Mahasiswa Hadang Mobil Rektor Unnes

  • Bagikan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Aksi demo terkait penolakan uang pangkal yang dilakukan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) semakin memanas. Selama tiga hari mulai Senin(4/6) hingga Kamis (7/6) kemarin, para mahasiswa tak henti-hentinya melakukan aksi protes. Selain melakukan aksi diam dan tadarus Alquran, Kamis (7/6) petang kemarin sempat terjadi gesekan antara mahasiswa yang mencoba menghadang mobil Rektor Unnes, Prof Dr Fathur Rokhman MHum.

Dalam video yang beredar di media sosial, tampak puluhan mahasiswa menghadang mobil warna hitam yang ditumpangi Fathur Rokhman. Aksi anarkis pun sempat terjadi karena sang rektor enggan menemui mahasiswa. Tentu saja, para mahasiswa emosi hingga terlihat memukul mobil tersebut.

Puluhan petugas sekuriti dan aparat kepolisian mencoba mengamankan mobil Fathur agar tetap bisa melaju. Beberapa mahasiswa terus mengejar dan coba menggedor-gedor mobil meminta Prof Fathur untuk turun, namun rektor memilih tetap melaju dengan pelan.

Tak berhenti di situ, sejumlah mahasiswa tetap merangsek menghadang mobil yang dinaiki Prof Fathur, bahkan mulai mengekspresikan bentuk kekerasan verbal dan fisik. Sejumlah mahasiswa melakukan aksi teatrikal dengan merebahkan tubuh di depan mobil seolah-olah tertabrak oleh mobil. Padahal tidak ada satu pun mahasiswa tertabrak, apalagi terlindas mobil.

“Pihak Unnes akan mengusut kejadian tersebut, apalagi keamanan internal kampus menduga ada oknum dari luar kampus yang sengaja melakukan aksi kurang simpatik,” kata Rektor Fathur Rokhman.

Pihaknya mengaku sangat menyayangkan aksi tersebut, padahal sebelumnya ia telah menerima perwakilan mahasiswa dengan baik. Sejumlah perwakilan mahasiswa dari lembaga kemahasiswaan yang ingin menyampaikan aspirasi diterima rektor pukul 10.15. Dialog dilanjutkan setelah salat dzuhur dengan memberikan keleluasaan kepada mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi. “Kami sudah melakukan pertemuan dengan mahasiswa, bahkan telah melakukan dialog dengan mereka,” ujarnya.

Sebelum dialog pada Kamis (7/6), lanjut Fathur, juga telah dilakukan dialog sebelum mahasiswa menggelar aksi demo pada Senin (4/6) lalu. Menurut Fathur, kebijakan uang pangkal diambil dengan dasar Permenristekdikti Nomor 39 Tahun 2017. Pada pasal 8, mengatur bahwa perguruan tinggi negeri dapat memungut uang pangkal dari mahasiswa jalur seleksi mandiri.

“Kebijakan ini diambil sesuai dengan aturan Permeristekdikti, selain itu juga mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor Nomor 204/PMK.05/2016  tentang Tarif Layanan Badan Layanan Umum Universitas Negeri Semarang,” jelasnya.

Dalam aturan tersebut mengatur besaran uang pangkal telah diatur dalam lima kategori berbeda, yaitu Rp 5 juta untuk kategori  I, dan Rp 25 juta untuk kategori tertinggi, yaitu kategori V.“Uang pangkal yang ditetapkan Unnes sudah sesuai kedua aturan tersebut. Uang pangkal terdiri atas lima kategori, sesuai dengan kemampuan ekonomi calon mahasiswa,” paparnya.

Pihak kampus sendiri juga memberikan dispensasi kepada calon mahasiswa yang benar-benar tidak mampu, ataupun calon mahasiswa berstatus yatim piatu, calon mahasiswa penghuni panti asuhan, calon mahasiswa yang sedang tertimpa bencana (banjir, tanah longsor), calon mahasiswa miskin yang hafal Alquran, serta calon mahasiswa yang memang layak dibantu setelah dilakukan validasi.

“Pemberlakuan uang pangkal merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam pendanaan pendidikan.  Pemerintah memberi keleluasaan PTN untuk memungut uang pangkal agar masyarakat yang mampu bisa berkontribusi dari segi pendanaan,” tuturnya.

Pengenaan uang pangkal, lanjut Fathur, memungkinkan terjadinya subsidi silang, di mana masyarakat dengan kekuatan ekonomi kuat dapat membayar lebih agar perguruan tinggi dapat memberikan pembebasan biaya kepada mahasiswa lain dari kelompok ekonomi kurang.(den/aro)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *