Pembiasaan Sicater Tingkatkan Pemahaman Ragam Krama

  • Bagikan
Oleh : Sri Hardiyati Wahyurini SPd
Oleh : Sri Hardiyati Wahyurini SPd

RADARSEMARANG.COM – SAAT ini tidak sedikit siswa mengeluh betapa sulitnya berbahasa Jawa. Siswa seringkali tidak memahami pembicaraan guru ketika pembelajaran Bahasa Jawa. Apalagi kalau penjelasan guru itu menggunakan ragam krama, siswa hanya diam seribu bahasa. Mereka diam bukan berarti memahami melainkan tidak tahu sama sekali maksudnya. Meskipun dari segi isi materi mudah, siswa masih merasa kesulitan untuk mengungkapkannya dengan Bahasa Jawa ragam krama.

Kurangnya siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Jawa disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya faktor keluarga dan lingkungan masyarakat. Siswa tidak bisa berbahasa Jawa karena tidak terbiasa menggunakannya dalam sehari-hari. Sejak kecil orang tua tidak menanamkan Bahasa Jawa kepada anak-anaknya, sehingga mereka sama sekali tidak mengenal kosa kata Bahasa Jawa. Apalagi jika didukung oleh lingkungan masyarakat sekitarnya. Rata-rata masyarakat sekarang jarang menggunakan Bahasa Jawa dalam berkomunikasi. Hal itu memberikan pengaruh besar bagi anak. Secara otomatis anak tidak mengenal Bahasa Jawa jika berkomunikasi dengan Bahasa Jawa. Untuk itulah mata pelajaran Bahasa Jawa dianggap asing dan sulit.

Ketika pembelajaran Bahasa Jawa, guru diharapkan menggunakan Bahasa Jawa ragam krama untuk penyampaian materi. Siswa yang menguasai ragam krama tidak menjadi masalah. Namun, tidak sedikit siswa merasa asing dan aneh mendengar bahasa tersebut. Ada yang tersenyum sendiri ketika mendengar Bahasa Jawa karena tidak memahami isi pembicaraan. Pentingnya pemahaman siswa terhadap apa yang disampaikan guru perlu diupayakan agar komunikasi dapat terjalin. Salah satu cara efektif untuk menumbuhkan semangat siswa adalah  pembiasaan simak catat terap (sicater).

Pembiasaan simak catat terap dilaksanakan di awal kegiatan pembelajaran Bahasa Jawa. Teknik yang pertama adalah pembiasaan simak atau menyimak. Siswa menyimak setiap kata yang didengar kesehariannya di manapun berada. Simak kata-kata yang sering diucapkan seseorang. Dalam waktu kurang dari sehari siswa mampu menyimak kata yang tidak terbatas jumlahnya baik itu berbahasa Jawa maupun bahasa lain.

Pembiasaan yang kedua catat. Siswa mencatat atau menulis kata yang telah disimak dalam Bahasa Jawa ragam krama. Meskipun yang disimak itu berbahasa lain, siswa berlatih mencatat kata itu dengan ragam krama. Catat kata-kata dengan ragam krama. Semakin banyak kata yang disimak semakin banyak pula kata yang dicatat siswa. Hal demikian bertujuan memperkaya kosa kata yang dimiliki siswa. Siswa dapat mencatat kosa kata dalam notes atau buku kecil berukuran saku. Dengan mudah siswa mudah dapat membawa notes ke mana-mana sehingga setiap saat dapat dibaca dan dihafal dengan praktis.

Terap (menerapkan) merupakan pembiasaan ketiga. Setelah memiliki notes kosa kata, siswa menerapakannya dengan membuat kalimat sederhana. Sebelum kegiatan pembelajaran siswa melakukan pembiasaan menyusun kalimat-kalimat dengan ragam krama. Kalimat yang ditulis berdasarkan kosa kata yang dipilih dari notes masing-masing. Penerapan berikutnya siswa menyampaikan kalimat yang ditulis satu per satu. Guru dan siswa lain mengoreksi kata-kata yang tidak benar atau kurang tepat penggunaannya. Pembiasaan ini dilakukan setiap seminggu sekali di awal pembelajaran Bahasa Jawa.

Pembiasaan sicater meningkatkan siswa  dalam memahami Bahasa Jawa ragam krama. Siswa pun tidak  merasa kesulitan ketika guru menyampaikan pembelajaran dengan ragam krama di kelas. Apabila ada kosa kata yang sulit, siswa bersemangat untuk menemukan arti dari notes yang dimiliki atau kamus. Dengan demikian siswa tidak asing lagi terhadap ragam krama. Pembiasaan sicater baik dilakukan siswa untuk melatih keterampilan berbahasa. (tj3/2/zal)

Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 12 Semarang

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *