RADARSEMARANG.COM – TADI malam, bertepatan malam 17 Ramadan (1  Juni 2018) seluruh umat Islam memeringati malam Nuzulul Quran. Yakni, malam di mana kali pertama diturunkan wahyu dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Jawa Pos Radar Semarang merasa mendapat banyak hikmah dari peringatan tersebut.

Lima ayat dalam surat Al-Alaq yang diturunkan kepada Nabi Muhammad pada malam 17 Ramadan di Goa Hira’ berisi pelajaran tentang membaca. Bahkan, kata pertamanya berbunyi iqro’ yang artinya bacalah. Iqro’ bismirobbikalladzi kholaq (bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan).

Sehari sebelum malam Nuzulul Quran, Kamis, 31 Mei 2018, saya beserta seluruh karyawan merenung. Terutama kami telah berkali-kali mendapat ujian. Awal tahun ini saja terjadi dua kali kenaikan biaya cetak koran. Total sekitar 9 persen. Itu dikarenakan harga kertas yang terus melambung. Juga harga tinta serta biaya-biaya lain.

Sebagai media mainstream kami ingin terus hidup. Apalagi masyarakat juga mengharap demikian. Mereka membaca Jawa Pos karena ingin mendapatkan berita-berita yang terpercaya di tengah maraknya peredaran informasi hoax yang menyesatkan. Sementara itu, biaya untuk hidup semakin mahal.

Kami sudah berusaha mengatasinya dengan berbagai cara. Efisiensi kami lakukan semaksimal mungkin. Sehingga kami bisa menahan kenaikan harga. Sebaliknya, malah menurunkannya. Penurunan harga Jawa Pos Radar Semarang itu berlaku tanggal 15 Januari 2018. Dari Rp 6.000 menjadi Rp 4.500 (harga bandrol). Caranya dengan menghilangkan  konten-kontan yang kurang diperlukan.

Kebijakan itu berpengaruh baik. Terbukti tidak terjadi gejolak di pasar. Meski demikian kami terus memantau perkembangan, terutama aspirasi pelanggan. Kesimpulannya, banyak pelanggan yang menyarankan agar harga tidak diturunkan. Justru, kualitas ditingkatkan. Isi diperbanyak.

Memang, berat memenuhi tuntutan pembaca tersebut. Tetapi, kemarin malam seolah ada energi baru merasuk ke relung-relung tubuh. Kami hayati betul ayat demi ayat yang dibacakan malaikat Jibril di Goa Hira’. Di musala kampung saya yang jamaah tarawihnya tinggal separo dibanding hari pertama puasa,  ayat ini dikupas tuntas. Iqro’ warobbukal-akrom. Allazii allama bil-qolam (Bacalah. Dan, Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena (Al-Alaq ayat 3-4).

Surat Al-Alaq memberikan semangat kepada kami untuk berupaya keras menyediakan bacaan yang berkualitas. Menyosialisasikan yang baik itu baik. Mengetengahkan good news is good news. Kami ingin memenuhi perintah yang terkanding dalam wahyu tersebut.  Allamal-insana ma lam ya’lam (Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya) (Al-Alaq ayat 5)

Semangat Nuzulul Quran itu memberikan keyakinan kepada kami akan langkah-langkah yang harus kami tempuh. Yaitu, menyesuaikan harga bandrol koran lagi. Menjadi Rp 5.000 . Tentu saja dengan konten yang mudah-mudahan lebih berkualitas, lebih beragam, dan lebih banyak. Seperti harapan pembaca. Penyesuaian tersebut berlaku mulai 1 Juni 2018 bertepatan malam Nuzulul Quran dan Hari Kelahiran Pancasila.

Reaksi atas kebijakan tersebut beragam. Kami telah menurunkan tim ke lapangan untuk memantaunya. Syukur Alhamdulillah. Intinya bisa menerima. Malah ada yang bilang, ‘’Kalau tidak berubah, itu tidak Jawa Pos.’’ Sungguh melegakan. Namun, ada juga yang nggerundel.’Arep mudun arep munggah. Yo uwis, terserahlah (Mau turun, mau naik. Ya sudah, terserah).’’

Reaksi agen juga hampir sama. Saikun, salah seorang agen mengatakan, ‘’Halah mbolak-mbalik, mending wingenane gak usah didunke. Marahi bingung (Halah, bolak-balik. Lebih baik kemarin-kemarin tidak usah diturunkan. Bikin bingung saja).’’ Ada juga yang lebih keras. Misalnya, ‘’mencla-mencle (tidak konsisten).’’

Semua kami tampung. Semua kami cerna. Kami bisa menerimanya. Berbisnis memang harus dinamis. Berdagang memang harus berubah. Mencoba dan gagal lebih baik daripada gagal mencoba. (hq@jawapos.co.id)