33 C
Semarang
Selasa, 22 September 2020

Perkuat Pendidikan Keluarga, Deteksi Perubahan Anak

Momok Media Sosial, Ancaman Ideologi Zaman Now  

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Anak zaman now tak hanya butuh pendampingan saat nonton televisi, tapi perlu pendampingan saat memanfaatkan media sosial. Hal itu untuk menghindari anak terpapar paham radikalisme dan terorisme.

RADARSEMARANG.COM – BEBERAPA waktu lalu, publik di Indonesia dihebohkan adanya keterlibatan dua gadis belia terlibat aksi teror terhadap anggota Brimob di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Publik tercengang, salah satu dari keduanya merupakan alumnus Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Arqom, Patehan, Kendal, Jawa Tengah bernama Dita Siska Millenia.

Belakangan terungkap, fenomena Dita Siska Millenia menjadi salah satu pembelajaran bahwa era teknologi media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram, Telegram dan lain-lain, memiliki ruang-ruang tersembunyi yang dimanfaatkan dan menjadi gerakan ekstrim. Hal yang berbahaya adalah mengancam ideologi generasi muda.

Sebab, perkembangan teknologi ini begitu digemari oleh anak zaman now yang menyukai kemudahan komunikasi tanpa batas. Sehingga mereka bisa berteman dengan siapa saja dan di mana saja. Bahkan pertemanan dunia maya tidak mengenal batas wilayah.

Hal yang cukup mengkhawatirkan, banyak orang tua yang membuatkan akun media sosial bagi anaknya sejak balita. Sebab, sebagian orang menganggap bahwa anak sekolah dianggap kurang pergaulan (kuper) jika tidak memiliki akun media sosial.

Karena itulah, generasi zaman now perlu diarahkan dalam menggunakan media sosial secara bijak, termasuk peran orang tua mengontrol anak-anaknya dalam era teknologi media sosial.

Umam Hayyin, mengaku sebagai orang tua di era media sosial memang perlu ekstra hati-hati. Tentunya perkembangan zaman tidak bisa dibendung. Informasi bebas yang terjadi sekarang ini cukup berbahaya. Tetapi juga menjadi tantangan tersendiri. “Bagi saya, bekal utama bagi anak adalah pendidikan keluarga. Di manapun anak sekolah, bisa saja mendapatkan pengetahuan bebas. Tetapi saya yakin, anak bisa terjaga apabila pendidikan dasar dalam keluarga kuat,” kata warga Gunungpati ini.

Pendidikan keluarga yang dimaksud, kata dia, terutama pendidikan agama yang dianut dan dipercaya oleh orang tuanya. Apapun agamanya, kata dia, dipastikan mengajarkan kebaikan yang bermanfaat tidak hanya bagi manusia saja, tapi juga alam dan makhluk di muka bumi. “Jadi, selama pendidikan dasar agama ini kuat, saya yakin rel pembelajaran anak tidak melenceng,” katanya.

Apakah tidak khawatir apabila anak memanfaatkan media sosial? Umam mengaku tidak perlu khawatir. “Apapun perkembangan dunia sebetulnya bisa mencerdaskan. Fenomena hoaks misalnya, tak perlu dilawan. Justru adanya fenomena hoaks, seseorang harus belajar jeli. Selalu memertanyakan informasi yang masuk. Tidak mudah percaya begitu saja, ini juga bisa mencerdaskan,” katanya.

Sementara Nining Kusuma Hapsari, mengaku prihatin banyak masyarakat seringkali tidak siap menghadapi kemajuan teknologi. Orang menggunakan media sosial masih gagap. “Media sosial seringkali disalahgunakan, untuk mencibir, membully, dan lain-lain. Media sosial seringkali juga hanya digunakan untuk mengekspos dirinya sendiri. Ini yang kurang pas. Seharusnya media sosial adalah teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk memermudah apa saja, bisnis misalnya. Atau hal-hal lain yang bersifat menginspirasi orang lain, tentunya akan berbeda fungsinya.” katanya.

Kekhawatiran terpapar radikalisme, terorisme, seks bebas dan lain-lain melalui media sosial? Nining mengaku tentu saja sangat mengkhawatirkan. “Kejadian terorisme yang belakangan terjadi saja sangat mengagetkan. Mengapa gadis belia bisa bergabung dengan organisasi radikal? Mereka berkomunikasi melalui media sosial. Ini sangat mengkhawatirkan,” katanya.

Menurutnya, hal yang bisa dilakukan oleh para orang tua adalah memperkuat pendidikan keluarga. Orang tua juga harus bisa mendeteksi perubahan perilaku anak-anaknya. “Termasuk memilihkan sekolah tempat belajar yang tepat, sesuai dengan idealisme agama yang dianut. Ini penting. Sebab, pengetahuan anak terbentuk dari lingkungan tempat mereka belajar,” katanya. (amu/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Difteri Serang Pasien Dewasa

Akibat Imunisasi Tidak Lengkap 8 Pasien Dirawat di RSUP dr Kariadi RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sebanyak empat dari delapan pasien yang masuk dengan kasus suspect...

Perbasi Jateng Targetkan Emas

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Sadat Saifudin Fathoni menjadi satu-satunya wakil asal Jawa Tengah yang lolos seleksi nasional bola basket  U18 Kejuaraan FIBA Asia 2018 yang...

Gelapkan Motor di 31 Lokasi

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA - Jajaran Reskrim Polsek Sidorejo menangkap AY alias Gering, 27, warga Dusun Banjarsari Desa Suruh Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang, Minggu (18/2). Gering...

Bank Jateng Kembangkan Layanan Syariah

SEMARANG – Bank Jateng akan terus mengembangkan layanan syariah dengan memperluas jaringan kantor dan pengembangan produk, baik dana, pembiayaan maupun jasa perbankan lainnya. Bank...

Lecehkan Calon Karyawan, Manajer Ditangkap

RADARSEMARANG.COM, BATANG - Warga dukuh Kayen desa Kalibalik Kecamatan Banyuputih Kabupaten Batang Nizam Nursalam, 33, yang bekerja sebagai manajer penyedia konstruksi di wilayah Kecamatan...

Traveling Latih Kepekaan Beradaptasi

RADARSEMARANG.COM - BANYAK hal yang Bernike Dian petik dengan menjalani hobi traveling. Mulai dari menikmati keindahan berbagai tempat baru, hingga melatih kepekaan diri dalam...