33 C
Semarang
Minggu, 27 September 2020

Perempuan Gampang Didoktrin Terorisme

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Kasus bom bunuh diri oleh satu keluarga di Surabaya merupakan perilaku baru pelaku aksi terorisme. Kasus serupa belum pernah terjadi dalam sejarah aksi terorisme di dunia.

“Teroris laki-laki sudah biasa. Teroris perempuan juga biasa, banyak kelompok tertentu yang menjadikan perempuan sebagai pengebom bunuh diri. Tapi yang pelakunya keluarga, baru pertama kalinya. Ini sangat fenomenal,” tutur Antropolog Budaya dari King Fahd University Arab Saudi, Sumanto Al Qurtuby dalam diskusi ‘Memahami Proses Radikalisasi Keluarga Pelaku Teror’ di Aula Magister Ilmu Komunikasi Undip, Rabu (30/5).

Sumanto menjelaskan, dalam sejarah gerakan terorisme, awalnya para pelaku adalah kaum laki-laki. Sebab perempuan dianggap sebagai seorang istri dan ibu. Laki-laki yang banyak menjadi pelaku bom bunuh diri. Sebelumnya, ISIS tidak pernah menggunakan perempuan sebagai pengebom bunuh diri. “Tapi belakangan mulai menggunakan perempuan sebagai taktik karena susah dideteksi. Selain itu, perempuan dianggap gampang didoktrin.”

Ia menjelaskan, aksi terorisme tidak melulu berkaitan dengan agama, apalagi Islam. Sebab ada teroris sekuler yang beraksi karena motif politik, ideologi maupun dendam pribadi. Walaupun harus diakui ada aksi terorisme yang berasal dari penafsiran teks-teks keagamaan oleh kelompok tertentu. “Salah besar kalau terorisme dikaitkan dengan agama tertentu, apalagi Islam. Sebab agama atau ideologi apapun bisa mendorong seseorang menjadi teroris. Bahkan banyak teroris individual yang tidak terkait kelompok tertentu.”

Sementara itu, eks narapidana kasus terorisme Yusuf Adirima mengatakan, pemerintah harus sungguh-sungguh melakukan upaya deradikalisasi para pelaku teror. Perlu pendekatan yang manusiawi pada eks narapidana terorisme.

Yusuf yang divonis 10 tahun penjara karena menyimpan 26 bom rakitan di rumah Jalan Taman Sri Rejeki Selatan Semarang pada 2003 ini menceritakan, beberapa rekannya, awalnya bukan orang yang taat pada agama. Ada yang mantan preman bahkan badannya penuh tato. Mereka selanjutnya terdoktrin menjadi pelaku teror ketika ingin bertaubat dan menebus kesalahan masa lalu. “Kalau ada orang yang punya kesadaran sendiri ingin taubat, ini kesempatan untuk diarahkan ke doktrin-doktrin pelaku teror,” ujar mantan kombatan Jamah Islamiyah di Moro, Filipina Selatan ini. (ton/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Headline Radar Semarang Terbaik se-Jawa Pos Group

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Jawa Pos Radar Semarang meraih penghargaan bergengsi dalam Kompetisi Product Quality Jawa Pos Group 2017-2018. Headline Jawa Pos Radar Semarang berjudul “Pabrik Pil...

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Jateng Bantu Rohingya Rp 256 Juta

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pemprov Jateng menyerahkan bantuan yang dihimpun dari masyarakat dan berbagai lembaga di Jateng, untuk masyarakat Rohingya Myanmar. Yakni, berupa uang tunai sebesar Rp...