33 C
Semarang
Sabtu, 26 September 2020

Sudah Ada sejak 1960-an, Hanya Muncul saat Ramadan

Melihat Pembuatan ‘Lampion Jawa’ Teng-tengan di Kampung Purwosari Perbalan

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

AJIE MAHENDRA/JAWA POS RADAR SEMARANG
AJIE MAHENDRA/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM – Saat ini, agaknya jarang ada anak muda yang tahu teng-tengan. Padahal zaman dulu, lampion ‘Jawa’ ini sangat terkenal. Terutama saat bulan Ramadan seperti sekarang. Teng-tengan bahkan sempat menjadi satu-satunya penerangan ketika sejumlah daerah di Semarang belum teraliri listrik.

AJIE MAHENDRA

TENG-tengan seperti lampion. Hanya saja, bentuknya prisma segi delapan. Selain sebagai penerangan, teng-tengan atau yang sering disebut damar kurung ini juga bisa sebagai hiasan. Sebab, di dalam lampion, ada kertas yang dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi bayang-bayang menarik.

Saat ini, teng-tengan sudah sulit didapatkan. Hanya ada segelintir orang saja yang mau membuatnya. Salah satunya Junarso, warga Purwosari Perbalan RT 7 RW 5, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara. Ketika Jawa Pos Radar Semarang bertandang ke rumahnya, Junarso sedang membuat teng-tengan dengan alat apa adanya.

Di pelataran rumahnya, banyak bilah-bilah bambu. Bilah-bilah bambu itu dibentuk sebagai kerangka menggunakan tali. Kerangka ini merupakan dasar yang menentukan seperti apa bentuk teng-tengan. Junarso memilih membuat teng-tengan berbentuk prisma bersegi delapan.

Setelah kerangka selesai, Junarso memasnag kertas minyak berwarna putih. Tentu potongannya disesuaikan dengan dimensi kerangka teng-tengan yang tadi dibuatnya.

Pada bagian tengah rangka diletakkan sebuah bambu yang dibentuk melengkung. Bambu tersebut ternyata berfungsi sebagai sumbu dan tempat kertas yang telah dibuat pola gambar. Kemudian di bagian bawah sumbu diberi lilin sebagai bahan bakar.

Setelah jadi, lilin yang ada di tengah tersebut kemudian disulut. Jika lilin yang ada di dasar disulut api, kipas itu akan bergerak didorong oleh asap yang keluar. Kalau kipas berputar, gambar-gambar kertas yang ada di bawahnya juga turut berputar. Nantinya keluar bayangan naga, petani, gerobak, penari, burung, dan becak.

“Ini lampionnya warga Purwosari. Namanya teng-tengan. Ini saya buatnya hanya selama Ramadan saja. Biasanya, digunakan untuk penerangan saat membangunkan orang sahur, takbiran dan ditaruh sebagai hiasan rumah,” jelasnya.

Membuat teng-tengan, lanjut dia, tidak hanya menjadi pekerjaan serabutan selain sebagai tukang becak dan kuli bangunan. Tapi, kerajinan tersebut telah menjadi berkah selama Ramadan karena dapat menambah penghasilan.

“Ini berkah Ramadan. Sehari paling tidak rata-rata saya bisa menjual sepuluh buah. Memang tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, tapi lumayan bisa menambah penghasilan,” katanya.

Meski cara membuatnya cukup rumit, dia bisa membuat setidaknya 20 teng-tengan dalam sehari. Satu teng-tengan dijual antara Rp 15 ribu-Rp 20 ribu sesuai ukuran. Teng-tengan ini dipasarkan tidak hanya di Kota Semarang saja. Penduduk di luar kota, seperti Surabaya, Jogjakarta, Bandung, dan daerah lain di Pulau Jawa kerap memesan teng-tengan buatan Junarso.

Salah satu warga Purwosari Perbalan, Alvian Saeku mengaku, teng-tengan sudah ada sejak 1960-an. Menurutnya, saat itu Kampung Purwosari Perbalan masih berupa rawa dan belum teraliri listrik. Kemudian seorang yang dikenal dengan nama Mbah Saman mulai membuat teng-tengan yang digunakan sebagai lampu penerangan tradisional.

“Dulu kampung ini sangat minim penerangan dan listrik belum ada, sedangkan jalan menuju musala itu gelap. Akhirnya, teng-tengan itu digunakan sebagai penerangan,” kisahnya. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Headline Radar Semarang Terbaik se-Jawa Pos Group

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Jawa Pos Radar Semarang meraih penghargaan bergengsi dalam Kompetisi Product Quality Jawa Pos Group 2017-2018. Headline Jawa Pos Radar Semarang berjudul “Pabrik Pil...

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Jateng Bantu Rohingya Rp 256 Juta

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pemprov Jateng menyerahkan bantuan yang dihimpun dari masyarakat dan berbagai lembaga di Jateng, untuk masyarakat Rohingya Myanmar. Yakni, berupa uang tunai sebesar Rp...