BERSOSMED RIA : Sejumlah anak menggunakan smartphone untuk bersosial media dengan menfaatkan fasilitas free Wifi di Taman Krobokan Forest, Kota Semarang, Sabtu (2/6) kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSOSMED RIA : Sejumlah anak menggunakan smartphone untuk bersosial media dengan menfaatkan fasilitas free Wifi di Taman Krobokan Forest, Kota Semarang, Sabtu (2/6) kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Anak zaman now tak hanya butuh pendampingan saat nonton televisi, tapi perlu pendampingan saat memanfaatkan media sosial. Hal itu untuk menghindari anak terpapar paham radikalisme dan terorisme.

RADARSEMARANG.COM – BEBERAPA waktu lalu, publik di Indonesia dihebohkan adanya keterlibatan dua gadis belia terlibat aksi teror terhadap anggota Brimob di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Publik tercengang, salah satu dari keduanya merupakan alumnus Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Arqom, Patehan, Kendal, Jawa Tengah bernama Dita Siska Millenia.

Belakangan terungkap, fenomena Dita Siska Millenia menjadi salah satu pembelajaran bahwa era teknologi media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram, Telegram dan lain-lain, memiliki ruang-ruang tersembunyi yang dimanfaatkan dan menjadi gerakan ekstrim. Hal yang berbahaya adalah mengancam ideologi generasi muda.

Sebab, perkembangan teknologi ini begitu digemari oleh anak zaman now yang menyukai kemudahan komunikasi tanpa batas. Sehingga mereka bisa berteman dengan siapa saja dan di mana saja. Bahkan pertemanan dunia maya tidak mengenal batas wilayah.

Hal yang cukup mengkhawatirkan, banyak orang tua yang membuatkan akun media sosial bagi anaknya sejak balita. Sebab, sebagian orang menganggap bahwa anak sekolah dianggap kurang pergaulan (kuper) jika tidak memiliki akun media sosial.

Karena itulah, generasi zaman now perlu diarahkan dalam menggunakan media sosial secara bijak, termasuk peran orang tua mengontrol anak-anaknya dalam era teknologi media sosial.

Umam Hayyin, mengaku sebagai orang tua di era media sosial memang perlu ekstra hati-hati. Tentunya perkembangan zaman tidak bisa dibendung. Informasi bebas yang terjadi sekarang ini cukup berbahaya. Tetapi juga menjadi tantangan tersendiri. “Bagi saya, bekal utama bagi anak adalah pendidikan keluarga. Di manapun anak sekolah, bisa saja mendapatkan pengetahuan bebas. Tetapi saya yakin, anak bisa terjaga apabila pendidikan dasar dalam keluarga kuat,” kata warga Gunungpati ini.

Pendidikan keluarga yang dimaksud, kata dia, terutama pendidikan agama yang dianut dan dipercaya oleh orang tuanya. Apapun agamanya, kata dia, dipastikan mengajarkan kebaikan yang bermanfaat tidak hanya bagi manusia saja, tapi juga alam dan makhluk di muka bumi. “Jadi, selama pendidikan dasar agama ini kuat, saya yakin rel pembelajaran anak tidak melenceng,” katanya.

Apakah tidak khawatir apabila anak memanfaatkan media sosial? Umam mengaku tidak perlu khawatir. “Apapun perkembangan dunia sebetulnya bisa mencerdaskan. Fenomena hoaks misalnya, tak perlu dilawan. Justru adanya fenomena hoaks, seseorang harus belajar jeli. Selalu memertanyakan informasi yang masuk. Tidak mudah percaya begitu saja, ini juga bisa mencerdaskan,” katanya.

Sementara Nining Kusuma Hapsari, mengaku prihatin banyak masyarakat seringkali tidak siap menghadapi kemajuan teknologi. Orang menggunakan media sosial masih gagap. “Media sosial seringkali disalahgunakan, untuk mencibir, membully, dan lain-lain. Media sosial seringkali juga hanya digunakan untuk mengekspos dirinya sendiri. Ini yang kurang pas. Seharusnya media sosial adalah teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk memermudah apa saja, bisnis misalnya. Atau hal-hal lain yang bersifat menginspirasi orang lain, tentunya akan berbeda fungsinya.” katanya.

Kekhawatiran terpapar radikalisme, terorisme, seks bebas dan lain-lain melalui media sosial? Nining mengaku tentu saja sangat mengkhawatirkan. “Kejadian terorisme yang belakangan terjadi saja sangat mengagetkan. Mengapa gadis belia bisa bergabung dengan organisasi radikal? Mereka berkomunikasi melalui media sosial. Ini sangat mengkhawatirkan,” katanya.

Menurutnya, hal yang bisa dilakukan oleh para orang tua adalah memperkuat pendidikan keluarga. Orang tua juga harus bisa mendeteksi perubahan perilaku anak-anaknya. “Termasuk memilihkan sekolah tempat belajar yang tepat, sesuai dengan idealisme agama yang dianut. Ini penting. Sebab, pengetahuan anak terbentuk dari lingkungan tempat mereka belajar,” katanya. (amu/ida)