33 C
Semarang
Rabu, 5 Agustus 2020

Menimbang Sistem Parkir Berlangganan Tetap

Another

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan...

RADARSEMARANG.COM – Wonosobo sekarang ini dijuluki sebagai “Kota Parkir” oleh sebagian masyarakat. Betapa tidak, di setiap pinggir jalan utama berjejer kendaraan bermotor roda dua dan roda empat. Bahkan untuk mencari lokasi parkir yang kosong saja sangat sulit.

Terkadang malah harus putar-putar mencari tempat kosong untuk memarkirkan kendaraan bermotor. Ketika mau berbelanja dari satu tempat ke tempat lain juga harus bayar parkir yang tarifnya terkadang lebih mahal dibandingkan biaya retribusi parkir yang sudah diatur dalam Peraturan Daerah.

Misalnya, retribusi parkir kendaraan roda dua ketentuannya adalah Rp 500 pertiga jam tapi terkadang bayar Rp 1.000-2.000. Demikian pula untuk kendaraan roda empat yang ketentuannya Rp 1.000 untuk tiga jam parkir, berapa menit pun tetap dikenai biaya retribusi parkir Rp 2.000.

Namun sangat disayangkan, retribusi parkir yang cukup memberatkan masyarakat dan berkontribusi terhadap kesemprawutan dan kemacetan kota dingin tersebut tidak sebanding dengan akumulasi setoran retribusi parkir ke kas daerah yang hanya berkisar antara Rp 400-450 juta pertahun. Memang hasil penarikan retribusi parkir tidak semuanya masuk ke kas daerah karena juga harus berbagi kepada pihak ketiga sebagai penyedia jasa penarikan parkir dan kepada para petugas parkir.

Padahal berdasarkan kajian akademis dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto yang bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Wonosobo, apabila diterapkan sistem parkir berlangganan tetap bagi pemilik kendaraan bermotor di Kabupaten Wonosobo, dari retribusi parkir bisa menyumbang sekitar Rp 1,8 miliar pertahun ke dalam kas daerah. Sayangnya hasil kajian akademis tersebut sampai saat ini belum juga diimplementasikan sehingga setoran retribusi parkir masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah kendaraan bermotor yang parkir.

Karena itu untuk meningkatkan pendapatan daerah dari retribusi parkir, rekomendasi tim kajian dari Universitas Jenderal Soedirman patut dipertimbangkan untuk diimplementasikan oleh pemerintah daerah.

Persoalan parkir ini persoalan serius dalam tata kota. Apalagi jumlah kendaraan bermotor roda dua, rata-rata tiap tahun bertambah 12.000 unit. Sedangkan mobil berkisar 500-1.000 unit. Otomatis bertambahnya kendaraan akan memicu kepadatan lalu lintas.

Selain penerapan Sistem Parkir Berlangganan Tetap, Pemda Wonosobo juga perlu membuat kebijakan agar setiap pertokoan, tempat usaha atau perkantoran yang berada di kota Wonosobo diwajibkan menyediakan ruang parkir bagi para pelanggan agar tidak semua kendaraan berparkir di jalan raya. Atau bisa juga dengan membangun tempat-tempat parkir khusus seperti yang sudah direncanakan dengan membuat lahan parkir di lantai 4 pasar induk dan menjadikan kompleks Plaza sebagai gedung parkir yang terintegrasi dengan sistem Green City yang sedang ditawarkan ke pemerintah Perancis. Mudah mengatakan tapi sulit merealisasikan bukan? (adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

Arang Galang

Inilah jalan berliku itu. Tapi yang penting hasilnya: anak muda ini berhasil menjadi pengusaha. Bahkan jadi eksporter. Memang masih sangat kecil. Tapi arah bisnisnya...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Kades – Lurah Deklarasi Netral

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Kepala desa dan lurah se Kabupaten Semarang berjanji akan bersikap netral pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018. Komitmen tersebut dideklarasikan melalui...

Di SMKN 7, Nilai 18 Geser Nilai 35

RADARSEMARANG.COM - SKTM yang dipakai guna mendaftar PPDB di Kota Semarang masih menuai protes di kalangan wali murid. SKTM dinilai merampas jatah siswa pintar...

Wabup Berikan Bantuan Operasional

KAJEN–Puluhan tenaga pendidik Taman Pendidikan Alquran (TPQ) di Kabupaten Pekalongan, menerima bantuan operasional dari Wakil Bupati (Wabup) Pekalongan, Ir Hj Arini Harimurti, sebesar Rp...

Genjot Pendapatan Sektor Pajak

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Badan Keuangan Daerah (BKUD) Kabupaten Semarang berharap bulan Ramadan tidak mempengaruhi pendapatan daerah dari sektor pajak. Kabid Pajak BKUD Kabupaten Semarang,...

Berkawan dengan Media Sosial untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA

RADARSEMARANG.COM - SECARA umum, definisi media sosial adalah media online. Seperti dalam Wikipedia, media sosial merupakan sebuah media online di mana para penggunanya bisa...

Cerita Bidan Aryati, Korban Selamat Banjir Bandang

Tatapan mata Aryati Rahayu tampak kosong. Beberapa orang yang mengajaknya bicara tak digubrisnya. Dia irit bicara. Matanya begitu sembab. Kondisi tubuhnya juga ngedrop. Dia...