31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

Panwaslu Bantah DPT Berpotensi Invalid

“Jumlah itu terlalu besar. Kota Magelang hanya punya 89.294 DPT tahun ini. Menurut keterangan dari tim pendata, kecurigaan mereka karena nama-nama yang dimaksud TMS tadi hanya satu huruf, seperti Nia, Eni, Ani, dan lainnya dengan tambahan nama bin atau binti di belakangnya,”

Endang Sri Rahayu – Ketua Panwaslu Kota Magelang

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Ancaman tim pemenangan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Sudirman Said-Ida Fauziah untuk mogok dalam kontestasi politik terkait klaim temuan ribuan daftar pemilih tetap (DPT) yang berpotensi invalid termasuk di Kota Magelang, dibantah oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Magelang. Panwaslu menganggap data-data yang dipaparkan tim pemenangan tersebut, salah dalam pencatatannya.

Ketua Panwaslu Kota Magelang, Endang Sri Rahayu, Minggu (3/6) kemarin, mengaku, imbas dari klaim dan ancaman tim pemenangan Suirman-Ida yang muncul di media massa, pihaknya didatangi beberapa tokoh sentral partai politik dari Kota Magelang.

“Kedatangan tokoh sentral parpol tersebut pun kami konfirmasi secara utuh. Kami juga merasa perlu mengonfirmasi hal tersebut karena ada klausul yang mencatatkan Kota Magelang sebagai sampelnya. Padahal Panwas di sini sudah bersikap sangat objektif, terlebih soal DPT, kami tidak ingin main-main,” tegas Yayuk.

Pihaknya sejak dari proses pencocokan dan penelitian (coktlit) data, begitu getol mengawal kinerja yang dilakukan KPU dan jajarannya. Langkah tersebut, menurut Yayuk, agar DPT yang sudah diumumkan benar-benar sesuai dengan pendataan di lapangan.

“Kalaupun ada ketidaksesuaian itu karena alasan yang normal seperti meninggal, pindah, ganda, dan hal lainnya sudah kami rekomendasikan KPU. Adapun bila masih terjadi perbedaan, itu berarti terjadi setelah DPT ditetapkan,” papar Yayuk.

Ia juga mempertanyakan data yang diklaim oleh timses Sudirman-Ida, sebab jika melihat data dari salah satu tim pemenangan paslon gubernur dan wakil gubernur, ada kesalahan dalam proses pendataan.

Kesalahan tersebut, menurut Yayuk, mencakup potensi tidak memenuhi syarat (TMS) terhadap warga binaan yang berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) II A Magelang.

“Kami teliti lalu menemukan ada nama siapa, dilengkapi dengan bin dan binti. Bagi awam tentu akan mengira kalau ada bin dan binti itu pemilih sudah meninggal dunia. Tapi di Lapas, memang nama mereka diharuskan menyematkan nama ayah dengan bin untuk laki-laki dan binti untuk perempuan,” beber Yayuk.

Dia menilai, kesalahan klaim data tersebut terjadi karena pihak pendata dari paslon menganggap nama yang telah ditambahi dengan bin dan binti tersebut sudah meninggal atau TMS.

“Padahal mereka masih hidup di lapas. Jadi tidak ada potensi invalid yang sedemikian besar seperti yang diucapkan tim paslon lewat media massa,” tandas Yayuk.

Pihaknya mendapatkan data tim Sudirman-Ida memaparkan nama pemilih yang sudah meninggal di DPT Kota Magelang ada 100 orang. Kemudian, ada klaim temuan pemilih ganda 105 dan potensi invalid  6.206 orang.

“Jumlah itu terlalu besar. Kota Magelang hanya punya 89.294 DPT tahun ini. Menurut keterangan dari tim pendata, kecurigaan mereka karena nama-nama yang dimaksud TMS tadi hanya satu huruf, seperti Nia, Eni, Ani, dan lainnya dengan tambahan nama bin atau binti di belakangnya,” papar Yayuk. (had/lis)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here