33 C
Semarang
Selasa, 22 September 2020

Jangan Batasi, Tetap Pantau Terus

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Denie Rartri Desiningrum Psi Msi
Denie Rartri Desiningrum Psi Msi

RADARSEMARANG.COM – ANAK yang terlahir sebagai generasi Z di zaman milenial tidak dapat dihindarkan lagi dari gadget dan internet. Anak-anak zaman ini sudah mulai menggunakan dan akrab dengan media sosial. Seperti dua mata pisau, media sosial memiliki dampak positif dan negatif sekaligus. Positifnya, anak bisa melakukan komunikasi dengan lebih mudah. Sementara dampak negatifnya, media sosial bisa mempengaruhi kondisi psikologis anak. Bahkan bisa membuat anak depresi.

Dr Hastaning Sakti MKes Psi, Dekan Psikologi Universitas Diponegoro (Undip) menjelaskan hal ini dapat terjadi ketika muncul di media sosial hal seperti bully, sarkasme dan hal-hal yang membuat anak tidak nyaman. ”Karena tidak seperti orang dewasa, anak-anak masih rentan. Kalau pengirim pesan mungkin niatnya bercanda dengan emoji tertentu. Tapi penerima juga harus tahu. Ini yang harus dipersiapkan orangtua,” jelas Hasta kepada koran ini.

Sehingga, untuk menghindari hal ini, anak harus dipersiapkan dalam menggunakan media sosial. ”Jadi selain skill menggunakan alat, juga disiapkan skill sosialnya. Jangan sampai karena di-dislike dan di-bully menjadikan anak tertekan,” imbuhnya.

Dalam hal ini, ditekankan olehnya, orangtua harus memberikan rambu-rambu kepada anak. Lebih lanjut, orangtua harus bisa membaca anak. Ketika anak menunjukkan hal-hal yang tidak biasa, kelihatan murung dan menyendiri misalnya, maka orangtua harus waspada. ”Orangtua harus terus memperhatikan dan membina anak. Bimbinglah anak, tunjukkan sikap yang benar. Pupuklah tanggung jawab terhadap dirinya sendiri,” ujarnya berpesan.

Dunia internet memang tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan anak. Bahkan banyak tugas sekolah yang saat ini harus diakses melalui internet. Tak jarang ada juga orangtua yang mencoba menggantikan kehadiran mereka dengan internet. Alasannya karena kesibukan.

Ditambahkan Dinie Ratri Desiningrum SPsi MSi, pengajar fakultas psikologi Undip, selain mempermudah anak dalam berkomunikasi, media sosial juga bisa menyumbang pengaruh negatif seperti pornografi dan sejumlah hal lainnya, termasuk masuknya keyakinan dari paham tertentu, seperti radikalisme maupun terorisme.

Usia anak, dikatakan olehnya adalah masa-masa dimana anak sedang berada pada rasa ingin tahu yang tinggi. Anak bisa juga kecanduan dalam bermedia sosial, terutama ketika menemukan apa yang menjadi ketertarikannya. ”Kemudian bisa jadi tanpa disadari anak-anak terpengaruh lawan bicara ketika bermedia sosial. Mereka mudah nurut perintah lawan bicara tersebut. Karena anak-anak belum bisa membedakan antara orang jahat dan jujur di luar,” paparnya.

Di usia yang masih tergolong labil, anak juga rentan dimasuki paham tertentu. Sebab, anak-anak seringkali menerima segala informasi secara mentah-mentah. Orangtua, dalam hal ini harus mendampingi anak-anak sehingga bisa menjelaskan kepada anak mengenai informasi yang didapat.

”Bisa jadi dari media sosial ada informasi tentang keyakinan tertentu menjadi hal menarik bagi anak, kemudian anak mengikuti alur dari yang disampaikan melalui media sosial tersebut. Ini bisa berlanjut hingga dilakukan kopi darat. Itu yang berbahaya,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, zaman sekarang anak memang tidak bisa dijauhkan dan steril dari internet, juga media sosial. Orangtua melarang di rumah pun, anak bisa mencarinya di luar. Sehingga, menjadi tugas orangtua adalah menjadikan anak-anak kebal. Anak-anak menggunakan media sosial tetapi tidak begitu saja terpengaruh media sosial dengan informasi yang diterima mentah-mentah. ”Orangtua melakukan monitoring, dipantau apa isi gadget anak atau ketika anak menggunakan media, orangtua berada di sekitar untuk memantau apa yang dilakukan anak. Jangan dilepas begitu saja anaknya. Kesibukan orangtua jangan sampai membuat anak dilepas begitu saja,” imbuh penulis buku psikologi anak ini.  (sga/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

UU Kebudayaan Perkuat Identitas Bangsa

MUNGKID — Anggota DPR RI Abdul Kadir Karding menyatakan perkembangan era teknologi dan informasi yang begitu pesat, bisa mengancam nilai-nilai kebudayaan bangsa. Sebagai salah...

Klaster Naraya Residence Diminati

SEMARANG - Bukit Semarasng Baru (BSB) City, awal tahun 2017 ini kembali memperkenalkan produk barunya, yakni klaster Naraya Residence. Produk baru ini unik, karena...

Kisah Tim Paduan Suara Delta Cielo Berkompetisi di Grand Prix Thailand

AJANG 12th Grand Prix Thailand 2019 menjadi kompetisi internasional pertama yang diikuti tim Paduan Suara Delta Cielo. Mereka berhasil membawa pulang dua medali emas...

Supardi Terbukti Bantu Membunuh Dr Nanik

SEMARANG - Dua pelaku yang terlibat kasus pembunuhan dokter jantung RS Telogorejo Semarang, dr Nanik Trimulyani Arifin, di tempat kos miliknya Jalan Plampitan No...

Korsel Inginkan Kerjasama Sektor Perkebunan

UNGARAN–Luasnya area perkebunan di Indonesia, membuat Korea Selatan (Korsel) kepincut melakukan kerjasama. Terlihat dari Perwakilan dari Korea Selatan (Korsel), yaitu Wakil Wali Kota Junggu...

Mudik Lebaran, Tanggung Jawab Besar

PERTAMAKALI dinas lapangan di jalur terpadat di Pantura Kota Pekalongan, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Rachmawati mengaku siap siaga penuh, walaupun langsung menghadapi arus mudik...