Akronim Menuju Kosakata Baru

spot_img

RADARSEMARANG.COM – AKRONIM merupakan bentuk pemendekan atau penyingkatan dari dua kata atau lebih yang berupa gabungan huruf awal atau suku kata atau bagian lain dari kata-kata yang disingkat, ditulis dan dilafalkan sebagai kata. Penggunaan akronim di zaman now semakin banyak ditemukan dalam komunikasi sehari-hari baik pada ragam formal maupun informal. Penggunaan akronim ini dirasa sebagai tuntutan yang mendesak bagi penutur bahasa untuk mengungkapkan suatu makna atau konsep yang tidak tersedia dalam kosakata Bahasa Indonesia. Pembentukan atau penambahan kosakata baru dapat terjadi dari berbagai bidang kehidupan maupun disiplin ilmu.

Perkembangan informasi dan teknologi mempunyai andil yang cukup besar dalam memunculkan istilah-istilah baru, misalnya: gadget, online, offline, handphone, netizen, server, dan lain-lain. Kosakata pengganti dalam Bahasa Indonesia kadang baru muncul setelah masyarakat bertahun-tahun akrab menggunakan istilah-istilah asing tersebut.

Para pakar Bahasa Indonesia bekerja keras untuk mencari padanan kata yang tepat untuk menggantikan istilah-istilah asing tersebut, sehingga munculah kata-kata: gawai, daring, luring, telepon genggam, warganet, dan peladen. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka setiap saat dapat menyerap kosakata dari bahasa lain. Kosakata yang banyak diserap dalam Bahasa Indonesia berasal dari bahasa asing khususnya Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, Bahasa Portugis, dan bahasa asing lainnya. Bahasa daerah juga banyak memberikan kontribusi perbendaharaan kata Bahasa Indonesia, misalnya Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Bali, dan bahasa daerah lainnya.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Kosakata dengan Metode Make A Match

Fenomena yang menarik adalah maraknya penggunaan akronim dalam komunikasi sehari-hari. Akronim sudah menjadi kosakata baru yang tidak dapat ditinggalkan oleh para penutur Bahasa Indonesia. Kepopuleran akronim dapat melebihi kata asalnya. Ketika masyarakat penutur bahasa sudah melupakan kata asal dari suatu akronim, pada hakikatnya akronim tersebut sudah menjadi kata yang mandiri. Beberapa akronim yang sudah hampir dilupakan kata-kata asalnya, yaitu pramuka, rudal, curhat, cerpen, lansia, angkot, pemilu, pansus, poskamling, posyandu, dan lain-lain.

Penggunaan akronim sering dilakukan pada komunikasi formal maupun informal. Bahkan beberapa akronim sudah dimasukkan sebagai kata baru dalam PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa indonesia). Sebagai pengganti dari istilah-istilah asing: online, offline, misil, email, digunakan kata daring (dalam jaringan), luring (luar jaringan), rudal (peluru kendali) dan surel (surat elektronik). Ada juga akronim yang dibentuk untuk menggantikan kata-kata dalam Bahasa Indonesia, yaitu saltik (salah ketik), curhat (mencurahkan isi hati), lansia (lanjut usia), cerpen (cerita pendek), pramuka (praja muda karana), angkot (angkutan kota), polwan (polisi wanita), gaptek (gagap teknologi), pelakor (perebut laki orang), dan lain-lain.

Baca juga:   Belajar Berwirausaha Berawal dengan Membuat Produk

Selain itu masih ada puluhan, bahkan ratusan akronim maupun singkatan yang sering dipergunakan masyarakat dalam komunikasi sehari-hari. Penggunaan akronim sebagai kata baru dinilai lebih banyak keunggulannya dibanding menggunakan kata-kata serapan dari bahasa asing. Beberapa keunggulan akronim, yaitu lebih praktis, produktif, ekonomis, efektif, dan lebih etis. Akronim berpotensi menjadi sumber pembentukan kata baru Bahasa Indonesia yang tidak pernah kering. Kita harus menyikapi fenomena kebahasaan ini dengan cerdas, kritis, dan bijak. Cepat atau lambat akan semakin banyak akronim yang menjadi kata baru dalam Bahasa Indonesia. (igi2/aro)

Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 3 Sukoharjo

Author

Populer

Lainnya