33 C
Semarang
Senin, 10 Agustus 2020

Mengembalikan Fungsi Alun-Alun Wonosobo sebagai Ruang Terbuka

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM – Secara historis, Alun-alun merupakan identitas kota-kota di Jawa yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Medang, Kediri, Majapahit hingga Mataram Islam yang keberadaannya masih tetap dipertahankan hingga saat ini. Keberadaan alun-alun dahulu kala adalah sebagai ruang terbuka, tempat olah keprajuritan, tempat rakyat menunggu untuk menghadap raja/adipati, tempat melakukan pepe (demonstrasi ala masyarakat dahulu kala), tempat upacara keagamaan dan berbagai kegiatan lainnya.

Secara tipologi, Alun-alun tradisional Jawa selalu terkait dengan keberadaan bangunan-bangunan publik di sekitarnya dalam konsep Catur Tunggal yang merupakan satu kesatuan sebagai pusat tata kota Jawa Kuno. Alun-alun merupakan pusat berbagai aktivitas yang dikelilingi oleh berbagai bangunan utama yaitu di sebelah utara terdapat pendopo kerajaan/kadipaten (sekarang kabupaten), sebelah barat terdapat tempat peribadatan/masjid dan di sebelah selatan terdapat penjara dan pasar. Konsepsi tata kota Jawa Kuno tersebut masih tetap dipertahankan hingga saat ini sehingga menjadi model tata kota modern di Pulau Jawa pada umumnya. Konsep tata kota ini tentunya juga mengandung makna filosofis dan makna magis dalam kosmologi masyarakat Jawa sehingga memiliki daya tarik dan kewibawaan tersendiri.

Alun-alun kota Wonosobo letaknya persis di tengah-tengah kota Wonosobo atau titik nolnya Wonosobo yang dikelilingi pendopo Kabupaten, masjid, penjara dan kantor Bupati Wonosobo sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Wonosobo. Hanya saja letak Masjid Agung Jami’ Wonosobo yang dibangun sekitar tahun 1980-an, terdapat pergeseran tidak persis berada di sebelah Alun-alun Wonosobo.

Alun-alun kota memainkan peranan yang sangat vital sebagai pusat aktivitas dan keramaian kota. Seperti sebagai tempat olah raga sepak bola, tenis, basket, jogging, taman kota dengan konsep sebagai ruang terbuka hijau, tempat upacara, ajang berbagai perlombaan, pementasan kesenian, tempat kampanye terbuka partai politik atau calon Kepala Daerah dan sebagai tempat rekreasi keluarga. Bahkan di era tahun 1980-1990-an pernah difungsikan sebagai tempat pacuan kuda. Di samping itu, alun-alun Wonosobo pernah pula dijadikan sebagai lokasi penampungan para pedagang pasar induk ketika terjadi kebakaran pasar Induk pada tahun 2004.

Pada saat ini kondisi Alun-alun Wonosobo telah berubah fungsi menjadi pasar tiban, terutama setiap hari minggu. Area jogging telah dipenuhi para pedagang dan para pembeli, sehingga untuk lewat, para pejalan kaki saja mengalami kesulitan. Tidak kurang dari 680-an pedagang yang berjualan di sana. Ironisnya, sebagian besar pedagang berasal dari luar Kota Wonosobo. Hanya sekitar 158 pedagang saja yang berasal dari Kabupaten Wonosobo.

Alun-alun Wonosobo sebagai Ruang Terbuka Hijau telah berubah fungsi sebagai pusat ekonomi baru yang sangat menjanjikan bagi para pedagang musiman. Padahal berdasarkan Peraturan Bupati yang dibuat semasa kepemimpinan Bupati Abdul Kholiq Arief, para pedagang yang diperbolehkan berjualan di seputar Alun-alun hanya pedagang makanan dan minuman saja, yang ditempatkan di sepanjang Jalan Merdeka. Magnet ekonomi Alun-alun telah dilanggar secara massif dan tidak ada upaya untuk menegakkan Peraturan Bupati tersebut sebagaimana mestinya. Fenomena lain yang juga kita dapati di seputar Alun-alun Wonosobo adalah berjubelnya parkir kendaraan roda dua dan roda empat yang memadati jalan di seputar Alun-alun.

