33 C
Semarang
Senin, 10 Agustus 2020

Dulu Dijual di Alun-Alun Johar

Sajian Khas Ramadan

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Terasa ngangeni untuk disantap. Sebut Petis Bumbon, Ndok Mimi, Bubur India, dan Kolak Bolang-Baling, selalu ada saat bulan Ramadan. Hari biasa, memang ada tapi tak sembarang rumah makan menjualnya.

RADARSEMARANG.COM – PETIS BUMBON, tampilannya hampir serupa dengan sambal goreng. Secara kasat mata memang sulit dibedakan. Namun tidak untuk persoalan rasa, sebab masakan ini memiliki rasa yang khas. Di Semarang, masakan ini hanya dapat dijumpai saat bulan Ramadan atau dalam tradisi dudgeran. Ya, makanan ini dikenal dengan sebutan petis bumbon telur.

Petis bumbon telur. Dari namanya saja sudah bisa ditebak. Kata petis berasal dari salah satu bahan yang wajib digunakan, yakni petis banyar. Sementara bumbon karena masakan ini menggunakan bumbu-bumbu rempah sebagai ciri khas. Dan sudah pasti telur, sebagai bahan utama dalam membuat sajian ini.

Jika pada sambal goreng hanya menggunakan bumbu salam dan laos, pada petis bumbon ditambahkan bumbu-bumbu rempah lainnya, seperti daun jeruk wangi, kunci, serai dan sejumlah rempah lainnya. Tak lupa petis banyar. Untuk telurnya, yang digunakan adalah telur bebek. Tak heran jika telur pada petis bumbon memiliki tekstur yang kenyal. Sangat pas dengan rasa bumbu gurih yang khas.

Di halaman masjid Kauman, hanya ada dua penjual makanan khas ini. Mereka telah berjualan selama bertahun-tahun. Keduanya berasal dari kampung Bustaman, Semarang. Istiqomah, salah satu penjual menuturkan, mereka merupakan generasi kedua dari penjual makanan yang banyak digemari saat puasa ini. Memang benar, penggemar makanan ini sangat banyak. Bahkan, dalam sehari, Istiqomah mampu menjual hingga 100 butir telur. ”Kadang, bisa sampai 150 juga,” ujarnya.

Penggemarnya pun tidak hanya dari Semarang. Masakan ini tampaknya sudah tenar hingga ke sejumlah wilayah karena pembeli petis bumbon ada juga yang berasal dari Surabaya, Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Mereka sengaja membeli untuk dibawa pulang ke kota asal mereka.

”Ada juga langganan yang sudah bertahun-tahun. Ini soalnya masakan khas Semarang, dan hanya ada pas puasa saja,” jelasnya sembari membungkuskan butir telur ini kepada para pembeli.

Sama halnya Istiqomah, Hj Sokanah juga merupakan generasi kedua dari penjual petis bumbon ini. Ia melanjutkan usaha yang sebelumnya dijalankan sang Adik, Siti. Nama sang Adik pun masih melekat di banner tempat ia berjualan. Sebelumnya, orang tua Hj Sokanah lah yang berjualan makanan yang hingga sekarang dipertahankan secara turun temurun ini. ”Dulu awalnya Ibu Karsini,” tutur Hj Sokanah kepada koran ini.

Menurut cerita karyawati Hj Sokanah, makanan ini sudah ada sejak Alun-Alun Johar masih berfungsi. Makanan ini dulunya memang dijual di Alun-Alun Johar dan merupakan makanan susulan karena sebelumnya yang dijual adalah ketan biru, sate jagung telur, dikenal juga dengan perkedel jagung dan coro santen. ”Saya dari dulu membantu goreng perkedel jagung ini sejak masih jualan di alun-alun,” jelas karyawati Hj. Sokanah. ”Sejak saya masih kecil,” imbuhnya.

Kemudian, lanjutnya, petis bumbon menjadi masakan tambahan yang dijual dalam gelaran dugderan Ramadan. Memang hanya pada saat dugderan, karena pada hari biasa petis bumbon tidak dibuat oleh mereka. ”Karena tradisi. Adanya ya pas Ramadan saja. Kami kan hanya melanjutkan,” ujarnya.

Kenikmatan makanan ini sukses mencetak penggemar setia. Seperti Mahzun, warga Semarang Barat yang mengaku tidak pernah absen untuk membeli petis bumbon setiap tahunnya. Walaupun jauh, ia selalu menyempatkan diri datang ke masjid Kauman untuk  membeli makanan khas ini. ”Ini pokoknya khas Semarang banget. Yang membuat khas itu petisnya. Saya setiap tahun pasti beli, sama coro santen,” ujarnya menyebut makanan khas lainnya yang tidak setenar petis bumbon.

Petis bumbon ini dijual seharga 8ribu dan 10 ribu setiap butirnya. Mengenai rasa, tidak afdol jika hanya diceritakan tanpa mencicipi secara langsung. ”Ya terjangkau lah ya. Kalau masak sendiri juga belum tentu bisa seenak aslinya. Kemudian biayanya lebih mahal kalau tidak masak dalam jumlah besar sekalian,” ujar Ida penikmat makanan ini. (sga/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Akademi Pradigta Luluskan 30 Wisudawati

BATANG - Menjadi pilot projet di Jawa Tengah, Akademi Pradigta Batang, sebuah lembaga pendidikan kader perempuan miskin, disabilitas dan kelompok marjinal pedesaan, meluluskan 30 wisudawati. Bertempat...

Brother Fokus Bidik Market Corporate

SEMARANG – Brother kini fokus untuk meningkatkan penjualan printer dengan membidik market corporate. Ppasar corporate di Jawa Tengah dianggap masih sangat potensial. Presiden Direktur PT...

Mirna Promosikan Kendal di Hadapan 40 Duta Besar Dunia

JAKARTA — Bupati Kendal, Mirna Annisa mempresentasikan potensi dan kekayaan alam wilayah Kendal di hadapan duta besar, diplomat dan pengusaha yang berasal dari berbagai belahan...

Tangan Melepuh Gara-Gara Bass

MENEKUNI dunia musik bukanlah hal baru bagi Zulia Fitriani. Gadis yang genap berusia 17 tahun ini telah bergelut di dunia musik sejak kelas 2...

Bawaslu Perlu Transformasi

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI Ida Budhiati menyampaikan disertasi miliknya yang berjudul Rekonstruksi Politik Hukum Penyelenggara Pemilihan Umum di...

Ukur Ketinggian Air

PETUGAS mengukur ketinggian air dengan alat Topcon di drainase Kaligawe, Semarang, Jumat (24/3). Pengukuran tersebut untuk mengetahui penurunan permukaan daratan dan ketinggian permukaan air....