Mading Sebagai Sarana Penumbuh Minat Tulis Siswa

spot_img

RADARSEMARANG.COMSAMPAI saat ini, kadang saya masih mendapati tantangan ketika memberikan tugas kepada murid-murid untuk menulis, baik fiksi ataupun nonfiksi. Mereka kerap kali menyahut, begitu petunjuk untuk tugas itu selesai saya sampaikan. Beragam alasan mereka sampaikan. Ada yang menjawabnya sebagai hal yang susah, ada pula yang kesulitan saat mengemukakan ide. Ada juga yang mempermasalahkan tema.

Nah, yang paling menjengkelkan, ada yang terang-terangan meminta izin untuk diperbolehkan menyalin artikel hasil browsing di internet. Memangnya sesulit itukah pelajaran menulis? Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, sebenarnya telah diberikan cara-cara menulis yang tergolong praktis. Seperti halnya yang tertera pada buku paket. Namun, hal itu rupanya belum cukup memberikan semangat kepada siswa untuk melakukan.

Seperti diketahui, kompetensi menulis merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Ini menunjukkan bahwa kompetensi menulis mencakup tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu. Dengan demikian, terdapat hubungan antara tugas-tugas yang dipelajari peserta didik di sekolah, dengan kemampuan yang diperlukan oleh dunia kerja.

Baca juga:   Belajar Baca Tulis Alquran Menggunakan Kartu Huruf Hijaiyah Berwarna

Berbagai bidang tugas di dunia kerja, menuntut tenaga kerja atau karyawan mampu untuk menulis. Misalnya, perkantoran, bisnis, dan bidang teknis. Di sinilah pembekalan kompetensi menulis perlu dimiliki siswa, meskipun nantinya siswa tidak harus berprofesi sebagai penulis atau pengarang.

Ada beberapa kendala persoalan menulis bagi siswa. Pertama, siswa belum punya pengetahuan tentang apa yang akan ditulis. Kedua, tidak tahu cara menuangkan ide. Penyebab pertama, bisa diatasi dengan menuangkan ide lewat mading di sekolah. Untuk penyebab yang kedua, perlunya pembimbingan bagi siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti mading dan KIR.

Mading atau majalah dinding, merupakan ruang yang disediakan untuk mempublikasikan hasil tulisan. Di lingkungan sekolah, mading menjadi ruang untuk menampung hasil tulisan warga sekolah, baik siswa maupun guru. Kegiatan publikasi mading secara berkala dapat menjadi sarana yang membantu proses kreatif penulisan. Terlebih, bila pelaksanaannya diatur secara bergilir. Artinya, terjadwal untuk setiap kelas. Dengan cara seperti itu, akan mewajibkan setiap siswa agar belajar menulis sesuai kemampuan. Serta menjadi langkah awal guna menumbuhkan semangat dalam menulis. Karya-karya yang dipublikasikan dalam madding, selanjutnya diapresi sebagai umpan balik atas usaha siswa dalam berkarya.

Baca juga:   Pelajaran PAI di Tengah Pandemi Menyenangkan dengan Quizizz Game

Sebagai pembimbing, guru bahasa Indonesia harus berusaha memberikan bimbingan dan arahan, sesuai kemampuan siswa. Meski kadang guru memberikan kemampuan menulis kepada siswa terbatas, tapi secara tidak langsung, akan berdampak pada pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki siswa, Kurikulum tetap berperan dalam mengatasi permasalan ini.

Jika perlu kurikulum memberikan petunjuk detail. Karena dalam tataran menulis kompetensi, merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi sendiri merupakan kemampuan menguasai suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Dengan demikian, terdapat hubungan antara tugas-tugas yang dipelajari peserta didik di sekolah dengan kemampuan yang diperlukan oleh dunia kerja.

Siswa akan mempunyai gambaran serta panduan yang sesuai dengan contoh-contoh yang mudah diikuti dan guru memberikan arahan sesuai kemampuan anak didik. (*/isk)

Guru Bahasa Indonesia SMK N 1 Windusari Kab. Magelang

Author

Populer

Lainnya