BARANG BUKTI: Petugas BNNP Jateng menunjukkan obat kecantikan ilegal yang disita. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BARANG BUKTI: Petugas BNNP Jateng menunjukkan obat kecantikan ilegal yang disita. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Semarang bersama Satpol PP Jateng dan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng membongkar praktik distribusi obat kecantikan ilegal di Semarang dan Magelang. Tidak tanggung-tanggung, barang bukti obat ilegal yang disita mencapai Rp 3,5 miliar. Gudang penyimpanan obat ilegal tersebut berada di sebuah ruko yang berlokasi di Jalan Arteri Soekarno-Hatta No 12, Pedurungan. Ironisnya, lokasi gudang tidak jauh dari Mapolsek Pedurungan, tepatnya hanya berjarak kurang lebih 150 meter.

Kepala BPOM Republik Indonesia, Penny K Lukito, menjelaskan, gudang obat kosmetik ilegal tersebut dibongkar berdasarkan informasi dari temuan obat ilegal oleh petugas BPOM di Pekanbaru. Berdasarkan penyelidikan, diketahui adanya praktik penjualan obat ilegal berupa sediaan injeksi secara online di media sosial (medsos).

“Informasi itu menyebutkan penjualan injeksi itu melalui online, yang penjualnya berasal dari Kota Semarang,” jelasnya saat jumpa pers di lokasi gudang, Kamis (31/5).

Selanjutnya, pihaknya bersama BPOM Semarang melibatkan instansi lainnya melakukan penelusuran hingga akhirnya menemukan lokasi yang diduga sebagai gudang tempat penyimpanan obat ilegal. Berdasarkan penyelidikan, gudang di Semarang ini menjadi sumber peredaran obat ilegal yang dijual secara online.

“Dugaan sementara, praktik distribusi ilegal ini dilakukan dengan modus menjual melalui e-commerce dan media sosial, serta didistribusikan melalui jasa pengiriman ke seluruh Indonesia,” bebernya.

Pihaknya menyebutkan, modus yang dilakukan pelaku dengan cara berkedok sebagai agen jasa pengiriman ekspedisi. Namun berkat kejelian petugas, di lokasi gudang berhasil ditemukan barang bukti obat ilegal, termasuk pemiliknya berinisial UA, warga Semarang.

“Gudang ini sebagai tempat penyimpanan, pengemasan, dan pengiriman barang. Pemiliknya berinsial UA, warga Semarang,” katanya.

Dari pengungkapan ini, ditemukan barang bukti berbagai jenis obat kecantikan ilegal. Antara lain, injeksi vitamin C, Kolagen, Gluthatuon, Tretinoin, obat-obat pelangsing, Sibutramine HCI, dan produk-produk skin care.

“Jumlah barang bukti sebanyak 146 item yang terdiri atas 127.900 pieces. Nilai keekonomian diperkirakan mencapai Rp 3,5 miliar. Obat tak berizin ini kebanyakan untuk kecantikan berupa obat injeksi atau disuntikkan, ada yang untuk pelangsing, pemutih, dan vitamin C,” jelasnya.

Terkait maraknya peredaran obat ilegal, Penny mengimbau kepada masyarakat, utamanya pelaku usaha untuk mematuhi segala peraturan perundang-undangan yang berlaku. Masyarakat juga diharapkan untuk berhati-hati dalam memilih obat yang akan dikonsumsi.

“Jangan membeli atau memilih produk obat yang tidak memiliki izin edar. Ingat selalu cek Klik, cek kemasan, cek label, cek izin edar, cek kedaluwarsa sebelum membeli atau memilih produk obat,” imbaunya.

Kepala Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan BBPOM Semarang, Zeta Rina, menjelaskan, obat injeksi ilegal tersebut berpotensi menimbulkan bahaya efek samping, karena tidak ada jaminan dari BPOM dan belum terdaftar. Jika pemakaian tidak sesuai dosis atau zat yang terkandung, kata dia, maka akan berbahaya menyebabkan penyakit kulit. “Bisa ada efek sampingnya, terburuknya kanker kulit,” katanya. (mha/aro)