banjir turun, drainase harus lancar. Misalnya, di wilayah Jalan Kolonel Sugiono, ada rel kereta api yang melintasi sungai. Nah, kondisi sedimentasi seringkali membuat air meluber.

Untuk wilayah Semarang di bagian timur, lanjut Supriyadi, memang dalam kondisi darurat. Sejauh ini, belum seimbang dengan penataan dengan wilayah Semarang Tengah, Utara dan sebagian di wilayah Barat. “Sebab, normalisasi sungai di wilayah timur ini juga belum selesai. Sungai Tenggang, Sungai Sringin, Babon, dan Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). Ini memang harus bertahap,” katanya.

Seperti halnya ketika beberapa waktu lalu ada air pasang tinggi, parapet jebol di beberapa ruas di wilayah Kelurahan Trimulyo tak mampu menahan air laut. Akibatnya rob masuk permukiman. Menurutnya, wilayah Genuk dan Gayamsari masuk perlu dibuatka polder sebagai serapan air. Hal itu untuk mengantisipasi agar apabila tanggul maupun parapet yang disediakan sebagai penanganan darurat ini jebol, atau rob meluber, maka air bisa diarahkan ke polder. “Jangan sampai ketika air pasang, parapet tak mampu menahan air, sehingga mengakibatkan genangan air tidak bisa dikendalikan,” ujarnya.

Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mengatakan,  saat ini kawasan cagar budaya Kota Lama Semarang dalam proses pembangunan infrastruktur, yakni meliputi pembangunan jalan, drainase, polder, dan pembangunan jaringan utilitas kabel bawah tanah. Pembangunan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini ditargetkan selesai Desember 2018 mendatang.

Setelah pembangunan infrastruktur ini selesai, Kota Lama baru bisa dilakukan penataan menyeluruh. “Tahun ini fokus pembangunan Kota Lama dengan bantuan dari Kementerian PUPR. Di antaranya, pembangunan jalan, drainase, pembuatan dua polder, dan penataan jaringan kabel,” katanya. (amu/tsa/sga/aro)

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Traveling di Sela Kerja

DUNIA memang tidak selebar daun kelor. Ungkapan itu yang dipegang Ratih Mega Rizkiana. Wanita kelahiran Ambarawa Kabupaten Semarang, 8 Maret 1988 ini selalu menyisihkan...

Properti di Awal Tahun Lesu

SEMARANG – Pasar properti di awal tahun masih belum terlalu bergairah. DPD Real Estate Indonesia (REI) Jateng mencatat hasil penjualan properti pada pameran awal...