33 C
Semarang
Minggu, 31 Mei 2020

Warga Trauma, Bertahan Ngungsi

Siang Tetap Beraktivitas, Malam Bertahan di Pos

Another

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

RADARSEMARANG.COM, BOYOLALI – Letusan freaktif pekan lalu membuat ratusan warga semakin waswas. Mereka lebih memilih bertahan di tempat penampungan pengungsi sementara (TPPS) untuk menghindari ancaman erupsi Gunung Merapi.

Di TPPS Desa Tlogolele, saat ini masih ada 544 orang pengungsi kalau malam hari. Jumlah itu akan tinggal 100 orang saja, manakala pagi menjelang. Sebab, para kaum laki-laki banyak yang kembali ke rumah masing-masing untuk mengurusi ternak dan ladang. “Meski mengungsi, warga tak mau meninggalkan ladang sebagai sumber pencaharian. Mereka kalau siang kembali mengurus hewan ternak di rumah juga. Kalau sore baru kembali ke sini (pengungsian),” kata Maryam, 35, warga Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, kemarin.

Maryam bersama seorang anak balitanya merasa lebih nyaman tinggal di TPPS. Meski kondisi pengungsian tak sebaik di rumah, namun fasilitas yang didapatkan sudah cukup. Baik makan, selimut, dan fasilitas lainnya.

Dia merasa sangat trauma jika saat ini berada di rumah. Ancaman letusan Merapi yang bisa datang kapanpun membuat dia lebih memilih tinggal di pengungsian sampai Merapi benar-benar aman. Dia bersama ratusan warga lain tetap menjalankan ibadah puasa rutin di TPPS. “Tidak ada masalah untuk puasa. Saat buka banyak takjilnya dari masyarakat atau relawan-relawan,” katanya.

Wage, 55, warga lain masih cukup trauma dengan letusan freaktif Jumat lalu. Getaran wilayah yang cukup kendang membuat warga panik tidak karuan. Meski tempat tinggalnya hanya berjarak 3,5 kilometer, namun bukan awan panas yang ditakutkan. “Material di atas (Merapi) sangat banyak. Dan bisa mengarah ke sini. Itu yang kami takutkan,” ujarnya.

Pengungsi kebanyakan dari Dusun Stabelan dan Takeran, Desa Tlogolele yang masih bertahan di TPPS. Jumlahnya mencapai 1.700 jiwa, kemudian beransur-ansur turun menjadi 544 jiwa dan hingga Minggu siang ini tinggal 100 jiwa yang terdiri anak-anak dan lansia.

Menurut Kades Tlogolele Widodo, jumlah pengungsi sudah berkurang. Sebelumnya, mencapai 1.000 orang lebih. Pada Sabtu malam (2/6), jumlah pengungsi bertambah menjadi 544 orang, Namun, pada Minggu pagi (3/6), jumlahnya berkurang tinggal 100 orang. “Biasanya, kalau pagi hari, sebagian pengungsi pulang untuk memberi pakan ternaknya atau bekerja di ladang. Sedangkan malam hari, mereka kembali ke tempat pengungsian,” katanya.

Sedangkan keamanan rumah yang ditinggalkan pengungsi, pihaknya sudah mendirikan dua buah pos penjagaan. Sehingga semua orang yang ke luar masuk desa bisa dipantau. Selain itu, sejumlah relawan bersama warga juga melakukan ronda keliling. (wid/bun/jpg/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

More Articles Like This

Must Read

Polres Tetapkan Satu Tersangka

RADARSEMARANG.COM, KENDAL - Polres Kendal menetapkan tersangka satu dari dua orang terlapor. Yakni dalam kasus dugaan tindak pidana pelanggaran Pilgub Jateng. Satu tersangka yakni Zaenuddin....

Sabet Juara Umum MAPSI

SALATIGA - Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Izzatul Islam Getasan keluar sebagai juara umum untuk kali kedua dalam ajang Lomba Mata Pelajaran Pendidikan...

Reuni APPD-STIK-STIKOM

RADARSEMARANG.COM - MINGGU (18/2) akan berlangsung reuni lintas angkatan APPD-STIK-STIKOM. Acara akan dimulai pukul 09.00 di Hotel UTC, Balairung Astina Jalan Kelud No 12...

Pincang di Kandang Pendekar Cisadane

SEMARANG – PSIS akan melakoni matchday ketiga mereka di babak 16 besar Liga 2. Tim berjuluk Mahesa Jenar akan melakoni laga tandang versus Persita...

25 September, E-Tilang CCTV Diberlakukan

SEMARANG-Para pengendara yang melakukan pelanggaran lalu-lintas di Kota Semarang terancam tilang. Mereka terekam melalui kamera pengintai alias close circuit television (CCTV) yang terpasang di...

Teh Celup Unik Bernuansa Pilkada

RADARSEMARANG.COM - TAHUN Politik membuat suasana kian memanas. Perang opini masing-masing tim sukses pasangan calon (paslon) sering kali berujung black campaign . Fenomena ini yang...