33 C
Semarang
Sabtu, 19 September 2020

Setengah Suni Setengah Syiah

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Akhirnya saya sadar. Bahwa saya telah berada di dalam masjid Syiah. Bayangan saya pun flash back: ingat saat saya ke kota suci Qum, Iran. Enam tahun lalu.

Ingat saat saya ke Iraq. Lima tahun lalu: ke makam Syeikh Abdul Qadir Jaelani di Baghdad. Dan ke masjid Sayidina Hussein di Karbala.

Saya juga ingat masa kecil. Di Tegalarum, Magetan. Pada acara yang disebut Rebo Wekasan. Pada tiap tanggal 10 Muharam. Selalu ada gentong ditaruh di atas kursi. Di halaman masjid. Berisi penuh air.

Di dalamnya ada kertas. Bertulisan Arab. Saya lupa bunyinya. Tulisannya Arab pegon. Arab gundul. Tidak ada tanda bacanya. Orang desa saya menyebut itu rajah. Atau jimat. Benda sakti.

Setelah tengah hari orang-orang bergilir ke gentong itu. Ambil airnya. Untuk diminum. Bapak saya bercerita: acara itu untuk mengenang meninggalnya Sayidina Hussein.

Tidak ada yang tahu kalau itu tradisi Syiah. Bahkan kami tidak tahu kalau ada aliran yang disebut Syiah.

Kami ini tahunya hanya NU, Muhammadiyah, Persis, Syathariyah, Nahsabandiyah, Qadiriyah. Setelah dewasa baru tahu ada Syiah, Wahabi, Khawarij dan seterusnya. Dari buku.

Bahkan bentuk kuburan Islam di Indonesia ini tak lain adalah adat Syiah. Di Arab kuburannya tidak seperti itu.

Kembali kepada realitas: saya sudah berada di dalam masjid Syiah. Di San Antonio ini.
Berarti saya akan jadi minoritas. Satu-satunya Suni di tengah jamaah Syiah.

Beberapa menit menjelang berbuka (saya tulis berbuka –bukan ‘buka’– khawatir diterjemahkan ‘open’ oleh Yang Mulia Google) masuklah sosok ini: bertuban, berjubah dan kharismatik. Beda sekali dengan yang lain-lain: pakai jean atau celana selutut dan hanya pakai kaus.

Saya bersalaman dengan sosok kharismatik itu. Saya perkenalkan diri: Indonesia. Dahlan Iskan.

Beliau pun bertanya. Pertanyaan yang tidak saya sangka: apakah saya juga Syiah?

Saya langsung mencari pegangan di dekat saya. Tidak ada. Saya grayah-grayah. Menemukan pegangan itu: sela-sela sofa. Sambil cari jawaban yang terdiplomatis. Sebisa saya. ”Saya Syathariyah dan Nahsabandiah-Qadiriyah,” jawab saya.

Syathariyah dari orang tua saya. Nahsabandiyah-Qadiriyah dari Abah Gaos, Sirna Rasa Tasikmalaya.

Saya begitu ingin tahu respons beliau. Ternyata diplomasinya juga amat tinggi. Pastilah dulunya juga belajar ilmu mantiq. ”Ohh… saya tahu,” kata beliau. ”Berarti Anda ini setengah Suni, setengah Syiah,” katanya.

Tiba-tiba saya seperti mendapat pegangan besi. Lega. Tegak. Tidak lagi seperti terhuyung di atas perahu kecil. Kami terus ngobrol.

Saat berbuka tiba. Sambil minum yoghurt dan air putih. Beliau tambah kurma.

Seorang jamaah menghamparkan sajadah di tempat imam. Lalu menggelar secarik kain hijau. Panjang. Yang lebarnya hanya sekilan. Sepanjang deretan makmum.

Nah ini dia. Syiahnya tampil nyata: di atas sajadah itu dan di atas secarik kain hijau itu ditaruh benda bulat-pipih. Sebesar tutup gelas. Warna tanah. Tiap orang akan menempelkan dahinya di atas si bulat-pipih itu. Saat sujud nanti.

Itulah: Turbah. Terbuat dari tanah. Dari padang Karbala. Turbah artinya lumpur. Tanah. Lempung. Simbolisasi merendahkah hati serendah-rendahnya: saat bersujud.

Menempatkan bagian termahal dari tubuh kita –wajah– di atas lumpur. Tidak ada istilah menyelamatkan muka di depan Sang Pencipta. (dis)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Anggota Polrestabes Semarang Diburu

SEMARANG - Seorang anggota Polrestabes Semarang diduga melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan dengan total lebih dari Rp 600 juta. Saat ini, oknum tersebut...

Schreuder Salatiga Berjaya

SEMARANG - Sasana Schreuder Salatiga tampil sebagai juara umum cabang wushu sanda (pertarungan bebas) dalam Kejuaraan Terbuka Wushu Piala Rektor Unnes II yang berakhir...

Saat Tepat Beraktifitas Sosial

SEMARANG – Momentum Ramadan menjadi saat yang tepat untuk berbagi dan beraktifitas sosial. Tuhan menjanjikan pahala berlipat ganda di bulan penuh rahmat dan ampunan...

Pers Harus Mencerdaskan dan Tangkal Berita Hoax

KENDAL - Kehadiran insan pers di Indonesia harus bisa mencerdaskan rakyat. Pers tidak hanya menyampaikan informasi, tapi harus mampu menjadi penangkal munculnya informasi bohong...

Pernak-Pernik Imlek Laris

MAGELANG - Warga Tionghoa di Magelang mulai berburu pernak-pernik Imlek. Salah satunya  di pameran Artos Mall. Hiasan yang dibeli mewakili harapan-harapan mereka. Beberapa barang yang...

Menjalin Kerjasama Kendal-Semarang

RADARSEMARANG.COM - PERKEMBANGAN sektor bisnis dan wisata di Kota Semarang begitu cepat dan pesat. Hal ini akan positif bagi kabupaten dan kota lain di...