33 C
Semarang
Rabu, 12 Agustus 2020

Menangkal Radikalisme melalui Gerakan Literasi Sekolah

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM – GERAKAN literasi sekolah bukanlah suatu terobosan dalam dunia pendidikan di negara tercinta ini yang tiada bermakna dan tanpa ada faedahnya serta tanpa tujuan mulia. Faktanya, sebagian besar orang Indonesia, tidak suka membaca. Ini tidak bisa kita elak lagi. Lihat saja apa yang orang-orang lakukan pada saat menunggu atau antre di manapun dan oleh siapapun.

Mulai dari masyarakat kelas bawah sampai kaum elite—tidak terkecuali siswa SMA/SMK—bisa dihitung dengan jari, jika kita menemukan pemandangan orang yang sedang membaca. Mereka justru disibukkan dengan obrolan atau asyik bersosial media melalui gadget.

Salah satu tujuan gerakan literasi sekolah adalah menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik. Nah, sekarang muncul lagi isu–isu terorisme, terkait paham radikal. Anak-anak muda mudah terpengaruh.

Ada apa sebenarnya dengan pendidikan kita? Sebenarnya sama sekali tidak ada yang salah dengan pendidikan kita. Kurikulum yang telah diramu dengan sedemikian rupa, telah mencakup pendidikan budi pekerti, pendidikan karakter, juga pendidikan agama. Jadi, apa yang salah? Dalam kasus ini, tidak ada gunanya jika kita mencari kambing hitamnya. Apalagi mengkambinghitamkan dunia pendidikan. Upaya pencegahan itulah yang menjadi sangat krusial. Salah satu upayanya melalui gerakan literasi sekolah.

Gerakan literasi sekolah diimplementasikan melalui kegiatan membaca selama 15 menit, sebelum pelajaran dimulai. Jangan pernah beranggapan bahwa gerakan ini sepele dan hanya membuang waktu percuma. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015, membaca buku non teks pelajaran, merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan budi pekerti. Karena buku-buku tersebut, merupakan sarana efektif untuk mengajarkan nilai moral tanpa menggurui.

Mengapa hanya 15 menit? Kegiatan membaca dalam waktu pendek–namun sering dan berkala–terbukti lebih efektif daripada membaca lebih lama. Kegiatan yang dilakukan secara ajeg dan sering, justru mampu menumbuhkan kebiasaan membaca.

Untuk itu, mari kita coba kegiatan membaca 15 menit secara ajeg ini sebagai salah satu upaya untuk menangkal radikalisme yang masih ada dan akan terus ada di Tanah Air ini. Upaya kita hanya bisa mengurangi dan menangkal agar tidak tumbuh subur di kalangan pemuda.

Maka, akan menjadi sangat efektif jika upaya penangkalan radikalisme, dimulai sejak anak usia sekolah (usia SMA/SMK). Jangan sampai otak mereka dikuras, dikosongkan, lantas diisi dengan doktrin-doktrin radikalisme. Bagaimana gerakan literasi sekolah dapat dijadikan langkah efektif untuk menangkal radikalisme siswa? Menyediakan buku-buku nonpelajaran yang ringan untuk dibaca, pengetahuan, dan pesan moral yang bermakna.

Tentu bacaan-bacaan yang demikian, telah diseleksi secara tuntas oleh guru dan dinyatakan aman untuk dibaca siswa. Misalnya, dengan menyediakan buku-buku yang mengajarkan cinta damai, dalam kaitannya dengan agama dan bermasyarakat.

Meski gerakan literasi tidak menuntut adanya tugas yang bersifat rutin. Hanya saja, langkah efektifnya dalam rangka menangkal paham radikalisme, perlu tindak lanjut kegiatan. Semisal, siswa diminta untuk bercerita dengan bahasa mereka sendiri. Dengan demikian, guru bisa menilai pemahaman mereka tentang konten buku serta sejauh mana mereka dapat menerima pesan tersebut.

Lantas, secara berkala, digelar diskusi yang dipandu oleh siswa sendiri dan guru sebagai narasumber untuk memberikan pencerahan dari perdebatan tentang isu-isu terkini. Selanjutnya, dilakukan bedah buku yang sarat pesan moral serta pengetahuan tentang keagamaan yang damai dengan mengadirkan narasumber di bidangnya. Pada kegiatan ini, berilah siswa ruang untuk bertanya jawab, karena pertanyaan dan pendapat siswa akan sangat menggelitik dan sebagai tolok ukur pemahaman keagamaan mereka. (*/isk)

Guru SMK N 2 Temanggung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Penipu Mahasiswa, Dituntut  Setahun

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Tiga terdakwa penipuan masuk Fakultas Kedokteran (FK) Undip melalui jalur khusus tanpa prosedur, tetap bernasib apes. Meskipun, para saksi korban tak dihadirkan dalam...

Mensos Terharu Dengar Cerita Aryati

MAGELANG–Menteri Sosial (Mensos) RI, Khofifah Indar Parawansa, memberikan dukungan moril kepada para korban musibah banjir bandang Dusun Sambungrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang yang saat...

Sekolah Kebudayaan dan Pewarisan Tradisi

Oleh: Djawahir Muhammad MENURUT Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminto, 1987) tradisi merupakan segala sesuatu (adat, kepercayaan, kebiasaan, aturan, dan ajaran) yang turun-temurun dari nenek moyang....

Wihaji-Suyono Raih 245.181 Suara

BATANG - Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Batang, Wihaji-Suyono resmi memperoleh suara 245.181 atau unggul 56.6 persen dari seluruh suara sah dakan pemungutan suara...

Coba Melawan, Penjambret Didor

TEMANGGUNG- Aksi nekat dilakukan dua pemuda asal Banjarnegara, Dedi Setiawan, 24, dan Mafiransyah Panggah Panandang, 24. Kedua pemuda warga Desa Wanakarsa Kecamatan Wanadadi Kabupaten...

Masak Menu Takjil di Mal

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Ada pemandangan tak biasa di Drop Off Yudhistira Artos Mall Magelang, Kamis (31/5) sore. Para chef yang bekerja di Grand Artos...