Melihat kompleksitas sekarang ini maka Pemerintah Daerah sudah seharusnya melakukan upaya serius untuk mengembalikan fungsi utama Alun-alun sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang bisa menjadi pusat aktivitas olah raga, pertunjukan seni-budaya, rekreasi keluarga dan sekaligus sebagai penyangga lingkungan hidup. Banyaknya pohon Bramastana (Beringin) yang ditanam di seputar Alun-alun dan di tengah Alun-alun menjadi penyuplai oksigen yang menambah kesejukan kota dan sebagai penjaga mata air yang sangat dibutuhkan oleh warga.

Karena itu, sangat diperlukan ketegasan sikap Pemda Wonosobo dalam melakukan penertiban para pedagang sekaligus harus mencari solusi alternatif agar para pedagang musiman tersebut juga bisa tetap mengais rezeki dari keramaian kota tanpa menimbulkan kesan semrawut, kumuh dan liar tanpa aturan. Pemda harus mengupayakan agar segera membuat pusat perbelanjaan di sekitar kota yang bisa menggantikan Alun-alun saat ini dan melakukan penataan parkir kendaraan bermotor di seluruh pusat kota.

Karena itu, penataan Kota Wonosobo harus dilakukan dengan menggunakan perencanaan yang terintegrasi dan dipersiapkan secara lebih matang. Apabila diperlukan dengan sedikit mengubah pakem konsep Catur Tunggal Alun-alun, posisi Rumah Tahanan Negara di Kabupaten Wonosobo bisa dipindahkan ke pinggiran Kota Wonosobo. Ke depan, eks Rumah Tanahan Negara tersebut bisa dialih ungsikan sebagai tempat perbelanjaan di pusat kota di luar Pasar Induk Wonosobo dan kompleks Rita Pasar Raya.

Memang untuk merealisasikan hal tersebut tidaklah mudah. Karena itu pihak-pihak terkait seperti Bupati, DPRD, Kantor Pengadilan Negeri dan pihak lain perlu duduk bersama untuk mencari solusi terbaik terkait dengan hal tersebut. Pada akhirnya, selain peran serta pemerintah, tentunya tertatanya Alun-alun Wonosobo juga membutuhkan peran serta aktif dan kesadaran masyarakat Wonosobo sebagai masyarakat yang berperadaban (civilize) yang mampu menjunjung tinggi etika, sopan-santun dan kesadaran handarbeni yang merasa memiliki kota tercinta Wonosobo. Jadi dapat dikatakan bahwa Alun-alun Wonosobo merupakan potret masyarakat Wonosobo itu sendiri. Baik dan buruknya Alun-alun juga merupakan potret kehidupan masyarakat dan pelaku kebijakan di kota dingin ini. (adv/)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Narkoba Sudah Masuk Kalangan Pelajar

BATANG - Maraknya peredaran narkoba yang menyasar kalangan pelajar membuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang harus pintar-pintar melakukan pencegahan. Karena selama ini ditengarai...

Raih 2 Penghargaan Keuangan Daerah

MAGELANG–Kota Magelang menerima penghargaan kategori Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terbaik Regional Jawa dan Kondisi Keuangan Daerah Terbaik Regional Jawa. Dua penghargaan itu diberikan oleh...

Pendirinya Mualaf, Selama Ramadan Ada Pesantren Kilat

RADARSEMARANG.COM - Sejak diresmikan 2017 silam, Masjid Al-Mahdi yang unik bernuansa Tionghoa ini makin ramai dikunjungi masyarakat, apalagi selama bulan ramadan. Tidak hanya masyarakat...

Parkir di Trotoar, Mobil Aparat Digembok

SEMARANG — Sejumlah trotoar di jalan protokol Kota Semarang mulai dipercantik. Sayangnya, trotoar tersebut justru dipakai parkir mobil. Ini seperti yang tampak di Jalan...

Ratusan Orang Hijrah Tanpa Utang dan Riba

RADARSEMARANG.COM, KENDAL—Selama masih terjerat hutang dan memakan uang riba, maka hidup seseorang tidak akan bisa tenang dan berkah. Karena itu, satu-satunya cara hidup tenang...

75 Pelanggar Lalin Terekam 

SEMARANG – Hari pertama diberlakukannya kebijakan e-tilang CCTV, Senin (25/9) kemarin, ternyata tak membuat sejumlah pengendara  takut. Tercatat sejak pukul 06.00 hingga 04.00, terdapat...