Mohon Kesehatan, Arak Dewa Obat

  • Bagikan
RITUAL TAHUNAN : Ratusan umat Tri Dharma Kelenteng Besar Tay Kak Sie memperingati kedatangan Dewa Obat atau Poo Seng Tay Tee ke-158 di Pantai Marina, Minggu (10/6) kemarin. (M NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RITUAL TAHUNAN : Ratusan umat Tri Dharma Kelenteng Besar Tay Kak Sie memperingati kedatangan Dewa Obat atau Poo Seng Tay Tee ke-158 di Pantai Marina, Minggu (10/6) kemarin. (M NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Ratusan umat Tri Dharma Kelenteng Besar Tay Kak Sie memperingati kedatangan Dewa Obat atau Poo Seng Tay Tee ke-158 di Pantai Marina, Minggu (10/6) kemarin. Umat mengarak Dewa Obat dari Kelenteng Tay Kak Sie menuju Pantai Marina dengan mengendarai truk.

Di pantai tersebut, umat melakukan ritual berdoa yang dipimpin oleh Kwa Tong Hay. Tepat pukul 13.00, Kongco Poo Seng Tay Tee kembali dibawa ke Kelenteng Tay kak Sie dengan mendatangi tujuh kelenteng di kawasan Pecinan Semarang.

Ketua Yayasan Tay Kak Sie, Tanto Hermawan mengatakan bahwa ritual doa tersebut rutin dilakukan setiap tahun pada bulan lima tanggal satu penanggalan Imlek. Namun sejarahnya ritual tersebut diawali tahun 1853 silam. Kala itu, Kota Semarang dilanda wabah penyakit, kemudian warga Tionghoa meminta bantuan ke negeri China yang mendarat di pelabuhan Bom Lama dengan membawa Dewa Obat.

“Sedangkan pada peringatan ke-158 kedatangan Dewa Obat, Poo Seng Tay Tee di halaman Kelenteng Tay Kak Sie ini, berlangsung berbagai atraksi kesenian dan ritual yang dimulai pukul 20.00,” jelasnya.

Sementara itu, di Pantai Marina, warga etnis Tionghoa memanjatkan doa tidak hanya kepada dewa obat, tetapi juga kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Dewa Bumi.

Usai melakukan ritual di Pantai Marina, kegiatan dilanjutkan dengan melakukan kirab di kawasan Pecinan pada pukul 13.00 hingga sore hari. Kirab itu sendiri diawali dari Jalan Beteng, umat Kong Hu Cu mengarak Dewa Obat dan bendera Tay Kak Sie. Arak-arakan tersebut dibawa mengelilingi Pecinan melewati beberapa kelenteng kecil.

Salah seorang umat, Vera, 46, mengaku mengikuti ritual tersebut dengan harapan dapat sembuh dari sakit yang telah diderita selama dua tahun ini. ”Dengan adanya ritual ini, kami berharap warga Kota Semarang terbebas dari rasa sakit dan diberi kesehatan,” katanya. (hid/ida)

  • Bagikan