33 C
Semarang
Selasa, 4 Agustus 2020

Islam Agama Ramah Perempuan

Another

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan...

RADARSEMARANG.COM – ANNGKA kekerasan terhadap perempuan di Indonesia masih cukup tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya. Dari Catatan Tahunan Komnas Perempuan terungkap selama 2017 ada 348.000 kasus, 335.062 di antaranya adalah KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 259.10 kasus.

Upaya mengakhiri kekerasan ini menghadapi tantangan yang cukup kompleks, selain karena budaya patriarkhi yang begitu kuat di masyarakat, juga karena digunakannya justifikasi agama dalam membenarkan tindakan mereka.

Secara historis, diketahui bahwa Islam datang di saat kaum perempuan terdera dalam puncak keteraniayaan, yaitu suatu masa yang dikenal dengan istilah jaman ‘jahiliyyah’ (kebodohan). Jahiliyah dalam konteks ini bukan sekedar bodoh dalam arti lemah secara intelektual. Muhammad Fuad Abd al-Baqi dalam bukunya al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’an al-Karim mengartikan jahiliyah sebagai kondisi masyarakat yang mengacu pada tiga karakter, yaitu rasial, feodal dan patriarkhis.

Patriarkhisme pada jaman jahiliyyah memang sangat dominan. Perempuan pada masa itu dianggap hina, bahkan diragukan kemanusiaannya hingga dikira tidak bisa beribadah, tidak bisa mendapat pahala, dan tidak bisa masuk surga. Orang tua merasa malu jika yang lahir adalah perempuan, dan tidak sedikit dari mereka yang dikubur hidup-hidup. Jikapun diterima, perempuan dipandang sebagai barang yang dimiliki, bukan manusia yang bermartabat. Perempuan dinikahkan secara paksa pada masa kanak-kanak, diceraikan semena-mena, digantung tanpa cerai atau tetap dalam pernikahan, dipoligami tanpa batas, dijadikan jaminan hutang, dihadiahkan kepada tamu, dan tidak diberikan peran sama sekali dalam urusan sosial. Keadaan ini digambarkan Alquran di dalam surat al-Nahl/16 ayat 58-59.

Muhammad membawa risalah dan memperjuangkan penegakan nilai-nilai kemanusiaan, termasuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. Perempuan yang pada jaman jahiliyah diragukan kemanusiaannya dijawab tegas oleh Alquran bahwa perempuan adalah manusia (QS. al-Hujuraat, 49:13), perempuan yang tadinya dianggap bisa beribadah dan memperoleh pahala dijawab melalui QS. an-Nahl, 16:97, perempuan juga bisa masuk surga sebagaimana dijelaskan dalam QS.  an-Nisaa’, 4:124, dan perempuan tidak memiliki perbedaan dengan laki-laki karena ruhnya kekal dan dimintai pertanggungajwaban oleh Allah SWT (QS. al-An’aam, 6:94).

Deklarasi kemanusiaan perempuan ini diiringi dengan perubahan-perubahan dengan strategi memanusiakan perempuan langsung menuju “Sasaran Akhir”. Misalnya, penghapusan total atas tradisi penguburan bayi perempuan hidup-hidup (QS. an-Nahl, 16:58-59), kebiasaan mewariskan perempuan (QS. an-Nisaa’, 4:19), perkawinan sedarah (QS. an-Nisaa’, 4:23), dan pemaksaan pelacuran pada perempuan (QS. an-Nuur, 24:33).

Dus, Islam bukanlah agama yang diskriminatif, tapi pemahaman yang salah atas teks-teks Islam seringkali melahirkan pandangan yang diskriminatif. Perilaku diskriminatif terhadap perempuan adalah sisa tradisi jahiliyah, sementara perilaku simpatik, empatik, dan kerjasama adalah prinsip dan ajaran utama, yang meneguhkan Islam sebagai agama ramah perempuan. (*)

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang

Latest News

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

Arang Galang

Inilah jalan berliku itu. Tapi yang penting hasilnya: anak muda ini berhasil menjadi pengusaha. Bahkan jadi eksporter. Memang masih sangat kecil. Tapi arah bisnisnya...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

BJL 2000 Evaluasi Total

SEMARANG – Peluang tim BJL 2000 Semarang menembus babak final four ajang Pro Futsal League (PFL) 2017 sudah tertutup, menyusul hasil buruk dalam laga...

Jateng Diajak Stabilkan Harga Pangan

SEMARANG - Pemprov DKI Jakarta mengajak Pemprov Jateng untuk menstabilkan harga pangan dan produk pertanian. Salah satu upayanya dengan membangun gudang besar yang mampu...

Non Unggulan Beri kejutan

SEMARANG - Pemain unggulan pertama tunggal pra dini putri, Angelice Quinsha Helena dari Berkat Abadi Salatiga, takluk di partai final Djarum Foundation Kejuaraan Bulu...

Bagi Waktu dengan Lingkungan dan Keluarga

Lagi-lagi, Suparno menyampaikan istilah Jawa. Yaitu “Sekolaho Nang Ponorogo, Turumu Ning Ngisor Longan, Bantalanmu Merang. Pono diartikan hati nurani, jati diri manusia.Lalu Rogo itu...

Perlu Pembentukan Spesialisasi Relawan

MUNGKID-- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bakal serius memperhatikan para relawan kebencanaan di wilayahnya. Pemerintah akan menyiapkan program untuk spesialisasi para petugas penanganan bencana ini. "Jadi...

Warga Swakarya Tolak Pengosongan

SALATIGA- Puluhan warga di Perumahan Swakarya RT 04 RW 01, Kelurahan Tegalrejo, Salatiga menolak adanya perintah pengosongan oleh Detasemen Zeni Bangunan (Denzibang) Korem 073/Makutarama....