Beranda Untukmu Guruku Kebermaknaan Belajar Matematika

Kebermaknaan Belajar Matematika

Others

RADARSEMARANG.COM – AKUN Instagram Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Muhadjir Effendy (@muhadjir_effendy), akun Twitter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (@Kemdikbud_RI), serta akun Instagram Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Kemendikbud (@pustekkom_kemendikbud) dihujani komentar peserta UN. Salah satunya komentar lucu dari akun @kdkmia. Dia menulis “saya belum bisa moveon dari soal matematika yang begitu amat gampang, saking gampangnya saya sampai ngerjain enggak liat soal, begitu seninya saya, sampai-sampai saya ngurek (menulis indah) di atas ljk.” Dalam tanggapannya, Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan bahwa bobot pada soal-soal UNBK, terutama mata pelajaran matematika memang berbeda dengan penilaian biasanya. Soal-soal tertentu dibuat lebih sulit dan membutuhkan daya nalar tinggi, atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Matematika merupakan bidang ilmu yang memiliki kedudukan penting dalam pengembangan dunia pendidikan. Matematika sebagai ilmu dasar bagi pengembangan disiplin ilmu lainnya memiliki manfaat dalam kehidupan manusia. Matematika memiliki fungsi dalam kehidupan manusia, di antaranya mathematics for life, mathematics as a part of cultural heritage, mathematics for the workplace, and mathematics for the scientific and technical community.

Secara umum pembelajaran Matematika di kelas sulit diterima oleh siswa. Beberapa fenomena pun muncul antara lain: Pertama, banyak siswa malas belajar Matematika hanya karena cara guru yang mengajar tidak sesuai dengan keinginan siswa. Kedua, siswa selalu merasa bosan dalam belajar Matematika dan akibatnya hasil belajar Matematika tidak sesuai harapan. Ketiga, ada sebagian siswa berpendapat bahwa guru Matematika dalam penyampaian materi tidak dapat menyampaikannya dengan menarik dan menyenangkan. Keempat, guru Matematika yang mengajar terlalu monoton bahkan cenderung kurang dapat berkomunikasi dengan siswa sehingga suasana kelas menjadi kaku.

Bagaimana cara membuat matematika disukai oleh siswa? Inilah tantangan terbesar guru matematika. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah melaksanakan pembelajaran bermakna. Gagasan tentang belajar bermakna dikemukakan oleh William Brownell pada awal pertengahan abad duapuluh merupakan ide dasar dari teori konstruktivisme. Menurut Brownell  matematika dapat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri atas ide, prinsip, dan proses sehingga keterkaitan antar aspek-aspek tersebut harus dibangun dengan penekanan bukan pada memori atau hapalan melainkan pada aspek penalaran atau intelegensi anak.

Dalam NCTM Standards belajar bermakna merupakan landasan utama untuk terbentuknya mathematical connections. Untuk terbentuknya kemampuan koneksi matematik tersebut, dalam NCTM Standards dijelaskan bahwa pembelajaran matematika harus diarahkan pada pengembangan kemampuan berikut: Pertama, memperhatikan serta menggunakan koneksi matematik antar berbagai ide matematik. Kedua, memahami bagaimana ide-ide matematik saling terkait satu dengan lainnya sehingga terbangun pemahaman menyeluruh. Ketiga, memperhatikan serta menggunakan matematika dalam konteks di luar matematika.

Jelaslah bahwa prinsip-prinsip di atas memiliki implikasi yang signifikan terhadap pembelajaran matematika. Prinsip-prinsip tersebut juga mengindikasikan bahwa konstruktivisme merupakan suatu proses yang memerlukan waktu serta merefleksikan adanya sejumlah tahapan perkembangan dalam memahami konsep-konsep matematika. Menurut Vygotsky,  proses peningkatan pemahaman pada diri siswa terjadi sebagai akibat adanya pembelajaran. Diskusi yang dilakukan antara guru-siswa dalam pembelajaran, mengilustrasikan bahwa interaksi sosial yang berupa diskusi ternyata mampu memberikan kesempatan pada siswa untuk mengoptimalkan proses belajarnya. Interaksi seperti itu memungkinkan guru dan siswa untuk berbagi dan memodifikasi cara berpikir masing-masing. Selain itu, terdapat juga kemungkinan bagi sebagian siswa untuk menampilkan argumentasi mereka sendiri serta bagi siswa lainnya memperoleh kesempatan untuk mencoba menangkap pola berpikir siswa lainnya. Episode seperti ini, diyakini akan dapat meningkatkan pengetahuan serta pemahaman tentang obyek yang dipelajari dari tahap sebelumnya ke tahapan yang lebih tinggi. Proses yang mampu menjembatani siswa pada tahapan belajar yang lebih tinggi seperti ini menurut Vygotsky disebut sebagai zone of proximal development (ZPD).

Untuk itu, membuat siswa menyenangi matematika perlu pendekatan yang berbeda oleh guru dalam mengajar. Matematika jangan hanya dipandang sebagai angka-angka tetapi harus menjadi bagian dalam proses pemecahan masalah sehari-hari. Sesekali guru perlu mengajak siswanya belajar di ruang kelas untuk mengasah kemampuannya dalam permasalahan di masyarakat. Jika hal ini dilakukan maka soal-soal HOTS bukan lagi momok bagi siswa. (as3/aro)

Guru Matematika SMK Negeri 1 Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

12,293FansSuka
35PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest News

Huawei HSBC

Tanpa Angpao

Naik Lagi

Related News

Huawei HSBC

Tanpa Angpao

Naik Lagi

Penantian D-dimer